Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 31, 2008

“SETELAH MENGUNGSI …” (dalam Perempuan Bergaun Putih, Sawali Tuhusetya), kreativitas siswa MTs As Sakinah

Pada 16 September 2008, tanpa diduga saya mendapat kiriman sebuah buku kumcer berjudul ‘Perempuan Bergaun Putih’ yang ditulis oleh sahabat saya yang sama-sama berprofesi sebagai guru, Sawali Tuhusetya. Kumcer cetakan pertama itu, diterbitkan BUKUPOP bekerjasama dengan Maharini Press pada Mei 2008, terdiri atas 20 judul cerita, setebal 164 halaman. Pak Sawali membubuhkan tulisan tangan dan tandatangannya pada halaman judul kumcer itu. Tulisan tangan itu tiada lain, yakni “hanya sebuah kesaksian terhadap nasib rakyat kecil yang tersingkir dan disingkirkan”. Kalimat itu saya pandang sebagai kalimat kunci untuk membantu menafsirkan makna dan tema cerita dari setiap cerita di dalam kumcer itu. Paling tidak, pak Sawali telah berusaha menyampaikan pesan yang diilhami oleh berbagai peristiwa yang disaksikan dan dirasakannya sebagai suatu kesaksian. Saya memandang pula, adanya penggunaan kata-kata sebagai judul setiap cerita yang sangat khas. Itu pula yang menjadikan salah satu kekuatan sang pengarang untuk mewarnai kesan cerita, yang memang berawal dari kesaksian dalam berbagai peristiwa. Namun tak harus demikian, karena setiap pembaca akan memiliki tafsiran makna yang berbeda-beda. Tentunya setiap cerita bukan hanya untuk dinikmati saja, tetapi juga akan menimbulkan manfaat dan pengaruh lain kepada setiap pembacanya. Pembaca akan merasakan, memahami, menerima, atau memikirkan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita itu.

Paparan ini tidak saya maksudkan sebagai resensi terhadap kumcer ‘Perempuan Bergaun Putih’, atau mencoba-coba menilainya. Namun, hanya sebagai pengantar saja karena saya telah menggunakan kumcer ini sebagai materi pembelajaran sastra pada siswa di sekolah saya. Maka, dengan penuh hormat saya mohon pak Sawali mengizinkan dan tak merasa berat hati.

Dalam pembelajaran sastra di kelas 9 MTs As Sakinah, salah satu cerita dari kumcer ini, yakni ‘Perempuan Bergaun Putih’, saya jadikan sebagai materi sastra untuk diapresiasi siswa. Setelah mengapresiasi, selanjutnya para siswa diminta untuk mencoba berimajinasi dengan membuat lanjutan cerita. Tidak diberikan batasan apakah menambah atau mengakhiri cerita, namun saya hanya mencoba meminta mereka menyusun beberapa paragraf cerita yang disesuaikan dengan cerita yang telah dibacanya. Dari sejumlah cerita yang disusun para siswa itu, saya sengaja menentukan beberapa di antaranya untuk diposting dalam paparan ini. Hasil kreativitas mereka itu, seperti berikut ini.

1) Penulis : Mariam, kelas 9a MTs As Sakinah

Dengan penuh perasaan takut dan khawatir kini semua warga melewati hari-harinya di tempat penampungan. Mereka semua berharap, keadaan kampung mereka bisa kembali normal seperti semula. Namun, walaupun begitu, mereka selalu berusaha untuk tetap tegar dan semangat dalam menjalankan kehidupannya. Semua itu mereka lakukan demi kelangsungan hidup keluarga mereka, terutama anak-anak mereka yang masih mempunyai masa depan yang masih panjang.
Sekelompok perempuan bergaun putih mengajak warga untuk bersama-sama membasmi burung gagak yang telah memaksa warga utnuk meninggalkan kampung mereka. Pada awalnya warga kampung merasa ragu. Namun, setelah beberapa saat mereka memikirkan hal itu, pada akhirnya semua warga menyetujuinya dan sepakat akan melaksanakannya pada malam itu juga.
Ketika sore hari tiba, warga kampung terlihat sibuk mempersiapkan peralatan yang akan mereka gunakan untuk membasmi burung gagak. Ada yang membuat ketapel, ada yang membuat panah, ada yang menyiapkan jaring, dan ada pula yang memasang jebakan. Setelah selesai melaksanakan sholat isya, semua warga yang akan ikut membasmi burung gagak berkumpul dan bersiap-siap untuk bergegas pergi ke kampung mereka. Sebelum mereka berangkat, mereka berdoa bersama terlebih dahulu.
Pada akhirnya burung gagak pun bisa dibasmi sampai tak tersisa satu pun. Semua warga bisa kembali menempati rumah mereka masing-masing. Semua warga sangat berterima kasih kepada sekelompok perempuan bergaun putih. Di balik musibah yang telah terjadi, warga mendapatkan pelajaran selama tinggal di pengungsian, yaitu betapa indahnya arti kebersamaan, saling membantu, dan saling berbagi, walaupun mereka sedang berada dalam keadaan yang sulit. Warga kampung tak merasa menyesal sedikit pun atas musibah yang telah terjadi. Mereka menganggap bahwa semua itu merupakan sebuah teguran dari yang maha kuasa, supaya mereka lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dan kini, semua warga pun hidup bertetangga dengan rukun, damai, dan saling membantu satu sama lain.***

2) Penulis : Ela Ruslia, kelas 9b MTs As Sakinah

Di tempat itu, orang-orang kampung terlihat sedih karena mereka kehilangan harta bendanya, keluarganya, dan kehidupannya yang dulu. Tetapi di tempat itu juga, terlihat kebersamaan karena mereka menerimanya dengan penuh kesabaran dan tawakal. Tetesan air mata selalu mereka jatuhkan setiap harinya. Jeritan, tangisan, selalu hadir di setiap harinya dan menusuk hati setiap orang. Dan di tempat itu juga mereka merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka berkata, “kita harus sabar, sabar, dan sabar”.
Siang maupun malam, perempuan bergaun putih selalu menengadahkan tangannya dengan penuh keikhlasan, dan jeritan hati yang meminta pertolongan dengan kesabaran hati. Mereka yakin, bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan kepada manusia di luar kemampuannya. Hal itu membuat mereka menjadi terus bersemangat dan menjalankan kehidupannya dengan penuh senyuman, meskipun mereka berada di tengah-tengah kesengsaraan.
Siang berganti malam, malam berganti siang, hari demi hari pun telah dijalani. Musibah dan cobaan telah dilalui dengan penuh kesabaran dan berserah diri. Dibalik musibah itu, mereka mendapatkan hikmah dan mereka juga telah belajar sabar di tengah-tengah kesengsaraan. Dengan musibah itu, mereka semakin yakin bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan kepada manusia di luar kemampuannya, buktinya mereka bisa melewati semua musibah yang menimpa mereka, dan mereka merasa senang karena telah berhasil menghadapi ujian yang diberikan-Nya.
Setelah kampung halaman mereka membaik, mereka bergotong-royong memperbaiki tempat tinggalnya dan membuat kampung itu menjadi lebih hidup dengan dihiasi oleh senyuman dan kasih sayang, sehingga bisa tercipta kerukunan.***

3) Penulis : Irfan Tsani S., kelas 9a MTs As Sakinah

Warga mematuhi tetua kampung itu, dan setiap harinya warga beriring-iringan sambil membawa barang-barang dan piaraannya masing-masing menuju ke penampungan utnuk menghindari perempuan bergaun putih yang berada di kampung itu. Karena takutnya, salah seorang warga tak mau kembali ke kampungnya, takut sekelompok perempuan bergaun putih datang lagi, dan lembah kematian terus menguntit merenggut jiwa mereka.
Setelah sekian lama mereka tinggal di penampungan, merasakan tak memadai lagi tempat yang mereka gunakan, dan sudah mulai jenuh. Tetua kampung mengajak warga untuk kembali ke kampung mereka, karena merasa kasihan melihat banyaknya warga yang mulai jatuh sakit. Dengan merasa takut dan jiwa terganggu, mereka mencoba melangkah pulang. Lamban ceritanya, tak terasa sudah satu minggu perpindahan kembalinya dari penampungan, warga merasa tenang karena tidak munculnya lagi perempuan bergaun putih.
Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, telah mereka lewati dengan rasa tenang, tentram, dan damai. Tetapi sekelompok perempuan bergaun putih itu datang lagi ke kampung mereka. Warga mulai lari kocar-kacir, ke sana ke mari, untuk menyelematkan dirinya. Dengan rasa penasaran, tetua kampung mencoba menghampiri perempuan bergaun putih itu, ternyata tak disangka-sangka yang dilihat itu… itu… itu… itu?
Itu sekelompok ibu-ibu majlis ta’lim dari mesjid kampung tetangga yang mengelilingi kampung-kampung sekitarnya, yang bertujuan untuk berdoa supaya kampung-kampung sekitar terhindar dari bencana.***


Responses

  1. luar biasa, kang atep. dimanfaatkan sebagai salah satu bahan ajar buat siswa, bagi saya meruoaka sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya. justru saya malah sangat senang dan bangga. saya justru berharap, rekan2 sejawat yang kebetulan memiliki buku ini bisa menjadikannya sebagai bahan apresiasi utk para siswa didik. membaca sekilas, kreativitas murid2 kang atep, wow, sungguh, mereka memiliki talenta menulis karena dukungan imajinasi yang liar. jika terus dibimbing, kelas mereka pasti bisa menjadi penulis cerpen yang hebat. terima kasih sekali apresiasinya yang luar biasa ini, kang atep! salam kreatif!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: