SURAT KEPADA SAHABAT
Kutulis surat ini di kamar tanpa lantai
Tak ada musik di kamar itu, tapi tetap aku menari
Bocah-bocah kecil berlarian di luar
sayang mereka tak melihatku menari
Kuberitahukan padamu, sahabat
Kutulis surat ini di kamar tanpa langit-langit
Tak ada sajak di kamar itu, tapi tetap aku mencari makna
Bocah-bocah kecil berdekapan di luar
sayang mereka tak temukan sebuah maknapun
Kuberitahukan padamu, sahabat
Para penyair kemarin tak ketahui kau dan aku sedangkan mereka sempat memetik kembang wangi
Mereka sempat bercanda dengan kata dan makna sewaktu di kamar yang berlantai dan berlangit-langit
Bocah-bocah kecil bertanya di luar, surat untuk siapa?
Untuk sahabatku, penyair muda
Mereka berpesan di luar berjalanlah bersama temukan kata dan makna
Ceritakan sejarah kepada mereka tentang kamar berlantai dan berlangit-langit, penuh dengan kata dan makna
Kuberitahukan padamu, sahabat.
Panumbangan, Mei 2008
Atep T. Hadiwa
Ini hanya buah pikirku yang sangat sederhana, mungkin tidak bermanfaat. Namun, aku tetap harus melakukan ini. Salam kenal kepada sahabat-sahabat (guru) yang sudah duluan nge-blog, mohon bimbingannya.
Katanya sedang menulis surat, tiba-tiba ada adegan menari? “Menari” itu artinya “jarinya sedang menari” (menulis)? Wilujeng nyerat du dunya maya, wilujeng ngadeudeul jaringan tanpa batas…
Oleh: awan sundiawan on Agustus 31, 2008
at 12:00 pm
Hatur nuhun kang Awan, kira-kira itulah sebagian maknanya. Gambar dua peristiwa pada saat yang sama ketika menumpah kecamuk pikir yang membungkus sebuah obsesi. Duka kataekan, duka moal? Piraku nya!
Oleh: atepjs on Agustus 31, 2008
at 2:57 pm