puisi RAMADHAN

1) Hari Menjelang Awal Ramadhan

Ini anakku terkasih. Hampir sembilan tahun usia perkawinan dengan istriku, dia hadir, kini hampir berusia 2 tahun. Lengkaplah rasanya ceritaku, andai berkenan silakan kunjungi halaman jendela silaturahmiku. Kini aku merasa orang yang paling dikasihi Allah SWT, tetapi aku belum bisa berbakti, mengasihi, dan mencintai sang pemilik diriku. Mohon ampunanMu ya...Robbi.

Ini anakku terkasih. Hampir sembilan tahun usia perkawinan dengan istriku, dia hadir, kini hampir berusia 2 tahun. Lengkaplah rasanya ceritaku, andai berkenan silakan kunjungi halaman jendela silaturahmiku. Kini aku merasa orang yang paling dikasihi Allah SWT, tetapi aku belum bisa berbakti, mengasihi, dan mencintai sang pemilik diriku. Mohon ampunanMu ya...Robbi.

Suasana ramadhan mulai dirasakan
satu hari menjelang bulan penuh berkah itu
pekik kegembiraan melengking dalam segenap sanubari umat muslim
tercermin dalam berbagai tingkah
menandai juga pengalamanku menjelang hari pertama umat muslim menahan haus dan dahaga.

Masih satu hari lagi…
tengah malam aku masih terlena memainkan perangkat lunakku, yang kuperoleh dengan ‘ngeridit’
tiba-tiba terdengar desing suara kendaraan beroda empat bermerk ‘inova’ warna hitam
parkir dengan mantapnya di halaman rumah mertuaku yang dibangun pada tahun 60-an
sejumlah keluarga bahagia turun darinya sedikit kelahan setelah melalui perjalanan hampir 4 jam-an

Kubuka pintu serambi menyambut kehadiran mereka
keponakanku yang lucu-lucu segera menyapaku, menanyakan putraku yang masih 1 minggu lagi genap berusia 2 tahun
sampai pagi hari aku tidak memejamkan indra lihat lagi karena melepas rindu dengan meraka
dari ngobrol serius, berkelakar, sampai bersenda gurau mewarnai malam yang masih satu hari lagi menapaki ramadhan
ya… aku nikmati malam itu, katanya… mereka ‘munggahan’ .

Besok harinya…
aku bergegas pergi dengan kendaraan roda dua ‘suzuki smash’ yang baru beberapa bulan kulunasi dari sebuah layanan jasa kredit
sekedar jalan-jalan aku berencana sungkem kepada bunda tercintaku, mohon maaf padanya menjelang ramadhan pertama besok
sepanjang perjalanan aku saksikan pancaran kebahagiaan setiap orang yang tidak biasanya berlalu-lalang di sepanjang jalan yang kerap kulewati hampi setiap hari
sejumlah anak-anak berusia sekolah dasar menenteng tempat makanan ‘rantang’ dan sejenisnya
mungkin mereka akan pergi ke sebuah bukit di tempat itu yang terkenal dengan ‘sangiang’
sudah biasa memang, bukit itu dijadikan tempat melepas kepenatan banyak orang
di bukit itu berjajar pula dengan rapi peristirahatan para ‘karuhun’
tak salah lagi, mereka merayakan kebahagian tibanya bulan penuh ampunan
ya… aku saksikan mereka, katanya… mereka ‘munggahan’.

Masih hari itu…
sesampainya aku di rumah bunda tercintaku, aku duduk-duduk di kursi besi dari plat tebal ‘made-in’ kakakku yang ahli kontruksi
sekitar 30 meter di depan rumah, jalan raya membentang ke arah utara yang belum juga diperbaiki
tidak biasanya berbagai jenis kendaraan melintas banyak sekali, barangkali angkutan umum jenis ‘toyota hi-ace’ kali ini menambah ‘rit’-nya melayani para penumpang
o.. ya, itulah yang terjadi kalau ramadhan tiba
sebagian mereka pergi ke pasar tradisional yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumah bundaku
sebagian lainnya mungkin bermaksud menikmati tempat wisata yang harus ditempuh selama 45 menit-an dari rumah bundaku
sebuah tempat wisata di ketinggian sekitar 3000 meter di atas permukaan laut ‘situ panjalu’ namanya
dikenal pula dengan nama ‘lengkong’ yang meninggalkan legenda dengan ‘bumi alitnya’ sebagai tempat tinggal raja panjalu ‘prabu boros ngora’
ya… aku pikir, mereka juga dengan bahagia menyambut tibanya bulan penuh rahmat
katanya… mereka munggahan.

Atep T Hadiwa, Akhir Agustus 2008

2) Hari Pertama Ramadhan
(aku tulis setelah berbuka puasa menjelang sholat tarawih)

Dulugdugdag… dulugdugdag…
begitu gembiranya bocah-bocah memainkan ‘bedug’
di masjid Al Barkah setelah mereka menyantap sajian makanan berbuka
iramanya mereka kreasikan sendiri
bercengkrama
bergantian

akustik tradisional itu menjadi lambang kekuatan Ramadhan
ya… Ramadhan hari pertama ini mereka nikmati dengan gembira

sore hari tadi…
ada sudut keramaian umat
ternyata Ramadhan yang membawa berkah
sepasang suami-istri bertahun-tahun melakukannya
sebuah roda dagangan mereka siapkan di pertigaan itu
menjelang sore…
banyak orang menghampiri
memesan sajian buka puasa
tak terlalu aneh memang, hanya es buah campur yang mereka jual

potongan agar-agar berwarna hijau
menyejukkan pandangan menghibur tibanya adzan magrib
irisan buah dan kelapa muda bercampur susu
menyegarkan hati yang tetap sabar menanti saatnya berbuka
sepasang suami-istri itu tak pernah mengehentikan senyumnya yang ramah
begitu indah… mereka akan melakukan itu selama Ramadhan yang suci

oh… kenapa permainan ‘bedug’ terhenti?
sesekali bunyi petasan membuat hati tersentak kaget
tetapi, itulah ekspresi bocah-bocah menandai hari-hari seperti ini
mereka kini harus menghentikan permainan akustik itu
kumandang adzan isya telah menggema
bocah-boc ah kecil itu pun bersiap untuk berjamaah, lalu bertarawih.

Atep T Hadiwa, 1 Ramadhan 1429 H

3) Hari Kedua Ramadhan

Ramadhan kedua…
kuhabiskan waktu tanpa banyak kegiatan
pekerjaan yang masih numpuk pun belum lagi sempat kuselesaikan
hanya berbaring memanjakan tubuh dan sesekali bertanya
hari ini aku akan nulis apa lagi?
kucoba menggerakkan tubuh menarikan sepuluh jariku
masih terlalu pagi
rintikan hujan baru dua pagi ini menyegarkan tanah
ah… tidak begitu banyak kegiatan yang kusaksikan

menjelang sore…
aku mencoba keluar dari kesuntukan dengan ‘ngabuburit’
mataku melihat mereka
telingaku mendengar mereka
pikirku bertanya tentang mereka

Dua orang pemuda tegap berseragam tak mereka hiraukan
mereka tetap melakukannya di atas jalan yang hitam itu
sepanjang sore…
dua sepeda motor melesat
sorak
tertawa
gembira
bangga
ada juga yang cemas…
dua berikutnya melesat juga

Aku saksikan mereka
katanya… sepanjang ramadhan
setiap sore
balapan tak resmi dilakukannya di jalan hitam itu
ya… sisi lain kehidupan ini
tak adakah kegiatan lain yang lebih bermanfaat..?

Atep T Hadiwa, 2 Ramadhan 1429 H

4) Hari Ketiga Ramadhan

Hari ketiga Ramadhan ini
aku menghampiri mereka, asyik sekali
lima orang anak remaja bertingkah memainkan hatinya
sementara…
tiga anak kecil mengerut kening coba memahaminya

Aku kagum dan hanya bisa berdiri memandangi mereka
andai nafas Ramadhan ini selamanya
segala akan mudah tak terbayangkan
kejujuran
kesabaran
kebersamaan
kebahagiaan
kepedulian
semua jadi kendali hawa nafsu yang memberingas

Ah… indahnya
anak-anak itu memainkan hatinya mengingatkan kita
mereka serukan nafas Ramadhan lewat tingkahnya
aku maknai itu…
sebagai pengingat kita akan keterbatasan
ya… pencerminan yang hakiki.

Atep T Hadiwa, 3 Ramadhan 1429 H

5) Hari Keempat Ramadhan

Lepas hari ketiga
semayam dalam Ramadhan terlalu menuai makna
terlalu agung bagi sehamba yang tak berdaya
tak bisa kugunakan logika, pikiran ilmiah, tindakan empiris dan rasionalis
semua itu terlalu sedehana dalam keagungan makna sang Kholik

Kutemukan kebesaran jiwa dalam segala peristiwa
anak kecil,
sesama teman,
handai tolan,
keluarga,
sahabat baru,
mengingatkanku tentang hidup dan kehidupan

Kutemukan kedalaman rasa dalam segala makna
rumput,
pohon,
tanah,
batu,
air,
mengajakku jelajahi tentang hidup dan kehidupan

Kutulis ini di malam kelima Ramadhan
saat kubaca segala hati di ‘dunia maya’
kutemukan cerita ‘kang badrun juga puasa’
kuhampiri tinta ‘apa yang aku inginkan dan kelemahanku…’
kuresapi panggilaNya ke baitullah di ‘PanggilanMu Aasal Kata’
kumaknai curahan segala teman di malam ini
semua mengingatkan dan mengajakku.

Atep T Hadiwa, 4 Ramadhan 1429 H

6) Hari Kelima Ramadhan

Kata yang sederhana kuperbincangkan
hawa nafsu menjadi kata terpopuler
oleh para penceramah di kuliah tujuh menit

jerit-menjerit jiwa begitu liarnya
tetes air menyelinap merobek kekuatan iman
haus dan dahaga menggumpal merah
marah pada kesabaran
ketika menghitung jam demi jam
hawa nafsu menumpah saat keinginan terkekang

Jika pengingkaran khianati niat
kotori pikiran hinakan jiwa
di saat itu semua bersaksi;
mulut
hidung
mata
telinga
tangan
kaki
bergolak di kawah candradimuka

Peperangan tak ter-elak
pertikaian terhebat setiap jiwa
sabar adalah senjata
sabar adalah kekuatan
sabar adalah kemenangan
sabar adalah iman
iman adalah kendali hawa nafsu.

Atep T Hadiwa, 5 Ramadhan 1429 H

7) Hari Keenam Ramadhan

Tiga remaja belia
memainkan pikiran terjemahkan kata
hati mereka membaca
otak mereka berpikir
tangan mereka berkarya

Utak-atik
bongkar-pasang
dan tak pernah puas
dunia kebebasan mereka nikmati
setumpuk kata akan jadi imajinasinya

Tiga remaja belia
tak pernah temukan kata terakhir
pikir mereka, ramadhan itu indah
indah ketika membaca
indah ketika berpikir
indah ketika berkarya.

Atep T Hadiwa, 6 Ramadhan 1429 H

8) Hari Ketujuh Ramadhan

Jika hati sakit,
mulut terkunci untuk bicara
mata enggan untuk menatap
telinga malas untuk mendengar
tangan tak mau untuk berjabat

Kenapa harus sakit?
bicaralah dengan mulut serta penuh keramahan
menataplah dengan mata serta menebar kecintaan
mendengarlah dengan telinga serta rela menerima
berjabatlah dengan tangan serta penuh keikhlasan

Tidak harus sakit,
karena segenap keikhlasan adalah yang terindah
ramadhan ini adalah kesempatan
terindah dari setiap keindahan
marilah saling ‘tepok sliro’
tempatkan hati dalam segala kesadaran.

Atep T Hadiwa, 7 Ramadhan 1429 H

9) Hari Kedelapan – Keduapuluh Ramadhan

Seharusnya hari kedelapan…
tanganku menulis
tetapi ada cerita memaksa
tak salah jika ku nikmati sejenak, cerita itu

hari kedelapan Ramadhan…
hingga sekitarnya,
tiba kini hari keduapuluh Ramadhan

sehelai undangan bagi sang ‘guru’
secercah impian hampiri hidupku
menyisakan harapan besar menyandang profesionalisme
sederet portofolio harus kususun dalam empatbelas hari
aku bergegas…

aku saksikan
beribu tingkah beratus upaya menjadi ‘akal’
ya…
akali saja!
tak harus obyektif, asal ada!
kenapa? ah… lakukan saja!
kok bisa begitu? iya… yang penting ada!
bagaimana… ?
pemalsuan, scanning, boong-boongan, tiba-tiba, seolah-olah, dan sebagainya

aku…
sangat prihatin, tak tega, tak perlu melakukan
tak perlu kulakukan seperti yang lain
portofolioku…
apa adanya saja, sederhana, tidak tebal, tidak juga mengada-ada
aku yakin tak akan salah jika begitu
sang nilai takkan salah menentukan siapa yang sudah profesional!

hatiku setuju cerita ‘sang guru harus profesional’
tapi… ya obyektif saja-lah
semoga saja kehadiranku pada undangan itu berbuah maslahat
jiwaku hanya memohon padaNya, tunjukkan segala kebenaran dan kejujuran
hingga hari keduapuluh Ramadhan ini,
kemesraan dengan dokumen portofolioku menyitanya
apa adanya…
semoga tak salah.

Atep T Hadiwa, 20 Ramadhan 1429 H

10) Hari Duapuluhsatu Ramadhan

Aroma misterius mulai menggeliat
di setiap sudut ruangan
mengharum,
mewangi,
bangunkan nafsu luluhkan akal

semakin misteri geliatnya
penuhi segenap ruang dan jiwa
harum dan wangi tak berbentuk
menyusup setiap nafsu
meluluh setiap akal

kenapa ia misteri,
kenapa ia harum,
kenapa ia wangi,
kenapa ia kesankan setiap ruang dan jiwa
lumrah selalu terjadi menapaki pase akhir Ramadhan
masih sepertiga bagiannya
gumpal keyakinan bergolak melawan misteri.

Atep T Hadiwa, 21 Ramadhan 1429 H

11) Hari Duapuluhdua Ramadhan

melengking,
menggema,
membahana,
menggelora,
selalu kudengar dalam jam yang sama setiap malam

melengking,
menggema,
membahana,
menggelora,
selalu kutanya dalam jam yang sama setiap malam

melengking,
menggema,
membahana,
menggelora,
selalu kujawab dalam jam yang sama setiap malam

suara yang indah setiap malam dalam jam yang sama
kudengar bukan oleh telinga,
kutanya bukan oleh kalimat,
kujawab bukah oleh kata,
kepasrahan jiwa dalam kemenangan adalah segalanya.

Atep T Hadiwa, 22 Ramadhan 1429 H

12) Hari Duapuluhtiga Ramadhan

menatap dengan berat
di kedalaman jiwa kini tersayat
teriris sakit kini terkenang
hanya amarah tersisa
segumpal kecewa lahirkan sengsara
sia-sia dan tak ada guna

puing-puing dosa berbaris dalam tetesan air mata
tak sanggup lagi menatap
hanyut dalam sebuah harapan
tinggal beberapa hari harus menanti
segenap jiwa akan tersenyum
tumpahkan segala kasih sayang
sakit, amarah, kecewa tak lagi menyayat
permaafan yang hakiki
hanya dialah yang memiliki, dengan segenap ridho-Nya.

13) Hari Duapuluhempat Ramadhan

setiap sore pukul enambelas nol-nol
remaja,
anak muda,
orang dewasa,
laki-laki,
perempuan,
seperti lautan manusia di tempat itu
beratus orang berhadap-hadapan
terbelah lintasan jalur by-pass ke pusat kota
di antara mereka bertanya
siapa kita ini?
kenapa ada di sini?
untuk apa berkumpul di sini?

ritual tak sengaja selalu terjadi
entah siapa penggagasnya
begitu kuat membius jiwa mereka
hanya ritual sekelompok manusia saja
sisakan satu bukti makna keagungan
kekuatan Ramadhan mengaliri nadinya
ah… semoga tak salah makna
kehormatan dan keagungan Ramadhan tetap terjaga
antarkan kemenangan di hadapan Robbul ‘Ijati.

Responses

  1. Tulisannya menarik, dan mohon maaf apabila ada beberapa tulisan Kang Atep akan di ambil oleh siswa saya untuk dijadikan bahan ajar… :d

  2. Hatur nuhun kang Awan, mangga silakan jika bermanfaat, hanya buah pikir sederhana saja.

  3. tep, naha ramadhan teh ngan 24 poe ? ari ti lima likur mah tara nulis ?? he he … salam ka alo istri jeung ka incu-ku didu’akeun sing shaleh, pinter, ageung milik, bhakti ka ibu rama, bangsa, nagara, jeung agama.
    bapa-na sing geura ngalaman sholat di masjidil haram, aamien.

    Amin… mugi sing janten jimat kanggo abdi. Salam bhaktos ti abdi sakulawargi.

  4. Asslam, Puisinya menarik sekali, jadi saya mohon izin untuk mengambil beberapa puisi yang mas buat, dan Blog mas tetap saya lampirkan sebagai Referensi dari Puisi tersebut, terima kasih mas….kreatif betul mas…….sukses selalu ya mas

    terima kasih, silakan jika bermanfaat dan salam kenal

  5. [...] Atep T Hadiwa, Akhir Agustus 2008 (dikutip dari : http://atepjs.wordpress.com/puisi-ramadhan-1429-h/#comment-214 [...]

  6. Haturan juragan Atep kumaha damang?
    wilujeng kang, sae tah seratan teh
    pamugi jejem dina spirit kreatifna
    Insya Alloh seueur mangfaatna keur balarea.

    salam budaya
    wawan ajen

    Alhamdulillah maha resi, sawangsulna?
    Ah… tambi teu teuing wae ieu mah, nyalurkeun kapanasaran mudah-mudahan wae mangpaat ka balarea. Hatur nuhun apresiasina, hoyong pisan dumeuheus kuring teh ka bekasi. Insya Alloh sanes waktos… Silih du’akeun nya pamugi langkung sarukses.

  7. Cik sakali kali mah nulis puisi teh nganggo basa sunda. Urang bandingkeun sareng ki adi “ahli sastra sunda”

    Hatur nuhun, panasaran panginten nya.
    Ke urang cobi antos wae terbitna.

  8. kmaha damang kang ? puisi nu ku akang diserat teh sae pisan, mudah mudahan sing tambih-tambih manfaat kanggo sadayana nu maca, anu teu maca mah ulah diajakan. hatur nuhun ah wilujeng.

    alhamdulillah, nuhun ah tos nguriling ka dunia maya mah, sok teraskeun ajakan batur…

  9. kang atep terus ah nyerat mudah-mudahan sing aya manfaat….


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: