Oleh: atep t hadiwa js | September 21, 2010

RAMADHAN DI SUMPREK CEKO, BAGI GUN…

(oleh : Atep T. Hadiwa)

Aku masih termenung-menung. Sesekali mengerutkan dahi, menggaruk-garuk bagian belakang kepala, menatap langit-langit kamar, lalu tersenyum. Entah apa yang kupikirkan, sekalipun saat itu aku benar-benar menguras pikiranku untuk menuliskan sesuatu. Aku hanya bisa melihat-lihat album poto bersama teman-teman lamaku. Beruntung segelas kopi ‘indocafe’ masih menemaniku malam ini, padahal baru saja aku melepas dahaga menyantap buka puasa bersama keluargaku. Ya… limabelas hari sudah bulan penuh berkah tahun ini terlewati. Tentunya seluruh umat muslim selalu menunaikan ibadah shaum pada bulan Ramadhan seperti ini dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Mengapa tidak? Karena bulan Ramadhan merupakan suatu ujian dan kesempatan bagi umat muslim untuk menyongsong kelahirannya kembali menjadi sosok yang bersih dan suci. Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan, bulan penuh maghfiroh, sebagai kawahcandradimuka untuk menyucikan diri menebus segala khilap, salah, dan dosa.

Tak hentinya aku membolak-balik sebuah tulisan berbentuk puisi yang kuperoleh dari sahabat dekatku. Tulisan itu dia kirimkan lewat es-em-es kemarin malam. Lalu aku bayangkan, sedang apa dia sekarang? Ah… menurutku dia sedang bahagia. Kubayangkan dia sedang menikmati suasana kota yang berbeda dengan kota-kota di negeri sendiri. Ya… kota-kota di negeri sendiri kan seperti ini, barangkali jelas akan berbeda dengan negeri orang. Menurutku dia sangat beruntung, setelah sekian lama kami berpisah dan masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Padahal sekian puluh tahun yang lalu kami pernah punya keinginan dan cita-cita yang sama, akan tetapi kenyataan berkehendak lain. Aku kini masih tetap saja berada di tanah kelahiran. Namun aku bersyukur masih mendapat petunjuk untuk tetap mengabdi, menjalankan amanat untuk orang banyak.
“Kapan cep Gun sahabatmu itu pulang dari Ceko Di? Apa dia mau lebaran di sana?”
Ibu mengagetkanku, sambil menengok dan menatapku yang masih asyik duduk di depan meja kecil di kamarku. Ibu memang selalu memanggil sahabatku itu dengan cep Gun, padahal nama sebenarnya Gunawan.
“Entahlah bu…, itu yang Hadi pikirkan. Tapi kayaknya tiga hari menjelang lebaran pasti dia pulang.”
Jawabku sambil menghabiskan sisa kopi di gelas yang hanya tinggal setengahnya.
“Ya sudah, kalau sudah ngantuk cepat tidur sana istirahat, nanti kesiangan kamu makan sahur!”
“Iya bu…”

Begitu ibu meninggalkan kamarku, aku kembali membaca tulisan Gun, sahabatku. Sengaja tulisan yang dikirimkan sahabatku lewat es-em-es itu aku simpan di komputerku. Tulisan berbentuk sajak itu ditulisnya dalam bahasa Sunda :

NGALIMBA DI PRAHA
(wawan gunawan @jen)

Batin jeung diri nalangsa disasaak mangsa,
Lambaran cipruk ku cimata,
Bet kalana ngarumas,
Dalah dikumaha puasa ayeuna bobor karahayuan alatan nyorang mangsa ngacacang di Praha.

Gusti neda hampura kuring bet ngalalaworakeun diri balai ngotoran beresihna Ramadhan taun ieu,
Hampura Gusti…
Kuring rumasa bangkelang,
Teu kawawa cimata nyurucud sabada narina beja ti lembur “jam sabaraha di Praha, ari bapana parantos tuang sahur?”
Karunya barudak lulungu bari gigisik sabada indung budak ngalimba,
Pajar bapa keur usaha.

Aya rasa bangga,
Aya kalana rasa guligah,
Kuring hayang gancang mulang ka sarakan majar bisa ngariung sahur taun ieu jeung anak tur pamajikan nu teu weleh satia nganti.
Hampura, geuning raga nyangsaya na waruga dosa//
(Sumprek Ceko, 22082010)

Tulisan sahabatku itu tetap saja membuatku tidak mengerti. Aku tahu sejak sebelum masuk bulan Ramadhan dia mengabariku akan pergi ke Cekoslowakia untuk mengikuti pesta seni rakyat dunia selama beberapa hari. Aku bangga mendengarnya, karena dia yang dulu sewaktu kecil menjadi sahabat dekatku itu kini sering menjadi utusan, mewakili negeri ini untuk memperkenalkan seni dan budaya negara sendiri di hadapan masyarakat dunia. Ah… bersyukur sekali, tak sia-sia dia menghabiskan waktu sebelumnya untuk belajar banyak mendalami bidangnya yang sangat dia minati. Berbeda dengan masa-masa lalu sewaktu kecil ketika kami bersama-sama. Sekitar usia duabelas sampai limabelas tahunan aku dan Gun selalu bersama-sama karena punya kegemaran yang sama. Kami sangat menyenangi seni, suka menggambar, bermain musik tradisional, dan Gun sejak itu sudah mahir memainkan ‘wayang golek’, maka tak heran jika sekarang pun dia sering ke negara lain untuk memperkenalkan ‘wayang golek’.

Emh… aku masih terus saja termenung. Memang kehidupan ini banyak memberikan pelajaran di samping pengalaman, dan semua itu akan memberikan manfaat bagi kehidupan selanjutnya. Sekalipun sahabatku Gun sedang berbahagia dan bangga karena prestasinya di bidang seni dan budaya, apalagi kini dia sedang mengunjungi negara lain yang tentunya dia akan memperlihatkan kepiawaiannya dalam pagelaran seni wayang. Namun tulisannya itu, membuatku tak kuasa meneteskan air mata. Berhari-hari di negeri orang membuatnya terpaksa tak bisa menikmati bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan sempurna. Jauh dari anak dan istri, terasa sangat menyayat hatinya. Terbayang oleh Gun saat makan sahur bersama anaknya, berbuka puasa bersama, bercengkrama ketika menunggu saat-saat buka puasa. Tulisan Gun juga telah menyadarkan dirinya, bahwa memang bulan Ramadhan adalah kesempatan baginya untuk mengingatkan dan membersihkan diri dari berbagai noda dan dosa. Sekalipun Gun sedang menjalankan tugasnya di negeri orang yang seharusnya dia merasa bahagia, karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu. Namun, kenyataan itulah yang membuatnya rindu pada anak, istri, dan tanah kelahirannya. Bahkan Gun sangat merindukan Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah dan maghfiroh. Ya… tak ada seorang pun yang terlepas dari perbuatan dosa, Gun sahabatku telah menemukan makna kehidupan yang lain. Gun sahabatku telah mengingatkanku dan orang lain tentang indahnya bulan Ramadhan. Ya… kami rindu Ramadhan.

“Di… sahur Di! Cepat ini sudah disiapkan makan sahurnya…!” Seru ibuku dari dapur.

Oh, ternyata sudah hampir pukul setengah empat dini hari. Aku bergegas ke dapur untuk makan sahur. Tetapi aku masih teringat tulisan Gun, aku bayangkan dia makan sahur bersama keluarganya. Ah… semoga saja Gun masih sempat makan sahur bersama anak istrinya di akhir-akhir bulan Ramadhan ini.


Responses

  1. Kisahnya menghanyutkan dan melenakan, sebuah skill yang menarik, dapat ,membawa suasana secara runtut.

    Terima kasih silaturahminya, ya begitulah ceritanya. Salam kenal.

  2. aduh mani sae kang, Romadhon nu pinuh berkah, mugia janten sasih nu pinuh mahabah,wilujeng boboran siam hapuntena tina saneskanten kahilapan ti lahir tug dugi ka batin,,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: