Oleh: atep t hadiwa js | September 10, 2008

Kekuatan dalam Puisi adalah ‘Ilham’

(Suatu catatan Kreativitas menulis Puisi bagi para Siswa)
Atep T Hadiwa

Banyak kalangan mengatakan bahwa menulis puisi itu tidak mudah, harus ditunjang oleh bakat dan kemampuan. Hal itu ada benarnya. Di kalangan pelajar pun, keluhan seperti itu sering kita dengar. Mereka mengeluhkan sulitannya menulis puisi, ketika diminta oleh gurunya untuk menulis puisi dalam kegiatan pembelajaran. Kajian sederhana ini disajikan dengan harapan dapat membantu para siswa dalam kegiatan apresiasi puisi, khususnya membelajari seni menulis puisi yang bertemali dengan pembelajaran sastra. Lingkup kajian yang disajikan tidak terlalu banyak mengungkap ‘tentang’ puisi secara teoretis, namun mengarah pada satu kekuatan ‘ilham’ yang sangat diperlukan manakala sebuah puisi akan tercipta.

Apa puisi itu?
Terkadang kita sulit menjawab bila ada pertanyaan seperti itu. Sering kali kita membutuhkan waktu untuk menjawabnya padahal kata ‘puisi’ sangat dikenal, apalagi di kalangan para siswa. Sering kita saksikan seorang ibu atau bapak begitu bangga ketika anaknya yang masih duduk di bangku TK atau SD berdeklamasi atau membacakan sebuah puisi. Lalu kita tanya ibu itu : “Bu, apa yang anak ibu lakukan pada pentas tadi?” jawabnya : “anak saya membaca sajak.” Lalu, “apa sajak itu? Jawabnya, “ya, seperti itulah, puisi….!” Kita pun sering terpesona ketika menyaksikan seorang pembaca puisi begitu penuh penghayatan dan penjiwaan terhadap puisi yang dibacakannya. Namun, baik pembaca maupun kita tidak serta-merta dapat menjawab pertanyaan tadi. Demikian pula dengan buku catatan harian teman kita yang isinya tentang beberapa peristiwa atau masalah yang dialaminya; kadang bahagia, mendayu, mengharukan, sedih, lucu, kecewa, mencekam, dsb. Sangat puitis jika dibaca, tanpa sadar mereka telah mencipta puisi.

Jadi apakah puisi itu? Menurut Kamus Istilah Sastra, yang disebut puisi itu adalah; ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (Panuti Sudjiman, 1986 : 61). Pengertian ini mensyaratkan adanya irama – tentang alunan yang dikesankan oleh perulangan bunyi atau biasa disebut rima, juga dengan matra – pola yang berwujud; misalnya berupa pertentangan yang berselang-seling antara suku yang panjang dan pendek, suku yang bernada tinggi dan rendah, atau suku yang beraksen dan tidak. Dengan kata lain, dalam sebuah puisi pengarang atau penyair dibatasi dengan ikatan-ikatan tertentu; seperti di atas. Namun belakangan ikatan-ikatan tersebut tidak seketat seperti pada awal masa pertumbuhan puisi di waktu lampau. Puisi-puisi lama seperti : pantun, gurindam, seloka, syair, bidal, ikatan-ikatan itu masih sangat kental.
Berdasar pada uraian singkat di atas dapat disimpulkan, bahwa hakikat puisi dapat dirumuskan sebagai suatu ragam karya sastra yang terbangun atas beberapa komponen pokok. Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang akan memberi warna tersendiri dalam sebuah karya puisi. Adapun keempat komponen tersebut adalah :
1. tema ( = arti; isi);
2. rasa;
3. nada; dan
4. tujuan (amanat)

Kilas paparan berikut ini merupakan penjelasan singkat keempat komponen pembangun puisi.
1. Tema
Setiap karangan tentu mempunyai dasar atau pokok pikiran yang hendak dikemukakan oleh pengarang, dan kemudian disebut ‘tema’. Berdasarkan tema itulah kita dapat menemukan jiwa isi karangan tersebut. Demikian pula puisi. Saat penyair menciptakan puisi, tentu mempunyai ide yang ingin disampaikan. Semua puisi lahir dari gagasan-gagasannya, sekalipun penyair tidak sengaja menampakkan tema puisi, karena tema tersebut dengan sengaja disembunyikan. Kecenderungan pada masa kesusastraan moderen seperti sekarang, penyair cenderung memilih puisi-puisi yang sangat sulit dicerna pembacanya. Artinya tanpa disengaja temanya (gagasan atau ide pokok), tersembunyikan.
2. Rasa
Komponen kedua puisi adalah ‘rasa’, yaitu sikap penyair terhadap pokok persoalan setiap orang yang terdapat dalam puisinya. Setiap orang akan mempunyai sikap yang berbeda terhadap suatu persoalan. Perbedaan itu mungkin timbul disebabkan latar belakang (misalnya; keadaan sosial, agama, pendidikan, dll.) yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut adakalanya bersifat sangat subyektif. Demikian pula, ketika penyair mencipta puisi, sikap subyektifnya akan terlihat sesuai rasa masing-masing.
3. Nada
Komponen penting lainnya adalah ‘nada’, yaitu sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya. Pada hakikatnya ‘nada’ sangat bertemali dengan kedua komponen lainnya (tema, rasa). Karena pemunculan tema tentu saja akan berpengaruh terhadap rasa, dan kedua – tema dan rasa tentu saja akan membentuk nada. Lingkungan, peristiwa, atau sesuatu lainnya akan menjadi ilham bagi penulis puisi. Begitu pula keadaan masyarakat tempat penulis berada, akan turut mempengaruhi karya-karya puisinya. Sikap penyair tersebut bisa saja bernada; marah, prihatin, sinis, kagum, menyanjung, dll., tergantung suasana, situasi dan kedalaman batin penyair atas hal yang disikapinya.
4. Tujuan
Komponen yang dianggap komponen akhir yaitu ‘tujuan’. Tujuan adalah pesan apa yang dikehendaki dan ingin disampaikan oleh penyair dalam puisi tersebut. Tujuan sering juga disebut sebagai ‘amanat’ yang akan disampaikan kepada pembaca. Penyair berharap agar para pembaca dapat menikmati dan menyikapi puisi ciptaannya. Harapan utamanya adalah adanya perubahan pandangan, sikap, pemahaman tentang hal yang dikritisi dan disikapinya dalam puisi tersebut.

Kekuatan ‘Ilham’ dalam Puisi
Para pujangga Angkatan ’45 berpendirian bahwa seni tidak dapat tercipta tanpa ilham. Mereka pun berpendapat bahwa ilham itu tidak bisa dipaksakan, akan tetapi haruslah muncul dengan sendirinya. Namun disamping pendapat tersebut, ada juga pendapat lain yang berbeda. “Di balik sikap yang mengatakan bahwa ilham itu mesti datang dengan sendirinya, sering orang lupa bahwa Chairil Anwar telah mengajarkan, seniman itu tidak boleh duduk termangu menunggu ilham jatuh dari langit” (Aoh K. Hadimadja, 1981 : 34).

Sebagaimana pengarang-pengarang terkenal, mereka mempunyai kebiasaan memerhatikan keadaan sekelilingnya, lalu mencatatnya, kemudian menulisnya dengan segera. Mereka pun mencatat pengalaman-pengalamannya, dan membiasakan membaca karya-karya orang lain. Selain itu, Chairil pun menganjurkan supaya suka menerjemahkan karya-karya yang baik, entah itu dari bahasa apa pun. Kebiasaan seperti itu akan memunculkan ide baru yang terilhami oleh karya orang lain yang dibacanya.
Kita ambil contoh puisi ‘Laut Mabuk’, yang terilhami oleh bencana tsunami. Suatu peristiwa alam yang sangat mencekam dan mengharukan. Tetapi dibalik itu ia merasakan kekagumannya tentang kuasa Tuhan. Mesjid itu masih berdiri kokoh. Ia dapatkan informasi itu mungkin dari melihat tayangan televisi, membaca media cetak, atau datang sendiri ke tempat bencana tsunami di Aceh.

LAUT MABUK
(Wowok Hesti Prabowo)

masjid itu sendiri berdiri, seperti tugu
mandangi batangan ombak mengoyak
magma mabuk dan tangis mengandung topan
tungkuku belum usai menanak air mata
saat laut datang tibatiba. berlarian ke bukit
mengirim duka. orangorang menjerit
“Aduh, perahu Nuh tak lagi menunggu!”
dan anakanak itu tak tahu mengapa
tak harus menanti ibunya kembali
masjid itu masih sendiri berdiri
menghardik badai pulang ke rumahnya
usai mabuk dalam pesta pembantaian
melempar orangorang ke langit dan
tinggalkan ribuan bangkai di onggokan sampah
“Tanah pecah itu tak pernah kita duga
adalah pintu ke surga,” gumam sesuara
sambil mengubur rindu rumah petak
dan pertengkaran yang belum selesai
tibatiba serombongan burung gagak
menggenggam batangbatang luka menyepuh pagi
pekiknya, “Hoi, ini awal indah memabrikkan hati mereka
tatkala Tuhan dengan caranya telah menyucikan Jakarta.”

Tangerang, 2004
(sumber : Republika, Edisi 01/30/2005)

Penyair mengolah ilham secara langsung setelah kejadian yang secara aktual dan faktual disaksikannya, mulai dari mengamati dan mencatat peristiwa gempa sebelum gelombang tsunami terjadi. Ia merenung, mengingat Tuhan, dan bertanya-tanya. Ujiankah? Atau, adzabkah? Kelihatannya, ia memilih adzab sebagai jawabannya. Setelah itu, mulai mengumpulkan kosa kata yang pantas untuk dirangkai. Diksinya sangat selektif dengan gaya bahasa perbandingan menjadi ciri yang mendominasi gayanya.
Barangkali, urutan peristiwa pada ‘Laut Mabuk’ adalah seperti berikut ini:
1. Pengamatan terhadap kejadian
a. gempa tektonik menimbulkan duka masyarakat Aceh :
magma mabuk dan tangis mengandung topan
tungkuku belum usai menanak air mata
b. gelombang dahsyat (tsunami) menyusul, dan lebih memperparah keadaan – duka semakin dalam
2. Mengumpulkan data
c. masjid itu sendiri berdiri : memantapkan keyakinan kepada Tuhan (=Allah) atas kuasa-Nya.
d. Kerusakan segalanya : harta-benda, bangunan, pohon (kecuali masjid itu; Masjid Baiturrohman), dan ribuan orang meninggal
3. Renungan terhadap Tuhan
e. peristiwa itu diidentikkan Wowok sebagai adzab Alloh dengan peristiwa banjir yang memusnahkan umat Nabi Nuh yang durhaka :
“Aduh, perahu Nuh tak lagi menunggu!”
f. teguran terhadap kita
Jakarta (=pemerintah, pengusaha, politikus/politisi yang gemar bertengkar, atau mereka yang tidak bijak dalam mengeksploitasi kekayaan alam?)
“Hoi, ini awal indah memabrikan hati mereka
tatkala Tuhan dengan caranya telah menyucikan Jakarta.
4. Penulisan puisi
a. menentukan tema;
b. mengembangkan gagasan menjadi puisi;
c. memberikan judul.

Dari uraian singkat di atas, kita mendapat pengalaman tentang bagaimana mencipta puisi. Kita dapat mencipta puisi dari berbagai ilham yang muncul. Baik ilham yang muncul tiba-tiba, atau ilham yang sengaja dicari dan dimunculkan, atau mencipta puisi dengan menerjemahkan karya penyair lain dengan catatan “tidak menjadi plagiator”. Jadi, salah satu cara yang dapat dilakukan ketika menciptakan puisi, yaitu dengan melakukan langkah-langkah berikut ini.
1. mendapatkan ilham;
2. mengumpulkan data, merenung;
3. menentukan tema;
4. menulis puisi dengan memperhatikan :
a. rasa, nada, tujuan;
b. kesan, perlambang, gaya;
c. diksi dan imajinasi
5. pemberian judul.

Agar lebih jelas, para siswa dapat berpraktik dengan menerjemahkan langkah-langkah mencipta puisi, misalnya dengan contoh berikut.
Beberapa orang mencipta puisi dari obyek pengamatan yang sama, tetapi suasana batin mereka berbeda. Perbedaan tersebut karena sifat subyektif penulis, serta sikap atau pandangan terhadap obyek pengamatannya.
a. Penulis pertama mengungkapkan suasana batin, pada saat memandang sekuntum mawar merah sedang dalam keadaan bahagia. Barangkali baru mendapatkan cinta dari teman prianya.
b. Penulis kedua, ketika melihat bunga itu bukannya tertarik, malah timbul kebencian dan perasaan kecewa. Karena mungkin ketika melihat duri pada tangkai bunga, seperti duri pada hati seorang gadis yang melukainya.
c. Penulis ketiga, ketika ia menemukan bunga tersebut terkesan indah dan cantik. Kecantikan mawar tersebut ia identikkan dengan dirinya. Namun, ia pun lalu menyindirnya, karena tak mau dirinya seperti bunga itu, layu setelah madunya dihisap setiap kumbang.
d. Penulis keempat malah bersedih, padahal bunga itu sedang indah-indahnya. Ia merasa prihatin ketika melihat kumbang yang satu dengan lainnya bergantian menghisap madunya. Dalam renungannya ia teringat dirinya sendiri.
Selanjutnya, silakan para siswa mencoba memulai menulis puisi dengan mengolah ‘ilham’ tersebut. Mungkin kajian sederhana ini hanya buah pikir yang tidak bermanfaat, oleh karena itu dengan senang hati jika teman, pembaca, dan siapa pun menyempurnakannya dalam kajian atau pembahasan yang lebih lengkap. Unsur penggunaan bahasa dalam karya puisi belum terbahas dalam kajian ini, namun sekilas mengenai unsur tersebut dapat disampaikan seperti berikut ini.

Ketika membaca beberapa puisi, kita sering menemukan kata-kata (bahasa) yang jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai dalam percakapan sehari-hari, sehingga mengharuskan kita bertanya-tanya untuk mengetahui artinya, atau membuka-buka kamus. Dalam hal menulis puisi, penggunaan diksi sudah merupakan kelaziman. Hal itu di maksudkan agar terbangun kesan yang kuat serta gaya yang indah. Selain itu, dimaksudkan pula untuk menyelaraskan bunyi, karena pada dasarnya puisi membutuhkan aspek : kesan, perlambang, dan gaya. Prisip-prinsip inilah yang akhirnya akan menambah kekuatan estetika pada karya sastra puisi. Akhirnya, selamat berkarya para siswaku tercinta di mana pun. Berbicaralah tentang sastra karena itu kebenaran, tetapi berbicara tentang kebenaran tidak sedikit pada kenyataannya hanya bohong belaka.

DAFTAR BACAAN
Adidarmodjo, Gunawan & F.X. Surana, 1982, Pembimbing Apresiasi Puisi, Solo, Tiga Serangkai.
Anwar, Chairil, 1987, Deru Campur Debu, Jakarta, Dian Rakyat
Badudu, Dr. J.S., 1982, Seni Kesusastraan Indonesia 2, Bandung, Pustaka Prima.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pusata.
Gibran, Kahlil, 2004, Abadilah cintamu, Yogyakarta, Sahabat Setia.


Responses

  1. saya masih terkesan dg puisi yang dibuat oleh seorang mahasiswa UGM sekitar tahun ’80-an:
    “Rembulan jatuh di kolam
    riak gelombang bagai gelepar hasratku
    yang kautikam.”
    lirik ini kayaknya juga masih mengandalkan ilham sebg kekuatannya, kang atep.

  2. salam kenal….senang bisa berkunjung…saya tunggu knjungan baliknya…Oh ya apa kita bertukar link?

  3. makasi ya… lam knal.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: