Oleh: atep t hadiwa js | September 30, 2011

ATMOSFIR SENI YANG PERLU DITIRU

(Pagelaran Wayang Golek Ajén dalam rangka Hari Jadi ke-513 Kabupaten Kuningan, Jabar)
oleh : Atep T. Hadiwa

Alun-Alun Pandapa Palamarta Kabupaten Kuningan, komplek Stadion Olahraga Mashud Wisnusaputra menjadi saksi para seniman, budayawan, tokoh pemerintahan baik pusat maupun daerah, pemerhati seni dan budaya, serta masyarakat kota Kuningan pada umumnya, khususnya generasi muda pecinta seni-budaya, atas suatu asumsi bahwa salah satu karya adiluhung seni “Wayang Golek” Jawa barat yang hampir tidak mendapat tempat dan cenderung ditinggalkan masyarakat pemiliknya ternyata tercerahkan dengan ‘geliat’ yang begitu nyata melalui Pagelaran Wayang Golek Ajén Parwa Pujangga dengan dalang Ki Wawan Ajén.

Hal yang sangat menggembirakan dan sangat mencerahkan dari pagelaran tersebut, di antaranya bahwa pagelaran tersebut merupakan hasil kerja sama bahu-membahu antara berbagai pihak. Mengapa demikian, karena dengan suatu kesamaan pemahaman dan pemaknaan salah satu program pemerintah melalui Kemenbudpar RI bersama dengan Pemkab Kuningan, didukung oleh berbagai pihak yang pada saat itu hadir seperti ; pangersa Sultan Anom Cirebon, wakil rakyat dari DPR RI Bapak Dedi Gumelar, tokoh Pasundan Bapak Prof. Dr. H. Ahman Sya, tokoh pedalangan Kuningan Bapak Jojo Hamzah, para pemerhati dan tokoh seni-budaya Kuningan, para dalang berbagai angkatan lingkungan PEPADI Kuningan, para dalang dari wilayah Ciamis dan Tasikmalaya, serta segenap warga Kota Kuningan yang menyaksikan pagelaran pada saat itu.

Sabtu 24 September 2011 mulai pukul 20.00 WIB malam sampai dengan pukul 03.00 WIB dini hari ki dalang Wawan Ajén mengemas pagelaran dengan mengupas lakon “Gatutkaca Jumeneng Raja”. Selepas upacara bubuka yang diisi oleh sambutan Dirjen Kemenbudpar RI, dan sambutan Bupati Kuningan, ki dalang Wawan Ajén memulai kisah dengan sedikit berbeda dari pola pagelaran wayang golek pada umumnya, hal tersebut ternyata merupakan ‘ciri mandiri’ dalam setiap pagelaran Wayang Ajén. Menurutnya, kemasan Wayang Ajén merupakan alternatif yang disuguhkan dalam bentuk kreativitas mengemas lakon dengan prinsif ‘miindung ka waktu mibapa ka jaman’ tanpa meninggalkan norma-norma ketradisionalan, sehingga berbagai pesan termasuk pesan moral tetap tersampaikan kepada para penikmatnya.

Kreativitas mengemas lakon sebagai upaya mengembangkan pertunjukan seni wayang golék dalam pagelaran Wayang Ajén terlihat mulai dari penamaan yang mandiri. Istilah ‘Wayang Ajén’ mengandung makna sebagai upaya meningkatkan derajat seni dan seniman, tiada lain sebagai ajakan dan harapan untuk saling menghargai ; ajén-inajén ; bahwa seni tradisional pun harus mendapat tempat terhormat ; menasional ; mendunia, para peseni tradisional pun harus menikmati peningkatan kesejahteraan. Tak ubahnya seperti sebuah konser, tata panggung, tata dekorasi, tata lampu, tata audio, serta tata ornamen lainnya berupaya mengejar standar konser. Dengan demikian diharapkan meninggalkan kesan lain pada penikmatnya, sehingga memberikan andil untuk mempertahankan bahkan meningkatkan cita-rasa seni ‘Wayang Golék’ sebagai karya seni adiluhung di Tatar Pasundan ini.

Di sisi lain, konsep cerita yang disuguhkan juga sedikit dikemas dengan menambahkan bentuk sajak-sajak sunda masa kini yang diselipkan misalnya ; pada kakawén, nyandra, murwa, atau pocapan dalang. Gending yang tidak membosankan juga menjadi hasil pengembangan dengan racikan tata gending yang variatif. Sedangkan kemasan alur pertunjukan memperlihatkan adanya kesatupaduan antara tokoh cerita wayang (dalam lakon) dengan keperluan lain untuk bersosialisai tentang pesan kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa misalnya dengan ; dialog interaktif, sajian tarian, dan lawakan (humor).

Secara umum dapat disimpulkan, “Wayang Ajén” merupakan alternatif pertunjukan seni wayang golek untuk menjawab sebagian tantangan terpinggirkannya seni adiluhung tersebut tanpa meninggalkan unsur tradisional yang menjadi cikal-bakalnya. Barangkali sudah saatnya, kita para insan seni dan budaya untuk tidak alergi terhadap suatu kreativitas, selama kreativitas tersebut tidak bertentangan dengan aturan, norma, atau apapun namanya yang menjadi dasar tentang sesuatu, dalam hal ini seni dan budaya.

Pagelaran Wayang Golek Ajén dalam rangka Hari Jadi ke-513 Kabupaten Kuningan beberapa waktu yang lalu menggelar lakon “Gatutkaca Jumeneng Raja”, design kisah : Ki Wawan Ajén, tim naskah : Hans B., dan Atep Hadiwa, lingkung seni Parwa Pujangga Kota Bekasi. Kota Kuningan memang benar-benar memiliki geliat atmosfir seni yang sangat mendukung untuk sebuah kreativitas.


Responses

  1. selamat atas sukses kreatifnya ki dulur salembur sapamageuh baraya..
    jeurrr geura tanjeurkeun budaya sunda nu teu mawa paburantak watak baraya..
    ulah ragu ulang bingu lamun uarang boga patekadan..
    asal diwengku ku jalur bener tur jujur…
    tetekon ulah di kantun..norma kade ulah nya hilap..
    wilujeng sukses..

    leres pisan kang, nuhun kana pangrojongna

    • Wilujeng kang sukses ya, kok ga diajak sih abdi, ngiringan ah

      • hatur nuhun kang, iraha atuh nya di sarakan ciamis yeuh…. bilih bade…?

  2. ah urang mah ari jauh ti lembur , sok katinggaleun berita…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: