Oleh: atep t hadiwa js | November 3, 2008

BAGASPATI GUGUR (cerita wayang)

Di kahayangan Jonggirisalaka ada tiga ksatria bersaudara yang sakti mandraguna. Mereka juga pelindung dan panglima perang yang tangguh. Tiga ksatria itu yang tertua bernama Angganapati, kedua Angganaputra dan yang ketiga Angganamurti. Ketiga bersaudara itu selalu berhasil mengamankan kahayangan Marcapada dan Suralaya dari gangguan para perusuh.

Bathara Guru sangat senang dan bangga dengan ketiga ksatria itu sehingga ingin memberikan hadiah kepada Angganaputra.
“Angganaputra, aku bangga atas kemampuanmu yang telah berhasil menjaga keamanan kahyangan Jonggirisalaka ini. Untuk itu aku akan memberikan hadiah kepadamu. Pilihlah salah satu bidadari yang sesuai dengan hatimu.”
Angganaputra memperhatikan semua bidadari yang hadir mengiringi Bathara Guru. Semuanya tampak cantik dan tanpa cacat, tetapi hanya satu bidadari yang menjadi pilihannya.
“Terima kasih, atas hadiah yang Bathara Guru berikan. Semua bidadari ini terlihat cantik, tetapi bidadari yang menjadi pilihan hamba adalah Dewi Uma.”
Mendengar jawaban Angganaputra, membuat Bathara Guru kaget karena yang menjadi pilihan Angganaputra adalah Dewi Uma, isteri Bathara Guru sendiri.
“Angganaputra, pilihlah bidadari lain karena Dewi Uma adalah isteriku sendiri.”
Namun, Angganaputra terlanjur memilih Dewi Uma. la tidak ingin bidadari lain.
“Bathara Guru harus menepati janji yang sudah diucapkan sendiri,” kata Angganaputra.
Bathara Guru menjadi murka melihat sikap Angganaputra yang keras kepala, maka dengan kesaktiannya, Bathara Guru bersabda;
“Hei… Angganaputra, engkau sekarang menjadi raksasa!”
Ucapan sakti itu seketika merubah ujud Angganaputra menjadi raksasa. Anggana¬murti menjadi marah melihat kakaknya berubah ujud menjadi raksasa. Dia segera menyerang Bathara Guru. Sabda Bathara Guru kini beralih kepada Angganamurti.
“Angganamurti, engkau berubah men¬jadi burung Cakakak!”
Setelah keduanya berubah ujud, mereka meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Keduanya minta supaya dikembalikan ke ujudnya semula.
“Baiklah, permintaanmu dapat terkabul, tetapi syaratnya kalian harus berkelakuan baik dan banyak amal.
“Namun, bagaimana dengan ujud saya yang menjadi raksasa ini?”
“Angganaputra, pergi dan bertapalah kamu ke gunung Argabelah! Namamu kini kuganti menjadi Begawan Bagaspati.”
“Angganamurti, sekarang kau menjadi burung penghias di kahyangan Suralaya.”

Beberapa puluh tahun kemudian, di pertapaan Argabelah Begawan Bagaspati tampak sedang bingung karena memikirkan permintaan puterinya, Dewi Pujawati yang cantik dan berwujud manusia biasa. Dewi Pujawati telah menceritakan mimpinya.
“Ayah, semalam Pujawati mimpi bertemu satria rupawan. Aku ingin kenal satria itu, Ayah,” kata Dewi Pujawati.
“Siapa nama satria itu, Pujawati?”
“Saya tidak tahu, Ayah.”
Begawan Bagaspati yang sakti itu mendapat firasat bahwa satria yang ada dalam mimpi putrinya itu saat ini tengah mengembara di gunung Argabelah.
Bagaspati kemudian menjelajahi hutan belantara untuk mencari satria bagus itu. Walaupun Begawan Bagaspati berujud raksasa, tetapi sikap dan tata kramanya sangat halus. Setelah bertemu dengan satria yang dimaksud putrinya, Begawan Bagaspati mempersilahkan satria yang, bernama Narasoma itu untuk singgah di Padepokan Argabelah.
“Raden, semoga Raden sudi singgah di Padepokan saya untuk beristirahat.”
“Terima kasih, Begawan Bagaspati. Saya menjadi heran dengan sikap Begawan yang sopan, tidak seperti lazimnya raksasa.”
Setelah Narasoma duduk di balai, dari dalam padepokan muncul puteri cantik yang andaluwes. Tingkah laku puteri itu sangat menarik hati Narasoma.
“Anakmas Narasoma, perkenalkan ini adalah puteriku yang bernama Pujawati.”
Melihat kehadiran Dewi Pujawati itu membuat mata Narasoma seakan tidak mau lepas untuk mengagumi. Dewi Pujawati ternyata sangat berbeda dengan Begawan Bagaspati yang berujud raksasa.
“Raden Narasoma, perkenalkan saya adalah Pujawati, puteri Begawan Bagaspati.”
“Pujawati, betulkah pria ini yang ada dalam impianmu?” ujar sang Begawan.
“Benar, Ayah. Satria inilah yang ada dalam mimpi Pujawati.”
Begawan Bagaspati orang yang sakti itu maklum dengan kedua remaja yang saling tertarik itu. Keduanya kemudian dinikahkannya.

Begawan Bagaspati sangat sayang pada menantunya. Semua ilmu kesaktian yang dimiliki diajarkan kepada Narasoma, mem¬buat Narasoma kini memiliki kesaktian yang hampir sebanding dengan Bagaspati sendiri. Bedanya, sang Begawan masih memiliki satu ilmu ampuh dan senjata yang bernama Aji Candabhirawa. Narasoma ingin memiliki senjata itu melalui akalnya yang licik.

Pada suatu hari, Narasoma dan Pujawati daiang menghadap Begawan Bagaspati dan menceritakan mimpinya semalam.
“Begawan, semalam saya mimpi melihat sekar pundak putih. Saya ingin memetik sekar itu, tetapi sekar itu dijaga harimau putih.”
“Apakah harimau itu bersikap galak atau malah bersikap bersahabat?”
“Harimau itu bersahabat dengan saya sehingga saya tidak tega untuk membunuhnya, tetapi saya menginginkan sekar itu.”
Begawan Bagaspati segera tanggap apa yang menjadi kemauan menantunya itu.
“Baiklah Narasoma, saya mengerti apa yang menjadi keinginanmu. Aku rela memberikannya, namun syaratnya, kamu tidak boleh kawin dengan wanita lain kecuali dengan Pujawati.”
“Aku sanggup dan berjanji.”
Setelah mendengar janji dari Narasoma, Bagaspati memberikan Aji Candabhirawa. Begawan Bagaspati juga memberi petunjuk di mana rahasia kematiannya.
Narasoma menarik Aji Candabhirawa dari ikat pinggang Bagaspati dan ditusukkan ke lambungnya. Bagaspati pun gugur dan ditangisi oleh Pujawati.

Narasoma kemudian mengajak isterinya ke kerajaan Manduru untuk ikut sayembara adu ilmu kesaktian. Ketika Narasoma memasuki gelanggang sayembara terlihat oleh Puteri Dewi Kunti. Puteri itu kemudian mengalungkan kembang ronce ke leher Narasoma. Narasoma kaget atas pilihan Dewi Kunti itu. la teringat sumpahnya pada Bagaspati, namun Narasoma telah melupakan sumpahnya itu. la segera membawa Dewi Kunti ke luar dari gelanggang pertandingan. Tindakan Narasona itu segera diingatkan oleh Pujawati isterinya.
“Kang mas, engkau lupa akan janjimu pada ayah Begawan Bagaspati.”
“Ini bukan kemauanku Pujawati, tetapi kemauan Dewi Kunti sendiri.”
“Sikap Kangmas kini berubah sombong, ingat janji Kangmas dahulu!”
Merasa dapat memenangkan sayembara menyebabkan Narasoma semakin pongah. Dia sering memamerkan kesaktiannya.

Pada suatu hari, datanglah satria dari Astina yang bernama Pandudewanata. Satria Astina itu menjadi muak melihat Narasoma yang sombong. Karena belum kenal, Narasoma sudah berani menantang berkelahi. Pandudewanata pun meladeni tantangan itu, maka terjadilah pertarungan. Narasoma kalah, Pandudewanata berhasil menekan Narasoma masuk ke bumi sampai sebatas dada.
“Aku mengaku kalah, Raden. Dewi Kunti dan Dewi Madrim, aku serahkan kepada Raden.”
“Baiklah, aku terima.”
Setelah persoalan dengan Pandudewanata selesai, Narasoma kemudian membawa Pujawati ke kerajaan Mandaraka untuk menghadap kepada ayahnya, yaitu Raja Mandarapati.
“Apakah ini isterimu yang bernama Dewi Pujawati itu, Anakku?” tanya sang ayah.
“Ya, Ayah. Inilah puteri dari Begawan Bagaspati.”
“Bagaimana kalau nama Pujawati Ayah ganti menjadi Dewi Setyawati?”
Sejak saat itu Narasoma diberi kepercayaan kepada Raja Mandarpati untuk mengendalikan kerajaan Mandaraka.
(oleh atep t. hadiwa, dari berbagai sumber)


Responses

  1. mantab.. pak guru.. nulis terus, saya yakin nanti akan ada apresiasi kepada guru-guru yang memiliki blog. menurut saya memiliki blog jauh lebih efektif daripada sekedar mengikuti pelatihan-pelatihan yang pelatihnya kadang-kadang hanya untuk memenuhi proyek

  2. kami tunggu selalu cerita2 wayang lainnya Pak Guru.

  3. terima kasih atas ceritanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: