Oleh: atep t hadiwa js | September 17, 2010

KEKUATAN RAMADHAN & INDAHNYA IDUL FITRI DALAM ‘RIUNG MUNGPULUNG’

“Riung Mungpulung Nyawang Mangsa ka Tukang”
(sebuah renungan)

Ada makna kehidupan dari suatu pertemuan yang menyiratkan bahwa perbedaan itu adalah kenyataan. Dan di antara kami yang selama kurun 25 tahun tak bertemu, juga merupakan kenyataan. Apa yang telah kami lakukan semuanya bermuara pada kenyataan masing-masing pada saat ini. Ya… sepertinya alam kami berbeda. Namun semua itu bisa menjadi kekuatan untuk mencapai kebahagiaan jika disikapi dengan penuh kedewasaan. Sebagaimana pesan sebuah syair salah seorang teman, seperti ini :

NALEK WIDADARI SUPRABA

Ceuk saha Janaka caliweura?
Pan eta mah Niwatakawaca nu hayang ngagunasika darajat wanoja,
Ceuk saha Supraba satia?
Pan loba para Batara nu wakca balaka hayang migarwa,
Supraba wanoja digjaya bet bisa meruhkeun carita Janaka pajar dirina brukbrak bisa muka lawang saketeng,
Janaka atawa Supraba caritana bisa naratas jagatraya,
Waruga nyangsaya na palataran kahyangan Indraloka nu mo bisa kadongkang,
Ceuk Niwatakawaca lantaran sawawa dina rasa cinta nu pabeda alam.

sumprek Ceko, 22/08/2010 (wawan ajen)

SIAPA BIDADARI SUPRABA

Siapa yang berkata Janaka gegabah?
Katanya Niwatakawaca berniat menggoda derajat seorang putri,
Siapa berkata Supraba setia?
Katanya semua Batara berniat memperistrinya,
Supraba seorang putri yang beruntung karena meluluhkan cerita Janaka sehingga tak ada yang menghalang-halangi membuka gapura keraton,
Janaka dan Supraba adalah cerita kehidupan yang menembus seluruh alam,
Badan akan sengsara karena tak mencapai kebahagiaan,
Karena kedewasaan dan kekuatan cinta yang berbeda kata Niwatakacawa.

(Karya Wawan Gunawan Ajen, alih bahasa oleh Atep T. Hadiwa)

Puji syukur kami ditakdirkan bersua kembali dengan beberapa orang teman lama setelah dalam kurun waktu 25 tahun tidak tahu kabar beritanya dan tidak pernah bertemu. Saat pertemuan itulah kami mencoba untuk mengenang kembali masa-masa lalu yang ketika itu kami lewati bersama, tentunya dengan penuh suka cita. Pertemuan itu tentunya sangat berharga bagi kami. Mengapa tidak? Karena dengan pertemuan itulah kami mencoba merajut kembali ikatan pertemanan dan kekerabatan yang dahulu sempat bersemi, dan kini makna pertemanan itu harus dilanjutkan dalam bentuk jalinan silaturahmi yang lebih bermakna lagi. Sekali lagi, pertemuan itu benar-benar telah membangkitkan sebagian perasaan dan jiwa kami untuk merenungkan dan memikirkannya. Harus kami sadari bahwa tanpa momen “Ramadhan & Idul Fitri” barangkali akan sangat sulit untuk merancang pertemuan seperti itu. Bagi kami, pertemuan itu jelas merupakan suatu peristiwa yang penuh dengan makna kehidupan, untuk mencoba menyadarkan diri, merenungi jalan hidup yang selama ini dijalani, dan memupuk semangat hidup agar menapaki suatu keberhasilan mencapai cita-cita.

Mengapa kami katakan demikian?
Harus kita sadari bahwa beban dan tantangan hidup pada masa-masa kini semakin kompleks, sedangkan kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan ini jelas memerlukan jaminan keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika hal itu kami kaitkan dengan pertemuan yang kami alami, kami menjadi tahu tentang siapa dan bagaimana kami saat ini dibanding dengan 25 tahun yang silam. Akhirnya terpikir oleh kami, apa yang dapat kami perbuat untuk sesama, atau paling tidak untuk teman-teman lama kami. Maka, misi kemanusiaanlah yang harus menjadi komitmen bersama dari pertemuan itu untuk membangkitkan semangat hidup sehingga bisa mengatasi beban dan tantangan hidup di masa datang. Kami bangga kepada teman-teman yang sudah berhasil, tetapi kami bersedih ketika menyaksikan beberapa teman yang mengalami masalah dalam kehidupannya. Oleh karena itu, mari kita ketuk diri masing-masing untuk kembali menjalin silaturahmi, mewujudkan cita-cita bersama dalam memberikan manfaat untuk sesama, walaupun kita berada dalam tempat yang berjauhan dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mari, saling melengkapi dengan mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita.

Barangkali teman-teman berpikir bahwa pertemuan itu sederhana saja, namun bagi saya tidak. Sekilas saya pikirkan itu, karena adanya suatu “Kekuatan Ramadhan dan Indahnya Idul Fitri”. Semuanya itu adalah anugrah yang Maha Kuasa yang harus kita maknai, dan tidak mustahil jika pertemuan itu adalah merupakan suatu media untuk bangkit. Ya… bangkit agar kita dapat hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: