Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 13, 2011

BUKU PENDIDIKAN BERKARAKTER

Pentingnya “Karakter Bangsa” dalam Buku Pendidikan kita sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Mengapa…?

Berikut cuplikan dalam tulisan Prof. Dr. H. Suherli Kusmana :

Pada saat ini banyak pihak yang merasa bahwa bangsa Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat dramatis, baik dalam kepemilikan karakter maupun budaya sebagai jati diri bangsa. Budimansyah (2009) menyatakan terjadi perubahan masyarakat terutama “munculnya karakter buruk yang ditandai kondisi kehidupan sosial budaya penyabar, ramah, penuh sopan santun dan pandai berbasa-basi berubah menjadi pemarah, suka mencaci, pendendam, berbuat sadis, kejam, dan biadab”. Pendidikan diharapkan mampu menanamkan kembali karakter bangsa yang sudah semakin berubah.

Selengkapnya silakan baca di sini.

Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 12, 2011

Ayooo……. PLPG

Barangkali Anda termasuk dalam daftar peserta PLPG tahun 2011, silakan lihat daftar Nama Peserta PLPG Tahun 2011 Kabupaten Ciamis Rayon 136 Universitas Siliwangi Tasikmalaya serta Jadwal Pelaksanaannya di sini atau di sini.
Sedangkan jadwal PLPG rayon 136 UNSIL bisa diperoleh di sini.

Oleh: atep t hadiwa js | September 30, 2011

ATMOSFIR SENI YANG PERLU DITIRU

(Pagelaran Wayang Golek Ajén dalam rangka Hari Jadi ke-513 Kabupaten Kuningan, Jabar)
oleh : Atep T. Hadiwa

Alun-Alun Pandapa Palamarta Kabupaten Kuningan, komplek Stadion Olahraga Mashud Wisnusaputra menjadi saksi para seniman, budayawan, tokoh pemerintahan baik pusat maupun daerah, pemerhati seni dan budaya, serta masyarakat kota Kuningan pada umumnya, khususnya generasi muda pecinta seni-budaya, atas suatu asumsi bahwa salah satu karya adiluhung seni “Wayang Golek” Jawa barat yang hampir tidak mendapat tempat dan cenderung ditinggalkan masyarakat pemiliknya ternyata tercerahkan dengan ‘geliat’ yang begitu nyata melalui Pagelaran Wayang Golek Ajén Parwa Pujangga dengan dalang Ki Wawan Ajén.

Hal yang sangat menggembirakan dan sangat mencerahkan dari pagelaran tersebut, di antaranya bahwa pagelaran tersebut merupakan hasil kerja sama bahu-membahu antara berbagai pihak. Mengapa demikian, karena dengan suatu kesamaan pemahaman dan pemaknaan salah satu program pemerintah melalui Kemenbudpar RI bersama dengan Pemkab Kuningan, didukung oleh berbagai pihak yang pada saat itu hadir seperti ; pangersa Sultan Anom Cirebon, wakil rakyat dari DPR RI Bapak Dedi Gumelar, tokoh Pasundan Bapak Prof. Dr. H. Ahman Sya, tokoh pedalangan Kuningan Bapak Jojo Hamzah, para pemerhati dan tokoh seni-budaya Kuningan, para dalang berbagai angkatan lingkungan PEPADI Kuningan, para dalang dari wilayah Ciamis dan Tasikmalaya, serta segenap warga Kota Kuningan yang menyaksikan pagelaran pada saat itu.

Sabtu 24 September 2011 mulai pukul 20.00 WIB malam sampai dengan pukul 03.00 WIB dini hari ki dalang Wawan Ajén mengemas pagelaran dengan mengupas lakon “Gatutkaca Jumeneng Raja”. Selepas upacara bubuka yang diisi oleh sambutan Dirjen Kemenbudpar RI, dan sambutan Bupati Kuningan, ki dalang Wawan Ajén memulai kisah dengan sedikit berbeda dari pola pagelaran wayang golek pada umumnya, hal tersebut ternyata merupakan ‘ciri mandiri’ dalam setiap pagelaran Wayang Ajén. Menurutnya, kemasan Wayang Ajén merupakan alternatif yang disuguhkan dalam bentuk kreativitas mengemas lakon dengan prinsif ‘miindung ka waktu mibapa ka jaman’ tanpa meninggalkan norma-norma ketradisionalan, sehingga berbagai pesan termasuk pesan moral tetap tersampaikan kepada para penikmatnya.

Kreativitas mengemas lakon sebagai upaya mengembangkan pertunjukan seni wayang golék dalam pagelaran Wayang Ajén terlihat mulai dari penamaan yang mandiri. Istilah ‘Wayang Ajén’ mengandung makna sebagai upaya meningkatkan derajat seni dan seniman, tiada lain sebagai ajakan dan harapan untuk saling menghargai ; ajén-inajén ; bahwa seni tradisional pun harus mendapat tempat terhormat ; menasional ; mendunia, para peseni tradisional pun harus menikmati peningkatan kesejahteraan. Tak ubahnya seperti sebuah konser, tata panggung, tata dekorasi, tata lampu, tata audio, serta tata ornamen lainnya berupaya mengejar standar konser. Dengan demikian diharapkan meninggalkan kesan lain pada penikmatnya, sehingga memberikan andil untuk mempertahankan bahkan meningkatkan cita-rasa seni ‘Wayang Golék’ sebagai karya seni adiluhung di Tatar Pasundan ini.

Di sisi lain, konsep cerita yang disuguhkan juga sedikit dikemas dengan menambahkan bentuk sajak-sajak sunda masa kini yang diselipkan misalnya ; pada kakawén, nyandra, murwa, atau pocapan dalang. Gending yang tidak membosankan juga menjadi hasil pengembangan dengan racikan tata gending yang variatif. Sedangkan kemasan alur pertunjukan memperlihatkan adanya kesatupaduan antara tokoh cerita wayang (dalam lakon) dengan keperluan lain untuk bersosialisai tentang pesan kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa misalnya dengan ; dialog interaktif, sajian tarian, dan lawakan (humor).

Secara umum dapat disimpulkan, “Wayang Ajén” merupakan alternatif pertunjukan seni wayang golek untuk menjawab sebagian tantangan terpinggirkannya seni adiluhung tersebut tanpa meninggalkan unsur tradisional yang menjadi cikal-bakalnya. Barangkali sudah saatnya, kita para insan seni dan budaya untuk tidak alergi terhadap suatu kreativitas, selama kreativitas tersebut tidak bertentangan dengan aturan, norma, atau apapun namanya yang menjadi dasar tentang sesuatu, dalam hal ini seni dan budaya.

Pagelaran Wayang Golek Ajén dalam rangka Hari Jadi ke-513 Kabupaten Kuningan beberapa waktu yang lalu menggelar lakon “Gatutkaca Jumeneng Raja”, design kisah : Ki Wawan Ajén, tim naskah : Hans B., dan Atep Hadiwa, lingkung seni Parwa Pujangga Kota Bekasi. Kota Kuningan memang benar-benar memiliki geliat atmosfir seni yang sangat mendukung untuk sebuah kreativitas.

Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 5, 2010

sajak sunda

PANGBIBITA MANUSA

Tingcaringeus, tingséréngéh, tingkecewis,
kalacat muntang kana bulu mata,
sakapeung napak kana kongkolak handap bangun nu suka,
reureundeukkan ngagulayun muntang kana bulu mata nu séjén,
teu lila…….
ilang nyulusup ka jero raga,

Sawaréhna luncat ka sagigirna anyaclang ngawasa sakabéh sora,
ngabeledag handaruan meupeuskeun wirahma,
nguwak-ngawik ngacak waditra paningtrim,
haleuangna sora pabarencay teu napak wanci,
teu lila…….
ilang maksa nyorang jeroning raga,

Aya oge nu nyelap na lawang pangrasa arum,
ngélékéték kulibengna seuseungit ambeu,
narajang sukma jeung sagara kahayang,
tingkarayap maksa sabudeurna lawang,
teu lila…….
ilang ngalebur aruming raga,

Kiwari…
jeroning raga harénghéng teu puguh béja,
pangrasa, paningal, pangreungeu jeung pangambung jempé teu majar kumaha,
lalakon bagja meh katiban cilaka,
jumeritna raga ngancurkeun rohangan waruga,
sastra kamulyaan rocét sabada kasorang murkana rasa,
tunggaling manusa nyangsaya kurumuy kaliput dosa,
deudeuh teuing….. manusa,
teu wéléh nyiksa raga, nyapa jiwa, lali ka diri,
cenah manusa mulya….?
geuning malah kabita ku hejona paningal, amisna rasa, seungitna pangambeu jeung genahna sora,
beu… nyorang cilaka geuning?
bagja kasilih ku pangbibita.
(atep js, Oktober 2010)

Oleh: atep t hadiwa js | September 21, 2010

RAMADHAN DI SUMPREK CEKO, BAGI GUN…

(oleh : Atep T. Hadiwa)

Aku masih termenung-menung. Sesekali mengerutkan dahi, menggaruk-garuk bagian belakang kepala, menatap langit-langit kamar, lalu tersenyum. Entah apa yang kupikirkan, sekalipun saat itu aku benar-benar menguras pikiranku untuk menuliskan sesuatu. Aku hanya bisa melihat-lihat album poto bersama teman-teman lamaku. Beruntung segelas kopi ‘indocafe’ masih menemaniku malam ini, padahal baru saja aku melepas dahaga menyantap buka puasa bersama keluargaku. Ya… limabelas hari sudah bulan penuh berkah tahun ini terlewati. Tentunya seluruh umat muslim selalu menunaikan ibadah shaum pada bulan Ramadhan seperti ini dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Mengapa tidak? Karena bulan Ramadhan merupakan suatu ujian dan kesempatan bagi umat muslim untuk menyongsong kelahirannya kembali menjadi sosok yang bersih dan suci. Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan, bulan penuh maghfiroh, sebagai kawahcandradimuka untuk menyucikan diri menebus segala khilap, salah, dan dosa.

Tak hentinya aku membolak-balik sebuah tulisan berbentuk puisi yang kuperoleh dari sahabat dekatku. Tulisan itu dia kirimkan lewat es-em-es kemarin malam. Lalu aku bayangkan, sedang apa dia sekarang? Ah… menurutku dia sedang bahagia. Kubayangkan dia sedang menikmati suasana kota yang berbeda dengan kota-kota di negeri sendiri. Ya… kota-kota di negeri sendiri kan seperti ini, barangkali jelas akan berbeda dengan negeri orang. Menurutku dia sangat beruntung, setelah sekian lama kami berpisah dan masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Padahal sekian puluh tahun yang lalu kami pernah punya keinginan dan cita-cita yang sama, akan tetapi kenyataan berkehendak lain. Aku kini masih tetap saja berada di tanah kelahiran. Namun aku bersyukur masih mendapat petunjuk untuk tetap mengabdi, menjalankan amanat untuk orang banyak.
“Kapan cep Gun sahabatmu itu pulang dari Ceko Di? Apa dia mau lebaran di sana?”
Ibu mengagetkanku, sambil menengok dan menatapku yang masih asyik duduk di depan meja kecil di kamarku. Ibu memang selalu memanggil sahabatku itu dengan cep Gun, padahal nama sebenarnya Gunawan.
“Entahlah bu…, itu yang Hadi pikirkan. Tapi kayaknya tiga hari menjelang lebaran pasti dia pulang.”
Jawabku sambil menghabiskan sisa kopi di gelas yang hanya tinggal setengahnya.
“Ya sudah, kalau sudah ngantuk cepat tidur sana istirahat, nanti kesiangan kamu makan sahur!”
“Iya bu…”

Begitu ibu meninggalkan kamarku, aku kembali membaca tulisan Gun, sahabatku. Sengaja tulisan yang dikirimkan sahabatku lewat es-em-es itu aku simpan di komputerku. Tulisan berbentuk sajak itu ditulisnya dalam bahasa Sunda :

NGALIMBA DI PRAHA
(wawan gunawan @jen)

Batin jeung diri nalangsa disasaak mangsa,
Lambaran cipruk ku cimata,
Bet kalana ngarumas,
Dalah dikumaha puasa ayeuna bobor karahayuan alatan nyorang mangsa ngacacang di Praha.

Gusti neda hampura kuring bet ngalalaworakeun diri balai ngotoran beresihna Ramadhan taun ieu,
Hampura Gusti…
Kuring rumasa bangkelang,
Teu kawawa cimata nyurucud sabada narina beja ti lembur “jam sabaraha di Praha, ari bapana parantos tuang sahur?”
Karunya barudak lulungu bari gigisik sabada indung budak ngalimba,
Pajar bapa keur usaha.

Aya rasa bangga,
Aya kalana rasa guligah,
Kuring hayang gancang mulang ka sarakan majar bisa ngariung sahur taun ieu jeung anak tur pamajikan nu teu weleh satia nganti.
Hampura, geuning raga nyangsaya na waruga dosa//
(Sumprek Ceko, 22082010)

Tulisan sahabatku itu tetap saja membuatku tidak mengerti. Aku tahu sejak sebelum masuk bulan Ramadhan dia mengabariku akan pergi ke Cekoslowakia untuk mengikuti pesta seni rakyat dunia selama beberapa hari. Aku bangga mendengarnya, karena dia yang dulu sewaktu kecil menjadi sahabat dekatku itu kini sering menjadi utusan, mewakili negeri ini untuk memperkenalkan seni dan budaya negara sendiri di hadapan masyarakat dunia. Ah… bersyukur sekali, tak sia-sia dia menghabiskan waktu sebelumnya untuk belajar banyak mendalami bidangnya yang sangat dia minati. Berbeda dengan masa-masa lalu sewaktu kecil ketika kami bersama-sama. Sekitar usia duabelas sampai limabelas tahunan aku dan Gun selalu bersama-sama karena punya kegemaran yang sama. Kami sangat menyenangi seni, suka menggambar, bermain musik tradisional, dan Gun sejak itu sudah mahir memainkan ‘wayang golek’, maka tak heran jika sekarang pun dia sering ke negara lain untuk memperkenalkan ‘wayang golek’.

Emh… aku masih terus saja termenung. Memang kehidupan ini banyak memberikan pelajaran di samping pengalaman, dan semua itu akan memberikan manfaat bagi kehidupan selanjutnya. Sekalipun sahabatku Gun sedang berbahagia dan bangga karena prestasinya di bidang seni dan budaya, apalagi kini dia sedang mengunjungi negara lain yang tentunya dia akan memperlihatkan kepiawaiannya dalam pagelaran seni wayang. Namun tulisannya itu, membuatku tak kuasa meneteskan air mata. Berhari-hari di negeri orang membuatnya terpaksa tak bisa menikmati bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan sempurna. Jauh dari anak dan istri, terasa sangat menyayat hatinya. Terbayang oleh Gun saat makan sahur bersama anaknya, berbuka puasa bersama, bercengkrama ketika menunggu saat-saat buka puasa. Tulisan Gun juga telah menyadarkan dirinya, bahwa memang bulan Ramadhan adalah kesempatan baginya untuk mengingatkan dan membersihkan diri dari berbagai noda dan dosa. Sekalipun Gun sedang menjalankan tugasnya di negeri orang yang seharusnya dia merasa bahagia, karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu. Namun, kenyataan itulah yang membuatnya rindu pada anak, istri, dan tanah kelahirannya. Bahkan Gun sangat merindukan Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah dan maghfiroh. Ya… tak ada seorang pun yang terlepas dari perbuatan dosa, Gun sahabatku telah menemukan makna kehidupan yang lain. Gun sahabatku telah mengingatkanku dan orang lain tentang indahnya bulan Ramadhan. Ya… kami rindu Ramadhan.

“Di… sahur Di! Cepat ini sudah disiapkan makan sahurnya…!” Seru ibuku dari dapur.

Oh, ternyata sudah hampir pukul setengah empat dini hari. Aku bergegas ke dapur untuk makan sahur. Tetapi aku masih teringat tulisan Gun, aku bayangkan dia makan sahur bersama keluarganya. Ah… semoga saja Gun masih sempat makan sahur bersama anak istrinya di akhir-akhir bulan Ramadhan ini.

Oleh: atep t hadiwa js | September 17, 2010

KEKUATAN RAMADHAN & INDAHNYA IDUL FITRI DALAM ‘RIUNG MUNGPULUNG’

“Riung Mungpulung Nyawang Mangsa ka Tukang”
(sebuah renungan)

Ada makna kehidupan dari suatu pertemuan yang menyiratkan bahwa perbedaan itu adalah kenyataan. Dan di antara kami yang selama kurun 25 tahun tak bertemu, juga merupakan kenyataan. Apa yang telah kami lakukan semuanya bermuara pada kenyataan masing-masing pada saat ini. Ya… sepertinya alam kami berbeda. Namun semua itu bisa menjadi kekuatan untuk mencapai kebahagiaan jika disikapi dengan penuh kedewasaan. Sebagaimana pesan sebuah syair salah seorang teman, seperti ini :

NALEK WIDADARI SUPRABA

Ceuk saha Janaka caliweura?
Pan eta mah Niwatakawaca nu hayang ngagunasika darajat wanoja,
Ceuk saha Supraba satia?
Pan loba para Batara nu wakca balaka hayang migarwa,
Supraba wanoja digjaya bet bisa meruhkeun carita Janaka pajar dirina brukbrak bisa muka lawang saketeng,
Janaka atawa Supraba caritana bisa naratas jagatraya,
Waruga nyangsaya na palataran kahyangan Indraloka nu mo bisa kadongkang,
Ceuk Niwatakawaca lantaran sawawa dina rasa cinta nu pabeda alam.

sumprek Ceko, 22/08/2010 (wawan ajen)

SIAPA BIDADARI SUPRABA

Siapa yang berkata Janaka gegabah?
Katanya Niwatakawaca berniat menggoda derajat seorang putri,
Siapa berkata Supraba setia?
Katanya semua Batara berniat memperistrinya,
Supraba seorang putri yang beruntung karena meluluhkan cerita Janaka sehingga tak ada yang menghalang-halangi membuka gapura keraton,
Janaka dan Supraba adalah cerita kehidupan yang menembus seluruh alam,
Badan akan sengsara karena tak mencapai kebahagiaan,
Karena kedewasaan dan kekuatan cinta yang berbeda kata Niwatakacawa.

(Karya Wawan Gunawan Ajen, alih bahasa oleh Atep T. Hadiwa)

Puji syukur kami ditakdirkan bersua kembali dengan beberapa orang teman lama setelah dalam kurun waktu 25 tahun tidak tahu kabar beritanya dan tidak pernah bertemu. Saat pertemuan itulah kami mencoba untuk mengenang kembali masa-masa lalu yang ketika itu kami lewati bersama, tentunya dengan penuh suka cita. Pertemuan itu tentunya sangat berharga bagi kami. Mengapa tidak? Karena dengan pertemuan itulah kami mencoba merajut kembali ikatan pertemanan dan kekerabatan yang dahulu sempat bersemi, dan kini makna pertemanan itu harus dilanjutkan dalam bentuk jalinan silaturahmi yang lebih bermakna lagi. Sekali lagi, pertemuan itu benar-benar telah membangkitkan sebagian perasaan dan jiwa kami untuk merenungkan dan memikirkannya. Harus kami sadari bahwa tanpa momen “Ramadhan & Idul Fitri” barangkali akan sangat sulit untuk merancang pertemuan seperti itu. Bagi kami, pertemuan itu jelas merupakan suatu peristiwa yang penuh dengan makna kehidupan, untuk mencoba menyadarkan diri, merenungi jalan hidup yang selama ini dijalani, dan memupuk semangat hidup agar menapaki suatu keberhasilan mencapai cita-cita.

Mengapa kami katakan demikian?
Harus kita sadari bahwa beban dan tantangan hidup pada masa-masa kini semakin kompleks, sedangkan kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan ini jelas memerlukan jaminan keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika hal itu kami kaitkan dengan pertemuan yang kami alami, kami menjadi tahu tentang siapa dan bagaimana kami saat ini dibanding dengan 25 tahun yang silam. Akhirnya terpikir oleh kami, apa yang dapat kami perbuat untuk sesama, atau paling tidak untuk teman-teman lama kami. Maka, misi kemanusiaanlah yang harus menjadi komitmen bersama dari pertemuan itu untuk membangkitkan semangat hidup sehingga bisa mengatasi beban dan tantangan hidup di masa datang. Kami bangga kepada teman-teman yang sudah berhasil, tetapi kami bersedih ketika menyaksikan beberapa teman yang mengalami masalah dalam kehidupannya. Oleh karena itu, mari kita ketuk diri masing-masing untuk kembali menjalin silaturahmi, mewujudkan cita-cita bersama dalam memberikan manfaat untuk sesama, walaupun kita berada dalam tempat yang berjauhan dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mari, saling melengkapi dengan mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita.

Barangkali teman-teman berpikir bahwa pertemuan itu sederhana saja, namun bagi saya tidak. Sekilas saya pikirkan itu, karena adanya suatu “Kekuatan Ramadhan dan Indahnya Idul Fitri”. Semuanya itu adalah anugrah yang Maha Kuasa yang harus kita maknai, dan tidak mustahil jika pertemuan itu adalah merupakan suatu media untuk bangkit. Ya… bangkit agar kita dapat hidup.

Oleh: atep t hadiwa js | September 15, 2010

RIUNG MUNGPULUNG NYAWANG MANGSA KA TUKANG

Silaturahmi Alumni SMPN 1 Panumbangan Angkatan ’82 Lulusan ’85
(ku : Atep T. Hadiwa)

Teu ngarasa cape ieuh kuring saparakanca jeung babaturan sanajan peutingna nyileuk nahan katunduh alatan kudu mereskeun jeung nyiapkeun tempat katut alat-alat nu diperlukeun keur kalancaran acara isuk nu meneran dina poe ahad 3 syawal 1431 H. Malah ti samemehna ge geus diembarkaeun kurang leuwih pisapuluh poeeun nepi ka masang spanduk jeung baligo sagala di sisi jalan, kulantaran acara hayang sukses bari jeung babaturan bisa daratang ngahadiran dina waktuna. Rada ngarasa melang jeung hariwang kuring saparakanca teh sok inggis babaturan teu daratang. Ku kitu tea mah enya hariwang pisan, sabab ngabejaan babaturan kacida susahna, maklum kurang leuwih geus 25 taun teu patepung, geus pabarencay ngalumbara jigana teh rupa jeung pangawakan geus rarobah parangling. Jigana mah mun isuk tepung teh bakal wawanohan deui sakumaha baheula anyar tepung.

Gancang carita, kuring isukna kira-kira tabuh satengah dalapan geus datang di tempat nu geus ditangtukeun. Rarasaan mah asa nu pangheulana datang, singhoreng geuning Tahrudin babaturan kuring nu baheula awakna pendek kiwari ge angger keneh pendek. Ngan bedana teh ayeuna mah geus kumisan kasampak geus aya bari jeung riweuh keur ngatur meja katut kadaharan nu disiapkeun. Gede pisan tah tanggungjawabna Tahrudin teh, sakumaha kasapukan waktu keur ngabagi-bagi pancen. Kadaharan nu disiapkeun diantarana nyaeta rupa-rupa olahan kadaharan nu asalna tina sampeu, aya comro, goreng sampeu, seupan sampeu, deblo ipis, malah aya colenak sagala. Teu lila ti harita tingkurunyung babaturan sawarehna mimiti daratang, enya pisan nu kajadian tingharuleng, silih pelong, silih pencrong bari jeung nginget-nginget ngaran, saha ari ieu….. jeung saha ari itu…..! Ari inget, ari gabrug, silih gabrug bari tingcakakak mudalkeun kasono sanggeus kurang leuwih 25 taun teu patarepung.

Tah geuning geus rada euyeub babaturan daratang na teh, malah jigana geus rada laleuleuseun balagonjangan, ngalonyeng jeung sempal guyon. Celengkeung teh….. itu geuning Dedeh Darliah bari ngeupeul mik ngadeg di payun terus nyarita, oh enya geuning rek muka acara. Teu sangka geuning si aceuk masih keneh cerewed alias bawel teu beda waktu harita 25 taun kaliwat. Atuh acara dimimitian ku pangwilujeng ka sadayana dulur nu geus bisa hadir. Nuhun cenah…. tos tiasa hadir dina raraga Silaturahmi Alumni SMPN 1 Panumbangan Angkatan ’82 Lulusan ’85, nya dijudulan “Riung Mungpulung Nyawang Mangsa ka Tukang”. Saterusna si aceuk bari teu weleh ‘menebar senyum’, mikeun ancak ka ketua osis waktu harita 25 taun kaliwat, sumangga cenah dihaturanan.

Geuleuyeung…. Jehan Hidayat, angger keneh eta ge leumpang na teh ngageuleuyeung persis….. jeung kabayang baheula bari make calana sontog warna biru. Gep kana mik, terus nyarita….
Jehan ngamimitian sanuk-sanuk papalaku, terus ngabejakeun kronologisna acara nu ayeuna keur dilaksanakeun.

Cenah awalna mah pangna hayang ngayakeun silaturahmi alumni teh ku sabab inget jeung ngarasa sono hayang patarepung deui jeung sakabeh babaturan nu saangkatan baheula keur mangsa di SMP. Ari tujuan jeung maksudna ceuk Jehan, kahiji ngupayakeun tepung atawa silaturahmi, kadua ngumpulkeun data sakabeh alumni dina kayaan kiwari, katilu ngararancang ngawangun wadah alumni anu mandiri, kaopat pikeun kahareupna hayang ngawujudkeun hiji ‘lembaga’ atawa organisasi resmi anu mere mangpaat keur kahirupan balarea boh widang sosial, pendidikan, budaya, oge nu sejenna. Saterusna Jehan nganuhunkeun ka dulur-dulur nu geus ngarojong ku tanaga, pikiran, oge materi, kana kalaksanakeunna acara silaturahmi eta. Samalah nganuhunkeun pisan ka dulur anu geus ikhlas nyisihkeun sawareh rejekina pikeun lancarna acara. Cenah waragad nu digunakeun pikeun acara silaturahmi eta, ngahaja teu matok atawa ngalas ka sakumna babaturan. Ari alesan mah ceuk Jehan… sok inggis aya sawarehna babaturan anu hoream datang alatan dialas biaya. Nu dipiharep, sakabeh babaturan ulah sungkan jeung era datang kana eta acara alatan ngarasa geus aya beda antara hiji jeung nu lianna. Paralun…… ceuk Jehan, ulah ngarasa kitu, malah susuganan aya mangpaatna pikeun nangtukeun nasib keur kahareupna. Kabuktian geuning…. sawareh dulur-dulur nu geus mapan rejekina nembongkeun kanyaah tur kaheman kalawan ngarasa sugema bisa ngabantu ngawaragadan acara, malah sawarehna waragad nu aya bakal dimangpaatkeun pikeun mere santunan ka sawareh babaturan nu kaayaanna dina waktu kiwari kacida perlu dibantu.

Sarengsena Jehan nyarita, terus ngagupayan kuring, Wawan Gunawan, jeung Anang Suryana. Sok geura kahareup cenah…. gantian nyarita! Simanahoreng Jehan ingeteun pisan yen kuring, Wawan, jeung Anang teh baheula 25 taun kaliwat sok maen calung, malah jadi grup calung SMP. Atuh kuring tiluan ngarayap kahareup terus kuring ngeupeul mik.
Ceuk kuring, tah ayeuna urang ngawawaas waktu harita keur mangsa urang sagulung sagalang di bangku SMP. Kuring menta Wawan Gunawan macakeun sajak. Kuring inget ari Wawan teh ti baheula oge geus boga teureuh ‘dalang’, malah geus sohor jadi dalang angkatan remaja. Kerewek Wawan ngeupeul mik, terus maca sajak anu eusina kurang leuwih ngajak maca riwayat salila 25 taun kaliwat jeung ngajak miara tali duduluran dina mangsa kiwari.

Ari der teh… enya wae, teu antaparah deui Wawan maca sajak bari make sora ‘Arya Seta’, eta beledagna sora ‘Arya Seta’ bari handaruan matak muringkak bulu punduk. Kuring sarerea bungah bari ngarasa waas… nitenan nepi ka rengse Wawan maca sajak,

PANGANTEUR
“Riung Mungpulung Nyawang Mangsa ka Tukang, 03 Syawal 1431 H.”

baheula… 25 taun kaliwat,
urang babarengan karumpul ngatik pangarti di SMPN 1 panumbangan
baheula… taun 1982,
urang silih pelong silih pencrong, silih toél silih oconan,
galumbira pada-pada mawa watek séwang-séwangan
baheula…
urang teu apal rék ka mana nya lampah, rék kumaha nya kalakuan, rék jadi saha jeung rék jadi naon na mangsa nu bakal datang,
anging takdir manten-Na nu Maha Agung nu jadi gurat titis tulis nasib
kiwari…
urang masih babaturan nu masih kénéh héman, euweuh nu beda sajeroning milampah maca riwayat salila 25 taun
kahadé…
ulah laas kahujanan, ulah luntur kaibunan, ulah maragatkeun tali babaturan waktu harita, malah duduluran nu kudu diipuk,
malah mandar gede mangfa’at, urang maraca nasib keur kahareupna,
yuu…
urang karumpul silaturahmi, ngumbar kasono balakecrakan,
urang nyawang mangsa katukang
réréongan babarengan,
sasieureun- sabeunyeureun bakal ngawujudkeun silaturahmi urang sarerea
sugan… urang wujudkeun rencana kahareupna nu leuwih nyata pikeun ngajalin tali silaturahmi urang.
(atep_js, 12 Sep 2010)

Saterusna, giliran kuring maca sajak beunangna Wawan. Cenah… baca tah sajak kuring, nu eusina kira-kira ngajak ngaragap diri meungpeung masih aya dina suasana lebaran. Atuh der…. deui wae kuring maca sajak sabisa-bisa. Ngan ceuk kuring mah ieu sajak teh aneh kacida, kieu geura :

TALAJAK BUTA JEUNG SI CEPOT DI PRAHA

Jekrek- jekrek Si Cepot motah ngababukan hulu buta,
ger bule-bule nu keur nongton surak alatan mupuas talajak buta.
Talajak buta naha asa aya dina diri kuring sorangan?
nu poho kana wanci,
singhoreng panongton mirengeuh talajak kuring nu keur poekeun.
Bareng jeung tanceb kayon mangsa lakakon dipungkas.
Horeng ari inget di lembur mah geuning kiwari teh keur takbiran sabada rengse puasa sabulan campleng.
Gusti hampura geuning aya keneh talajak buta nu nyelap na kongkolak mata jeung sagelas Vodka na genggerong kuring //

Praha, Ceko: 07092010.
Wilujeng Boboran Siam. Hampura lahir, hampura batin. (wawan@jen)

Beres kuring, saterusna giliran Anang Suryana ngawih. Baheula 25 taun kaliwat Anang pamingpin lamun keur maen calung. Dedegana jangkung tur badag jeung angger rada hideung, tapi geuning alus ngawihna mah. Anang cacalawakan ngawih lagu ‘Ulah Cuerik’, lagu sunda jigana mah…
Wah… waas kacida, ngalagenah eta Anang ngawih tepi ka babaturan nu sejen nu tadina cimekblek dina korsi ngadadak tingkuniang ngaradeg terus ngarampayak ngaribing. Duh… waas lah pokona mah. Edaaas… eta nu ngarampayak, aya Rustiadi, Maman Kopasus, Yayat Ruhyat, Tahrudin, eta euleuh Nur Eliati, Enok Wartika, itu geura…. Nani Nurhayati oge ngageol…!

Minangka panyelang acara, saterusna kuring macaan daftar absen unggal kelas anu persis jeung waktu harita 25 taun kaliwat. Babaturan nu hadir terus ka hareup baris ngarendeng terus dipoto.
Dimimitian ti kelas A, nya anu hadir teh nyaeta : Ai Lelah H, Dadang Selamet, Endang, Husni Mubarok.

Kelas B, nu hadir nyaeta : Agus S. Toni, Dede Suhada, Jehan Hidayat, Kurniadi, Maman, Rahmat, Tahrudin, Titin Kartini, Wawan Sunarwan, Yani Garini.

Kelas C, nu hadir nyaeta : Awan Sutiawan, Dede Ateng Jaelani, Dedeh Darliah, Iis Dahyati, Ita Hartita, Maman Sulaeman, Ojat Suparman, Reni Riyani, R. Rita Malinda, Rosid Suhendar, Suhenda, Uus Jahidarius, Uus Kusnawan.

Kelas D, nu hadir nyaeta : Anang Suryana, Ate Haryana, Atep Tatang, Endang Dudun Abdulah, Ida Roaida, Jaja Subagja, Nunu Nugraha, Tatang Wahyudin, Nanang Herdiana.
Kelas E, nu hadir nyaeta : Endang Rahmat, Engkus Kusmana, Kusna Herlan Noor, Rustiadi, Wawan Darmawan.

Kelas F, nu hadir nyaeta : Asep Maskur, Enok Wartika, Nani Nurhayati, Neneng Indrajati, Wawan Gunawan, Neni Amalia S., Nur Eliati, Popong Wartini, Yayat Ruhyat.

Wah… tegep lah, sakabeh nu hadir ti unggal kelas beres dipoto. Saterusna, Jehan nyarita deui yen pikeun kahareupna baris dilaksanakeun ngararancang program nu leuwih nyata, nyaeta hayang ngawujudkeun hiji lembaga atawa organisasi resmi anu dilola ku kakuatan alumni ku jalan ngamangpaatkeun sakabeh potensi anu aya. Jigana optimis pisan, dina waktu anu moal lila deui baris dilaksanakeun ririungan anu dihadiran ku wawakil ti unggal kelas.

Saterusna, acara ramah tamah minangka acara bebas ngumbar kasono, balakecrakan, jeung hiburan alakadarna jadi acara pamungkas. Teu sangka geuning…. Yayat Ruhyat ngahaleuangkeun kawih-kawih lawas, nostalgia, kacida ngalagenahna. Eta kumisna ngajiripit, jadi gendut pangawakana, padahal baheula mah leutik jeung pendek bari jeung cicingeun. Disambung ku Rustiadi, milu aub ngahaleuang, ngalagenah oge sanajan rada sumbang sorana, mantri Iyus ayeuna mah katelah na teh. Tuh geuning… Enok Wartika, ibu dosen oge ngahaleuang, duka naon kawihna, pokona mah ngalagenah oge. Aya oge ‘duet maut’ sebagai bintang tamu, Iis Dahyati jeung Wawan Darmawan ngahaleuang dangdutan…. Siiiip lah…! Kitu geuning tah… gumulungna kasono anu tamplok di aula Desa Medanglayang, sabada 25 taun teu patepung.

Teu karasa waktu nyerelek, geuning geus tabuh 12 peuting ieu teh, kuring anteng “Nyawang Mangsa ka Tukang”. Cag…. Heula ah,

Katitipan saur ti sadaya dulur, ‘hatur nuhun‘ SPECIAL kanggo :
ASEP TOHARI, KUSNA HERLAN NOOR, RENI, UUS KUSNAWAN, WAWAN GUNAWAN, sareng ITA HARTITA.
Teu kantun ‘hatur nuhun’ oge kanggo :
Dede Suhada, Titin Kartini, Dedeh Darliah, Rosid Suhendar, Nunu Nugraha, Nanang Herdiana, Enok Wartika, Neni Amalia S., Maman Abdurahman, Koharudin, Nur Eliati, Kosasih, Iis Dahyati, Dede Ateng Jaelani, Erpin Marpinda, Ida Roaida, Neneng Indrajati, Asep Maskur, Yayat Ruhyat, Rahmat.
Mugi Alloh SWT ngawales kasaeanna, kalayan materi anu tos dipaparinkeun mugi sing mangpaat tur barokah, enggal kagentosan anu langkung ageung. Amin.

(Sertifikasi : Universitas Pendidikan Indonesia)

Terima kasih kepada segenap jajaran panitia Sertifikasi Guru dalam Jabatan Rayon X Jawa Barat, sejauh ini telah memberikan kemudahan kepada kami untuk mengetahui hasil dan berbagai perkembangan seputar Sertifikasi Guru. Selamat menjalankan tugas hingga sampai di muara harapan, sekalipun penuh dengan tantangan dan hambatan.

Tidak ada salahnya apabila saya sebagai karyawan Departemen Agama di lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis merasa ‘sangat prihatin’ ketika mengetahui hasil penilaian portofolio sertifikasi guru dalam jabatan kuota 2008, yang memberikan indikasi bahwa saya dan rekan-rekan guru lainnya boleh dinyatakan ‘belum layak untuk menduduki jabatan profesional sebagai guru’.

Mengapa demikian? Karena, sesuai hasil penilaian portofolio yang diumumkan, ternyata dari sejumlah peserta sertifikasi guru yang berasal dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis yaitu sebanyak 89 peserta, 80,9% atau sebanyak 72 peserta harus mengikuti undangan MPPLPG (PLPG), sedangkan yang dinyatakan LULUS hanya 17 peserta saja atau mencapai 19,1%.

Bagi saya kenyataan ini sangat memilukan, karena dalam pandangan awam saya, undangan untuk mengikuti MPPLPG (PLPG) adalah cerminan suatu kenyataan bahwa saya dan rekan-rekan guru lainnya belum/tidak sesuai dengan harapan yang sebenarnya dalam memenuhi instrumen penilaian sertifikasi guru dalam jabatan. Instrumen tersebut adalah sebagai berikut.

KOMPONEN PORTOFOLIO
(SESUAI PERMENDIKNAS NO. 18 TAHUN 2007)

1. Kualifikasi akademik
2. Pendidikan dan pelatihan
3. Pengalaman mengajar
4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
5. Penilaian dari atasan dan pengawas
6. Prestasi akademik
7. Karya pengembangan profesi
8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah
9. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial
10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

MPPLPG (PLPG) sangat bermanfaat memang; akan memberikan wawasan dan pengalaman yang lebih luas, memerkaya penguasaan teknik-teknik pembelajaran, memahami lebih mendalam tugas dan kewajiban seorang guru, meningkatkan kompetensi keguruan, menguasai sikap profesionalitas, mendapat pengetahuan baru, dan lain sebagainya.

Namun, tampaknya tidak sesederhana itu. Data yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sertifikasi guru dalam jabatan yang berasal dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis diundang untuk mengikuti MPPLPG (PLPG), ini merupakan ‘peringatan’, sekaligus menyiratkan bahwa memang jabatan tenaga profesional sebagai ‘guru’ tidak dengan mudah dapat diraih dengan begitu saja.

Terlepas dari kenyataan itu, alangkah bijaknya jika kita sebagai seorang guru terus berupaya meningkatkan kemampuan dan memperbaiki sikap guna menunjang tugas dan beban kita dalam menjalankannya.

Selamat, kepada rekan guru yang sudah lulus, dan bagi rekan guru yang diundang dalam MPPLPG (PLPG) selamat mengikutinya dengan penuh keyakinan bahwa masa depan adalah akan lebih baik. Untuk mengetahui hasil dan perkembangan seputar sertifikasi guru, silakan mengikutinya di http://www.sertifikasiguru-r10.org, atau jika mengalami kesulitan berikut data hasil penilaian rayo X khusus peserta dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis.

Untuk rekan-rekan guru Madrasah yang ingin mengetahui Daftar Calon Sertifikasiguru Tahun 2009 dapat membacanya di http://www.depag.go.id/index.php?a=artikel&id2=dafsertifikasiguru2009.
Selamat menyongsong ‘Era Profesionalisme’ dengan senantiasa memerhatikan rambu-rambu profesionalitas, sehingga karakteristik ‘Guru Profesional’ benar-benar tercermin. Majulah Pendidikan kita…

(sumber data : http://sertifikasiguru-r10.org/page/hasil, 28 desember 2008)

Oleh: atep t hadiwa js | Desember 7, 2008

“PENTINGYA REFORMASI BIROKRASI”

(Guru di Lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis ikuti Seminar Manajemen SDM di Sekretariat Negara RI)

Hari Jumat, 28 November 2008, kami berkunjung ke Kantor Sekretariat Negara RI di Jakarta. Kedatangan kami disambut langsung oleh Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dan Staf Ahli Mensesneg Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum. Maksud kunjungan kami di sana sekaligus untuk mengikuti Seminar Nasional tentang “Manajemen Sumber Daya Manusia”.

Sebagai guru (pegawai) di lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis, juga sebagai mahasiswa Universitas ARS Internasional, saya bersama rekan lainnya yaitu; Asep Ihwanul, Engkun, Nono Karnadi, Neli Nuraneni, dan H. Nia Kusniah, memeroleh suatu pengalaman yang sangat berharga dari seminar tersebut. Di samping menerima paparan yang berkaitan dengan topik seminar, kami juga memeroleh berbagai informasi seputar kesekretariatan negara, dan informasi aktual program pemerintah, serta pembangunan lainnya.

Tepat pukul 08.30, kami melakukan registrasi kedatangan dan disambut oleh jajaran kesekretariatan negara, dan sejenak beramah tamah sambil menunggu acara dimulai. Acara tersebut dihadiri oleh 42 delegasi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas ARS Internasional, Wakil Rektor Universitas ARS Internasional Bapak Dr. H. Purwadi, M.Pd., Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas ARS Internasional Bapak A. Rohendi Amir, SH., MM. Sedangkan pejabat Sekretariat Negara yang hadir pada saat itu yakni; Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dan Staf Ahli Mensesneg Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., serta Kepala Biro Organisasi dan Humas Bapak Djajuk Natsir, SH., MM.

Mengawali acara pada saat itu, Bapak Dr. H. Purwadi, M.Pd. mengemukakan bahwa pentingnya bagi mahasiswa yang sebagian besar adalah sebagai pegawai, baik PNS juga bukan PNS, agar senantiasa meningkatkan wawasan, kompetensi, dan sikap profesional dalam bekerja. Harapan lain juga dikemukakan beliau, bahwa kita sebagai SDM di lingkungan tempat bekerja masing-masing, saat ini sangat dituntut untuk menyesuaikan dan meningkatkan kemampuan sehingga menjadi kompetitif dengan yang lainnya.

Selanjutnya Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dalam paparannya mengenai Struktur Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Negara menegaskan bahwa tugas utama Sekretariat Negara tiada lain adalah; memberikan dukungan teknis dan administrasi kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan negara. Sedangkan sejumlah fungsi, yang tidak lebih dari 8 fungsi sebagai Sekretariat Negara, semuanya mengacu pada pemberian dukungan, penyiapan naskah, koordinasi pelayanan dan dukungan teknis, serta pelaksanaan fungsi-fungsi lain yang diberikan oleh Presiden dan Wakil Presiden, juga yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Kesan yang kami dapatkan dari paparan Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia ini, tiada lain telah memberikan suatu deskripsi bahwa dalam manajemen SDM di lembaga atau instansi manapun, pada saat ini sangat perlu melakukan berbagai upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan mengembangkan kompetensi SDM, terutama dalam menempatkan setiap SDM sehingga proporsional, dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Lain halnya dengan Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., sebagai Staf Ahli Mensesneg, beliau mengupas masalah yang terkait dengan Reformasi Birokrasi. Beliau memaparkan bahwa pentingnya melakukan perubahan budaya kerja pada berbagai lembaga birokrasi, karena reformasi birokrasi menuntut; menghendaki pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government),yakni penyelenggaraan negara dengan mengedepankan proses demokratisasi melalui pemberdayaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, civil society yang aktif, partnership pemerintah dan masyarakat, dan kemampuan menghadapi pluralisme.

Ada hal yang sangat penting dari paparan beliau, dan sangat bertemali dengan keseharian kami (terutama para abdi negara, pegawai, PNS, dan lainnya), yakni latar belakang reformasi birokrasi, sebagai berikut:
1) Penyelenggara pemerintahan tidak memiliki kompetensi dan profesionalisme birokrasi;
2) Tidak transparan, dalam setiap proses pengambilan kebijakan publik dan pelaksanaan seluruh fungsi pemerintahan tidak terbuka;
3) Tidak dapat dipertangungjawabkan, artinya setiap tugas dan tanggung jawab pemerintahan tidak diselenggarakan dengan baik;
4) Tidak melibatkan masyarakat dalam program perencanaan dan pelaksanaan pembangunan;
5) Tidak tegaknya hukum yang menyebabkan menjamurnya korupsi, kolusi, dan nepotisme; serta
6) Tidak adanya kesetaraan dan keadilan, yang menyebabkan masyarakat tidak merasa terayomi.

Sangat membanggakan dan mencerahkan seusainya kami mendapatkan penjelasan dari Lembaga Negara itu. Dan kami sangat berharap, hal ini segera menular ke lembaga-lembaga birokrasi di tingkat daerah. Harapan lain, karena kami berprofesi sebagai guru, alangkah indahnya jika berbagai hal yang sering kami alami (di lembaga/instansi kami), tidak ditemui lagi. Misalnya; prosedur pengurusan hak-hak kepegawaian yang berbelit dan sangat birokratis, penundaan hak-hak kesejahteraan/gaji sehingga menjadi lambat, sangat kurangnya informasi dan sosialisasi berbagai program, juga masih adanya beberapa lembaga sekolah yang menarik biaya dari orang tua siswa dengan semena-mena dan tanpa alasan yang jelas, masih terlihat penumpukkan bantuan hanya pada satu lembaga/sekolah saja, dan masih banyak hal-hal lainnya yang memang perlu segera tersentuh oleh “Reformasi Birokrasi”. Juga kami berharap “Reformasi Birokrasi” ini menyentuh pula lembaga-lembaga pemerintahan mulai dari tingkat bawah, seperti; Desa, Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi. Selain itu, berbagai panitia, lembaga independen, lembaga swadaya, yang kini banyak terbentuk sampai tingkat daerah (bawah) agar senantiasa meningkatkan kinerjanya. Ketidakterbukaan dan pengelabuan dalam berbagai hal, kini sudah tidak jamannya lagi, masyarakat pun sudah mulai ‘melek’ dan mudah mendapatkan informasi.

Tidak ada salahnya juga kami berbagi informasi, karena masih terkait dengan profesi kami sebagai guru (PNS), dan sangat menyentuh pula pada kesejahteraan serta masa depan kami sebagai pegawai. Kami ingin menyampaikan informasi tentang “Kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil (PNS)”, yang bersumber dari buku yang berjudul “Mengetahui dan Mematuhi Hak Rakyat Miskin; Merupakan Kewajiban Bersama Dalam Menyukseskan Program Pro Rakyat”, diterbitkan oleh SMS 9949 dan PO Box 9949 Jakarta 10000, cetakan April 2008, hal. 20, sebagai berikut:
1) Pemerintah meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri dengan menaikkan gaji setiap tahun, yang besarannya sesuai kemampuan negara, di samping pemberian gaji ke-13. Sebagai contoh untuk PNS golongan 1/a pada tahun 2006 dinaikkan gajinya sebesar 44,5% dari Rp. 692.750 menjadi Rp. 1 juta. Pada tahun 2007 kenaikkan gaji golongan 1/a sebesar 28,54% atau dari Rp. 1 juta menjadi Rp. 1.285.400.
2) Total pendapatan PNS terutama golongan terendah (1/a) ditingkatkan secara signifikan dan konsisten, dari Rp. 692.750 per bulan pada tahun 2005 menjadi Rp. 1 juta per bulan pada tahun 2006 atau naik 44,5%. Dan pada tahun 2007 meningkat kembali manjadi Rp. 1.285.400 per bulan atau meningkat 28,5%.
3) Tahun 2008 gaji PNS naik lagi. Berkaitan dengan hal ini pada tanggal 25 Februari 2008 Dirjen Perbendaharaan Departemen Keuangan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Perbendaharaan Nomor SE-12/PB/2008 tentang penyesuaian besaran gaji pokok PNS, Hakim Peradilan Umum, Hakim Peradilan Tata Usaha Negara, Hakim Peradilan Agama, anggota TNI, dan anggota Polri.
4) Dalam SE itu disebutkan pembayaran gaji bulan April 2008 harus sudah menggunakan besaran gaji pokok baru. Untuk kekurangan pembayaran gaji bulan Januari –Maret 2008 diupayakan dapat dibayarkan pada April 2008.
5) Gaji pokok terendah untuk PNS mulai tahun 2008 sebesar Rp. 910.000 dan tertinggi sebesar Rp. 2.910.000.

Mudah-mudahan saja apa yang terbaik bagi kita, bangsa, dan negara ini segera dapat kita capai, sehingga kita terlepas dari ancaman keterpurukkan. Tak lupa pula, kita sebagai SDM bangsa ini (di lembaga dan bidang apa pun), mari kita junjung tinggi semangat profesionalisme yang pada akhirnya kita akan menjadi bagian dari komponen pegawai yang profesional dan senantiasa menyadari atas segala kelemahan, serta berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi masing-masing.

Sumber bacaan:
Bambang Prajitno, SH., MM., Paparan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Negara, Deputi Mensesneg Bidang SDM, Jakarta : 2008
Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sektretariat Negara RI, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI, Jakarta : 2008
Sardan Marbun. Editor, Mengetahui dan Mematuhi Hak Rakyat Miskin; Merupakan Kewajiban Bersama Dalam Menyukseskan Program Pro Rakyat, SMS 9949 dan PO Box 9949 Jakarta 10000, Jakarta : 2008

Oleh: atep t hadiwa js | November 15, 2008

ATLAS KABUPATEN CIAMIS, SEBUAH KARYA BESAR

atlas ciamisSebulan yang lalu sekolah kami menerima sebuah atlas, yang di covernya tertulis judul “ ATLAS KABUPATEN CIAMIS”, lengkap dengan ilustrasi gambar bola dunia, disertai logo kabupaten Ciamis, serta keterangan substansi isi peta, meliputi: data dan lokasi sekolah, data dan lokasi wisata, data dan lokasi industri, data dan lokasi pertambangan, dll. Atlas Kabupaten Ciamis cetakan pertama November 2007 itu disusun oleh dua penyusun muda berbakat yakni Tohirin dan Dadi Ahmad Fauzi, dan diterbitkan oleh CV. Wahana Karya Grafika, terdiri dari 39 halaman.

Sungguh, atlas tersebut merupakan suatu karya yang sangat membanggakan dan cukup monumental bagi Kabupaten Ciamis dalam perjalanannya melakukan berbagai pembenahan dalam rangka membangun daerah sesuai dengan visi dan misi pemerintah Kabupaten Ciamis. Atas diterbitkannya atlas tersebut, saya sebagai warga tatar galuh Ciamis merasa sangat bangga dan sangat terkesan, karena paling tidak sebagai warga Ciamis akan memiliki panduan yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang geografi dan demografi Ciamis. Selain itu, atlas itu pun akan sangat membantu pembaca untuk menemukan petunjuk dan informasi sesuai dengan substansi isi yang disertakannya. Mewakili warga ciamis, saya igin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada tim penggagas, terutama pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis.

Namun di samping kebanggaan itu, tidak salah rasanya jika saya mencoba menyajikan tanggapan tentang atlas tersebut. Paparan tanggapan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kekurangan atau kesalahan, karena jujur saja, bahwa saya pun bukan seorang ahli atau orang yang mengetahui banyak tentang peratlasan atau perpetaan. Paparan ini hanya dimaksudkan sekedar menyampaikan harapan saja, agar pada suatu saat dapat ditemukan “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang benar-benar akurat dan tepat.

Paparan ini dilatarbelakangi oleh temuan-temuan setelah mencoba membaca dan mencermati atlas tersebut. Informasi utama yang dapat diperoleh dari atlas tersebut, merupakan temuan awal yang mudah dipahami yakni meliputi; (1) data dan lokasi sekolah, (2) data dan lokasi wisata, (3) data dan lokasi industri, serta (4) data dan lokasi pertambangan. Keempat substansi isi itu merupakan informasi umum dari sajian atlas tersebut. Temuan-temuan mengenai aspek isi/materi, penyajian, dan kegrafikaan merupakan hal yang sesungguhnya yang harus tersaji di dalamnya. Bertemali dengan hal itu, berikut ini merupakan hasil temuan yang didasarkan pada ketiga aspek tersebut.

Aspek isi/materi
Dari aspek isi/materi, didapat suatu temuan yang terus terang saja terkesan bahwa atlas tersebut terlihat belum lengkap. Satu contoh, misalnya mengenai informasi ‘data dan lokasi sekolah’. Barangkali yang dimaksud dengan ‘data dan lokasi sekolah’, dalam pandangan awam saya akan menyajikan data sekolah lengkap dengan nama sekolah atau alamat, mulai dari tingkat TK sampai dengan PT, juga dipetakan dalam atlas secara akurat (posisi yang sebenarnya). Namun, ternyata ada temuan yang menunjukkan kekuranglengkapan baik data, juga peta, antara lain:
(1) Data sekolah tingkat SD dan MI hanya ditulis dalam daftar sekolah saja pada bagian halaman/lembar peta tertentu per-kecamatan. Padahal, peta setiap kecamatan tersebut masih terlihat kosong dan masih mungkin untuk menyajikan berbagai informasi dan gambar lainnya. Jadi temuannya, bahwa sekolah tingkat SD/MI tidak dipetakan dalam atlas tersebut. Pemetaan hanya dibatasi mulai dari tingkat SMP/MTs, SMA/MA, dan PT saja. Sebaiknya pemetaan sekolah disajikan secara menyeluruh dari tingkat TK sampai dengan PT, dan dilengkapi dengan keterangan nama atau alamat sekolah. Kemudian secara keseluruhan, atlas tersebut sebenarnya hanya menyajikan pemetaan saja, informasi datanya terkesan sangat kurang. Bahkan ada hal yang sangat penting dan seharusnya disajikan dalam atlas tersebut, ternyata belum lengkap juga. Hal dimaksud adalah informasi data dan peta tentang kantor lembaga/instansi tertentu, misalnya Puskesmas, Polsek, Koramil, atau kantor-kantor layanan masyarakat lainnya, mengingat hal tersebut merupakan aspek penting dalam suatu peta wilayah dan pemerintahan.
(2) Secara keseluruhan, sajian substansi isi atlas sebagaimana tertulis pada halaman jilid (cover), tampaknya terkesan belum terpenuhi. Mengapa demikian? Karena substansi isi yang seharusnya disajikan, meliputi; data dan lokasi sekolah, data dan lokasi wisata, data dan lokasi industri, data dan lokasi pertambangan, masih belum memberikan informasi yang jelas dan lengkap. Padahal, pembaca akan benar-benar berharap memeroleh data tentang substansi isi atlas tersebut, dan menemukan pemetaan setiap lokasi dengan tepat.

Aspek penyajian
Terkait dengan aspek penyajian, mungkin dapat disampaikan bahwa hasil temuan pemetaan wilayah Kabupaten Ciamis tersebut, sebaiknya perlu diperbaiki dengan melibatkan berbagai unsur, lembaga, atau ahli yang berkompeten di bidangnya. Sekalipun pada dasarnya bahwa sebagian besar pembaca adalah kalangan yang awam dan buta tentang atlas, namun tidak ada salahnya apabila aspek penyajian atlas tersebut tetap berupaya untuk menyajikan atlas yang menarik dengan isi dan ilustrasi yang tepat. Alasannya, karena beberapa temuan berikut, antara lain:
(1) Atlas tersebut memetakan wilayah setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis. Dengan pemetaan setiap kecamatan itu, berarti wilayah yang dipetakan menjadi semakin sempit dan semakin khusus, sehingga ilustrasi peta kecamatan itu pun menjadi lebih luas karena dipetakan dalam satu halaman. Jadi, peta setiap kecamatan yang disajikan terkesan masih kosong dan masih memungkinkan untuk diisi dengan keterangan, gambar, pemetaan lainnya.
(2) Ada kesan yang benar-benar cukup menggangu ketika membaca atlas tersebut, yaitu adanya duplikasi atau penyertaan cetakan peta secara dua kali dengan cara ditempel pada beberapa halaman (peta kecamatan tertentu). Tidak jelas maksudnya, apakah merupakan ralat kesalahan atau dimaksudkan untuk hal lain. Yang jelas, dari aspek sajian hal ini cukup menggangu, dan terkesan menunjukkan bahwa atlas tersebut belum selesai proses editing.

Aspek kegrafikaan
Dari aspek kegrafikaan, tata letak dan ketepatan lokasi yang dipetakan menjadi hal yang sangat penting diperhatikan, karena jika terjadi kesalahan akan mengakibatkan informasi peta itu pun menjadi salah. Memerhatikan hal tersebut, ada beberapa temuan yang terkesan menunjukkan informasi yang salah, di antaranya:
(1) Di peta Kecamatan Cihaurbeuti misalnya, tidak ditemukan peta lokasi SMPN 1 Cihaurbeuti yang berada di wilayah Desa Sukamulya, yang ada adalah SMAN (tidak jelas SMAN apa?). SMAN 1 Cihaurbeuti dipetakan berada di wilayah Desa Cihaurbeuti, padahal SMAN 1 Cihaurbeuti tersebut sebenarnya berlokasi di Desa Pamokolan. Selain itu, ada beberapa penempatan gambar yang salah, misalnya gambar kantor Desa Pamokolan berada di sebelah kanan jalan propinsi, padahal yang sebenarnya kantor desa tersebut berada di sebelah kiri jalan provinsi.
(2) Di peta Kecamatan Panumbangan juga terjadi kesalahan yang sama, misalnya; di wilayah Desa Medanglayang dipetakan ada Pusat Kerajinan Ijuk, padahal selama ini Pusat Kerajinan Ijuk hanya ada di wilayah Desa Panumbangan dan Desa Sukakerta. Contoh lain; SMPN 1 Panumbangan dan SMK Bhakti dipetakan berada di sebelah kanan jalan propinsi, padahal posisi yang sebenarnya kedua sekolah tersebut berada di sebelah kiri jalan. Ditemukan pula kesalahan pemetaan gambar kantor Desa Tanjungmulya, seharusnya berada di sebelah kiri jalan propinsi sebelum SMK Bhakti. Di peta tersebut digambarnya keduanya berada di sebelah kanan jalan, padahal yang sebenarnya berada di sebelah kiri jalan. Lebih tidak dipahami lagi ketika ditemukan di peta, kantor Kecamatan Panumbangan berada jauh dari wilayah Desa Panumbangan. Kantor tersebut dipetakan berada di wilayah Desa Sukakerta, padahal kantor Kecamatan Panumbangan sebenarnya berlokasi di Desa Panumbangan. Di peta wilayah Kecamatan Panumbangan juga tidak ditemukan pemetaan SMPN 2 Panumbangan yang berlokasi di Desa Sindangherang.
(3) Temuan lainnya masih terdapat di peta Kecamatan Panumbangan, yakni pada penggambaran ruas jalan raya (jalan propinsi). Jalan raya propinsi di wilayah Kecamatan Panumbangan membentang dari perbatasan Kecamatan Cihaurbeuti sampai dengan perbatasan Kecamatan Panjalu. Sepanjang ruas jalan raya tersebut, sebenarnya berada di wilayah Kecamatan Panumbangan, namun di peta terkesan terputus di sekitar wilayah Desa Sindangherang, seolah-olah ada sebagian jalan raya tersebut berada di wilayah kecamatan lain.
(4) Di peta wilayah Kecamatan Panjalu, SMPN 1 Panjalu dipetakan berada sebelum kantor Kecamatan Panjalu, padahal seharusnya SMPN 1 Panjalu berlokasi setelah kantor kecamatan tersebut. Sedangkan di peta wilayah Kecamatan Sukamantri, tidak ditemukan pemetaan SMPN 2 Sukamantri yang berlokasi di Desa Sindanglaya.

Beberapa temuan tersebut adalah hasil mencermati dari peta wilayah sebagian kecamatan saja, namun tampaknya dapat dijadikan suatu dasar, dan akan menunjukkan suatu indikasi bahwa pemetaan pada wilayah kecamatan-kecamatan lainnya tidak akan jauh berbeda. Temuan-temuan itulah yang menjadi latar belakang paparan ini, dan sebagai warga tatar galuh Ciamis saya berharap akan terbit lagi “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang lebih jelas, akurat, dan lengkap. Oleh karena itu, dalam pandangan awam saya barangkali dalam hal menyusun dan menerbitkan sebuah atlas, harus benar-benar didasarkan pada informasi yang lengkap dan sangat perlu melibatkan lembaga/instansi, atau ahli yang berkompeten di bidang pemetaan. Terlepas dari hal itu, “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang sudah terbit, tetap menjadi karya yang sangat besar.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.