Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 1, 2008

MENYOAL ‘SIKAP’ PASCA IDUL FITRI

Sebulan penuh seluruh muslim dan muslimat melaksanakan ibadah dalam bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Ritual ibadah utamanya adalah berpuasa dengan mengatur pola dan waktu makan serta minum. Sementara aktivitas ibadah tambahan sepanjang siang sampai malam pada bulan itu, tetap menjanjikan pencapaian pahala ibadah yang tak terbandingkan dan selalu menjadi harapan setiap yang melaksanakannya. Sebagaimana ritual ibadah-ibadah manusia terhadap sang kholiq lainnya, berpuasa di bulan Ramadhan pun menggariskan dua fungsi yang saling bertemali. Pertama, secara horizontal setiap individu harus memahami nilai absolut yang tak dapat diukur dengan ketajaman logika, keluasan wawasan, kepandaian berpikir, atau ketinggian penguasaan ilmu. Namun, dalam tataran horizontal ini setiap manusia akan bertanggungjawab langsung kepada Alloh Subhanahuwataala. Jawaban terhadap nilai ibadahnya dengan sang Kholiq dalam konteks ini akan dirasakan sendiri oleh setiap pribadi,bahkan dalam kolbu yang paling dalamnya manusia tak akan pernah membohongi dirinya sendiri. Kualitas ibadah seperti apa yang telah dilakukannya? Sanggupkah menggapai titik maksimal sehingga mencapai fitrah dalam satu hari yang fitri? Dalam hal ini sesungguhnya manusia dalam keadaan diuntungkan, karena nilai absolut tadi telah diarahkan secara jelas dalam Agama Islam. Intinya tataran horizontal dalam menjalankan ibadah ini, manusia akan mengomunikasikannya langsung dengan sang Kholiq.

Kedua, secara vertikal setiap individu akan mendapat pembelajaran bagaimana agar hidup menjadi mudah. Mengapa demikian? Karena dalam hidup dan kehidupan, sedetik pun setiap individu tak akan terlepas dari individu lainnya. Artinya sebagai mahluk sosial, interaksi dengan sesama mahluk lainnya akan membentuk tiga aspek penting, yaitu moral, etika, dan ahlak. Yang pada akhirnya kualitas ketiga aspek itu akan sangat mewarnai keberhasilan hidup baik secara individu, maupun secara kolektif. Fungsi tataran vertikal inilah yang sebenarnya menjadi pelatihan selama Ramadhan, agar manusia memiliki kualitas moral, etika, dan ahlak sesuai dengan nilai-nilai agama pada pascaramadhan. Apa sebenarnya pembelajaran manusia dari pelaksanaan ibadah bulan Ramadhan itu? Yang paling utama adalah hati, pikiran, dan perasaanlah yang harus menguasai dan mengendalikan hawa nafsu. Betapa bukan, karena pembelajaran seperti mengatur pola dan waktu makan serta minum saja, jelas memerlukan keberhasilan setiap individu untuk mengendalikan hawa nafsu. Maka, sikap sabar dalam hal ini akan terlatih. Hal itu hanyalah contoh kecil saja, lebih mendalam lagi pembahasannya akan menyentuh setiap sendi kehidupan mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga /organisasi swasta atau pemerintah, berbagai kalangan; petani, buruh, karyawan, pegawai pemerintah, praktisi, birokarasi, politisi, seniman, budayawan, dsb. Mungkin selama Ramadhan kualitas moral, etika, dan ahlak setiap individu dalam berbagai sendi kehidupan itu akan sedikit mencerahkan.

Dalam setiap sendi kehidupan, akan terlihat keharmonisan yang begitu bersahaja. Tak ada marah di antara anggota keluarga, kebersamaan memikul tanggung jawab diperlihatkan oleh buruh, karyawan, dan pimpinan, saling memahami dan menghargai dikembangkan para birokrasi dan politisi, disiplin dalam berbagai kegiatan dilakukan para seniman dan budayawan. Mereka saling membatasi diri; tidak berani marah, tidak bertindak semena-mena, tidak otoriter, selalu menghargai bawahan, malu untuk saling menjilat, enggan melakukan KKN, dll. Begitu indah dan mencerahkan jika terjadi pula pada pascaramadhan. Barangkali harapan tetap ada, kesempatan itu telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal kita saja sebagai mahluk mampu membenamkan seluruh pembelajaran itu, dan melaksanakannya kembali dalam kehidupan pascaramadhan ini. Mudah-mudahan saja.

Hari Raya Idul fitri, menjadi penghujung yang membatasi kembali benang merah kualitas sikap; moral, etika, dan ahlak. Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi individu yang berhasil mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan terlewat. Idul Fitri menjadi hari kebebasan setiap individu dari ujian yang sangat berat itu. Namun, kita mesti hati-hati jangan sampai hari penghujung Ramadhan itu menjadi hari kemenangan dan kebebasan bagi syetan sehingga kembali menjiwai hawa nafsu setiap manusia, yang akhirnya manusia akan kembali terjerumus pada sikap; moral, etika, dan ahlak tidak terpuji yang berseberangan dengan nilai-nilai agama. Ya Rabb, ampunilah kami, tetapkanlah kami dalam sikap seperti pada bulan yang penuh rahmat itu, berikan petunjuk untuk kehidupan yang lebih baik pada masyarakat, bangsa, dan negara ini. Amin.


Responses

  1. benar bung, saya kira kita masih terlarut pemaknaan hari kemenangan scr parsial.. ya sudah, ramadhan selesai semua kembali sperti biasa..

    maaf lahir dan batin..

  2. Bismillahirrahmanirrahim

    Assalamualaikum wr wb

    Selamat hari Raya Idul Fitri 1429 H.

    Mohon maaf atas semua salah, khilaf, tulisan yang menyakitkan hati, menyinggung perasaan, serta bersitan-bersitan hati yang pernah berprasangka.

    Semoga Allah SWT menyempurnakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini.

    Semoga Allah SWT selalu mencurahkan hidayahnya, agar kita mampu meningkatkan kualitas ibadah kita pada Nya.

  3. Waalaikumussalam wr wb,
    @ Mas Arif, terima kasih
    @ Mas Fauzan, terima kasih kunjungannya

    Sama2, semoga saling permaafan ini menjadikan kekuatan tali silaturahmi kita disertai taufik dan hidayah-Nya. Amin.

  4. Slmt malam,mas.
    langitjiwa dan keluarga mengucapkan; Selamat Hari raya idul Fitri,Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

  5. Kehidupan kita memang saling bertaut dengan lainnya, dan keberhasilan atau ketidak berhasilan juga akibat dari tautan itu. Maka jika berhasil kita pantas bersyukur karena keberhasilan kita juga atas dukungan keluarga atau minimal lingkungan terdekat kita.

  6. setiap kali menumpai idul fitri, saya selalu diingatkan adanya dua hubungan yang perlu dibangun oleh manusia sebagai khalifah di atas bumi, yakni membangun hubungan secara vertikal kepada Sang Pencipta, juga seklaigus membangun hubungan vertikal dengan sesamanya. sungguh, postingan kang atep makin memperkaya sikap religiusitas bagaimana seharusnya umat manusia menjalankan aktivitasnya sebagai kalifatullah fil’ardl (waduh kok jadi sok tahu saya). terima kasih share infonya, kang atep. salam kreatif!

  7. setelah idul fitri akan kembali seperti semula (melakukan hal-hal yang kurang baik, seperti biasanya). hehehe.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: