Oleh: atep t hadiwa js | Maret 5, 2009

Seputar Ujian Nasional Tahun 2009

:: Pengumuman

Jadwal Ujian Nasional (UN)
Berdasarkan kesepakatan bersama (BSNP, Depdiknas, dan Depag) diputuskan jadwal Ujian Nasional sebagai berikut:
1.SMA/MA : 20 s/d 24 April 2009
2.SMP/MTs : 27 s/d 30 April 2009
3.SD/MI : 11 s/d 13 Mei 2009
4.SMK/SMALB : 20 s/d 22 April 2009

Peraturan tentang Ujian Nasional Tahun 2009

A.Kisi-kisi Ujian Nasional Tahun 2009 dapat dilihat dalam:
1.Peraturan Mendiknas Nomor 77 Tahun 2008 Permen SMA & MA http://www.depag.go.id/file/dokumen/PERMENSMAMA.pdf Tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Tahun Pelajaran 2008/2009.
2.Peraturan Mendiknas Nomor 78 Tahun 2008 http://www.depag.go.id/file/dokumen/PERMENSMPMTsSMPLBSMALBSMK.pdf Tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009.
3.Peraturan Mendiknas Nomor 82 Tahun 2008 http://www.depag.go.id/file/dokumen/PERMENSDMISDLB.pdf Tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2008/2009.

B.Prosedur Operasai Standar (POS) pelaksanaan UN tahun 2009 dapat dilihat dalam:
1.POS UASBN untuk SD/MI/SDLB Tahun Pelajaran 2008/2009 http://www.depag.go.id/file/dokumen/POSSDMISDLB.pdf
2.POS UN untuk SMP/MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK Tahun Pelajaran 2008/2009 http://www.depag.go.id/file/dokumen/POSSMPMTsSMPLBSMALBSMK.pdf
3.POS UN untuk SMA/MA Tahun Pelajaran 2008/2009 http://www.depag.go.id/file/dokumen/POSSMAMA.pdf

C.Pelaksanaan Ujian Nasional Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) dapat dilihat dalam:
1.Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor D.I/452/2008 http://www.depag.go.id/file/dokumen/UjianNasionalMAK.pdf Tentang Ketentuan Pelaksanaan Ujian Nasional Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK)Tahun Pelajaran 2008/2009.
2.Kisi-kisi Ujian Nasional Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) http://www.depag.go.id/file/dokumen/KisikisiUNMAK.pdf

Sumber : http://www.depag.go.id

(Sertifikasi : Universitas Pendidikan Indonesia)

Terima kasih kepada segenap jajaran panitia Sertifikasi Guru dalam Jabatan Rayon X Jawa Barat, sejauh ini telah memberikan kemudahan kepada kami untuk mengetahui hasil dan berbagai perkembangan seputar Sertifikasi Guru. Selamat menjalankan tugas hingga sampai di muara harapan, sekalipun penuh dengan tantangan dan hambatan.

Tidak ada salahnya apabila saya sebagai karyawan Departemen Agama di lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis merasa ‘sangat prihatin’ ketika mengetahui hasil penilaian portofolio sertifikasi guru dalam jabatan kuota 2008, yang memberikan indikasi bahwa saya dan rekan-rekan guru lainnya boleh dinyatakan ‘belum layak untuk menduduki jabatan profesional sebagai guru’.

Mengapa demikian? Karena, sesuai hasil penilaian portofolio yang diumumkan, ternyata dari sejumlah peserta sertifikasi guru yang berasal dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis yaitu sebanyak 89 peserta, 80,9% atau sebanyak 72 peserta harus mengikuti undangan MPPLPG (PLPG), sedangkan yang dinyatakan LULUS hanya 17 peserta saja atau mencapai 19,1%.

Bagi saya kenyataan ini sangat memilukan, karena dalam pandangan awam saya, undangan untuk mengikuti MPPLPG (PLPG) adalah cerminan suatu kenyataan bahwa saya dan rekan-rekan guru lainnya belum/tidak sesuai dengan harapan yang sebenarnya dalam memenuhi instrumen penilaian sertifikasi guru dalam jabatan. Instrumen tersebut adalah sebagai berikut.

KOMPONEN PORTOFOLIO
(SESUAI PERMENDIKNAS NO. 18 TAHUN 2007)

1. Kualifikasi akademik
2. Pendidikan dan pelatihan
3. Pengalaman mengajar
4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
5. Penilaian dari atasan dan pengawas
6. Prestasi akademik
7. Karya pengembangan profesi
8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah
9. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial
10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

MPPLPG (PLPG) sangat bermanfaat memang; akan memberikan wawasan dan pengalaman yang lebih luas, memerkaya penguasaan teknik-teknik pembelajaran, memahami lebih mendalam tugas dan kewajiban seorang guru, meningkatkan kompetensi keguruan, menguasai sikap profesionalitas, mendapat pengetahuan baru, dan lain sebagainya.

Namun, tampaknya tidak sesederhana itu. Data yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sertifikasi guru dalam jabatan yang berasal dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis diundang untuk mengikuti MPPLPG (PLPG), ini merupakan ‘peringatan’, sekaligus menyiratkan bahwa memang jabatan tenaga profesional sebagai ‘guru’ tidak dengan mudah dapat diraih dengan begitu saja.

Terlepas dari kenyataan itu, alangkah bijaknya jika kita sebagai seorang guru terus berupaya meningkatkan kemampuan dan memperbaiki sikap guna menunjang tugas dan beban kita dalam menjalankannya.

Selamat, kepada rekan guru yang sudah lulus, dan bagi rekan guru yang diundang dalam MPPLPG (PLPG) selamat mengikutinya dengan penuh keyakinan bahwa masa depan adalah akan lebih baik. Untuk mengetahui hasil dan perkembangan seputar sertifikasi guru, silakan mengikutinya di www.sertifikasiguru-r10.org, atau jika mengalami kesulitan berikut data hasil penilaian rayo X khusus peserta dari lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis.

Untuk rekan-rekan guru Madrasah yang ingin mengetahui Daftar Calon Sertifikasiguru Tahun 2009 dapat membacanya di http://www.depag.go.id/index.php?a=artikel&id2=dafsertifikasiguru2009.
Selamat menyongsong ‘Era Profesionalisme’ dengan senantiasa memerhatikan rambu-rambu profesionalitas, sehingga karakteristik ‘Guru Profesional’ benar-benar tercermin. Majulah Pendidikan kita…

(sumber data : http://sertifikasiguru-r10.org/page/hasil, 28 desember 2008)

Oleh: atep t hadiwa js | Desember 7, 2008

“PENTINGYA REFORMASI BIROKRASI”

(Guru di Lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis ikuti Seminar Manajemen SDM di Sekretariat Negara RI)

Hari Jumat, 28 November 2008, kami berkunjung ke Kantor Sekretariat Negara RI di Jakarta. Kedatangan kami disambut langsung oleh Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dan Staf Ahli Mensesneg Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum. Maksud kunjungan kami di sana sekaligus untuk mengikuti Seminar Nasional tentang “Manajemen Sumber Daya Manusia”.

Sebagai guru (pegawai) di lingkungan Kandepag Kabupaten Ciamis, juga sebagai mahasiswa Universitas ARS Internasional, saya bersama rekan lainnya yaitu; Asep Ihwanul, Engkun, Nono Karnadi, Neli Nuraneni, dan H. Nia Kusniah, memeroleh suatu pengalaman yang sangat berharga dari seminar tersebut. Di samping menerima paparan yang berkaitan dengan topik seminar, kami juga memeroleh berbagai informasi seputar kesekretariatan negara, dan informasi aktual program pemerintah, serta pembangunan lainnya.

Tepat pukul 08.30, kami melakukan registrasi kedatangan dan disambut oleh jajaran kesekretariatan negara, dan sejenak beramah tamah sambil menunggu acara dimulai. Acara tersebut dihadiri oleh 42 delegasi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas ARS Internasional, Wakil Rektor Universitas ARS Internasional Bapak Dr. H. Purwadi, M.Pd., Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas ARS Internasional Bapak A. Rohendi Amir, SH., MM. Sedangkan pejabat Sekretariat Negara yang hadir pada saat itu yakni; Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dan Staf Ahli Mensesneg Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., serta Kepala Biro Organisasi dan Humas Bapak Djajuk Natsir, SH., MM.

Mengawali acara pada saat itu, Bapak Dr. H. Purwadi, M.Pd. mengemukakan bahwa pentingnya bagi mahasiswa yang sebagian besar adalah sebagai pegawai, baik PNS juga bukan PNS, agar senantiasa meningkatkan wawasan, kompetensi, dan sikap profesional dalam bekerja. Harapan lain juga dikemukakan beliau, bahwa kita sebagai SDM di lingkungan tempat bekerja masing-masing, saat ini sangat dituntut untuk menyesuaikan dan meningkatkan kemampuan sehingga menjadi kompetitif dengan yang lainnya.

Selanjutnya Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia Bapak Bambang Prajitno, SH., MM., dalam paparannya mengenai Struktur Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Negara menegaskan bahwa tugas utama Sekretariat Negara tiada lain adalah; memberikan dukungan teknis dan administrasi kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan negara. Sedangkan sejumlah fungsi, yang tidak lebih dari 8 fungsi sebagai Sekretariat Negara, semuanya mengacu pada pemberian dukungan, penyiapan naskah, koordinasi pelayanan dan dukungan teknis, serta pelaksanaan fungsi-fungsi lain yang diberikan oleh Presiden dan Wakil Presiden, juga yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Kesan yang kami dapatkan dari paparan Deputi Mensesneg Bidang Sumber Daya Manusia ini, tiada lain telah memberikan suatu deskripsi bahwa dalam manajemen SDM di lembaga atau instansi manapun, pada saat ini sangat perlu melakukan berbagai upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan mengembangkan kompetensi SDM, terutama dalam menempatkan setiap SDM sehingga proporsional, dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Lain halnya dengan Bapak Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., sebagai Staf Ahli Mensesneg, beliau mengupas masalah yang terkait dengan Reformasi Birokrasi. Beliau memaparkan bahwa pentingnya melakukan perubahan budaya kerja pada berbagai lembaga birokrasi, karena reformasi birokrasi menuntut; menghendaki pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government),yakni penyelenggaraan negara dengan mengedepankan proses demokratisasi melalui pemberdayaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, civil society yang aktif, partnership pemerintah dan masyarakat, dan kemampuan menghadapi pluralisme.

Ada hal yang sangat penting dari paparan beliau, dan sangat bertemali dengan keseharian kami (terutama para abdi negara, pegawai, PNS, dan lainnya), yakni latar belakang reformasi birokrasi, sebagai berikut:
1) Penyelenggara pemerintahan tidak memiliki kompetensi dan profesionalisme birokrasi;
2) Tidak transparan, dalam setiap proses pengambilan kebijakan publik dan pelaksanaan seluruh fungsi pemerintahan tidak terbuka;
3) Tidak dapat dipertangungjawabkan, artinya setiap tugas dan tanggung jawab pemerintahan tidak diselenggarakan dengan baik;
4) Tidak melibatkan masyarakat dalam program perencanaan dan pelaksanaan pembangunan;
5) Tidak tegaknya hukum yang menyebabkan menjamurnya korupsi, kolusi, dan nepotisme; serta
6) Tidak adanya kesetaraan dan keadilan, yang menyebabkan masyarakat tidak merasa terayomi.

Sangat membanggakan dan mencerahkan seusainya kami mendapatkan penjelasan dari Lembaga Negara itu. Dan kami sangat berharap, hal ini segera menular ke lembaga-lembaga birokrasi di tingkat daerah. Harapan lain, karena kami berprofesi sebagai guru, alangkah indahnya jika berbagai hal yang sering kami alami (di lembaga/instansi kami), tidak ditemui lagi. Misalnya; prosedur pengurusan hak-hak kepegawaian yang berbelit dan sangat birokratis, penundaan hak-hak kesejahteraan/gaji sehingga menjadi lambat, sangat kurangnya informasi dan sosialisasi berbagai program, juga masih adanya beberapa lembaga sekolah yang menarik biaya dari orang tua siswa dengan semena-mena dan tanpa alasan yang jelas, masih terlihat penumpukkan bantuan hanya pada satu lembaga/sekolah saja, dan masih banyak hal-hal lainnya yang memang perlu segera tersentuh oleh “Reformasi Birokrasi”. Juga kami berharap “Reformasi Birokrasi” ini menyentuh pula lembaga-lembaga pemerintahan mulai dari tingkat bawah, seperti; Desa, Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi. Selain itu, berbagai panitia, lembaga independen, lembaga swadaya, yang kini banyak terbentuk sampai tingkat daerah (bawah) agar senantiasa meningkatkan kinerjanya. Ketidakterbukaan dan pengelabuan dalam berbagai hal, kini sudah tidak jamannya lagi, masyarakat pun sudah mulai ‘melek’ dan mudah mendapatkan informasi.

Tidak ada salahnya juga kami berbagi informasi, karena masih terkait dengan profesi kami sebagai guru (PNS), dan sangat menyentuh pula pada kesejahteraan serta masa depan kami sebagai pegawai. Kami ingin menyampaikan informasi tentang “Kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil (PNS)”, yang bersumber dari buku yang berjudul “Mengetahui dan Mematuhi Hak Rakyat Miskin; Merupakan Kewajiban Bersama Dalam Menyukseskan Program Pro Rakyat”, diterbitkan oleh SMS 9949 dan PO Box 9949 Jakarta 10000, cetakan April 2008, hal. 20, sebagai berikut:
1) Pemerintah meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri dengan menaikkan gaji setiap tahun, yang besarannya sesuai kemampuan negara, di samping pemberian gaji ke-13. Sebagai contoh untuk PNS golongan 1/a pada tahun 2006 dinaikkan gajinya sebesar 44,5% dari Rp. 692.750 menjadi Rp. 1 juta. Pada tahun 2007 kenaikkan gaji golongan 1/a sebesar 28,54% atau dari Rp. 1 juta menjadi Rp. 1.285.400.
2) Total pendapatan PNS terutama golongan terendah (1/a) ditingkatkan secara signifikan dan konsisten, dari Rp. 692.750 per bulan pada tahun 2005 menjadi Rp. 1 juta per bulan pada tahun 2006 atau naik 44,5%. Dan pada tahun 2007 meningkat kembali manjadi Rp. 1.285.400 per bulan atau meningkat 28,5%.
3) Tahun 2008 gaji PNS naik lagi. Berkaitan dengan hal ini pada tanggal 25 Februari 2008 Dirjen Perbendaharaan Departemen Keuangan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Perbendaharaan Nomor SE-12/PB/2008 tentang penyesuaian besaran gaji pokok PNS, Hakim Peradilan Umum, Hakim Peradilan Tata Usaha Negara, Hakim Peradilan Agama, anggota TNI, dan anggota Polri.
4) Dalam SE itu disebutkan pembayaran gaji bulan April 2008 harus sudah menggunakan besaran gaji pokok baru. Untuk kekurangan pembayaran gaji bulan Januari –Maret 2008 diupayakan dapat dibayarkan pada April 2008.
5) Gaji pokok terendah untuk PNS mulai tahun 2008 sebesar Rp. 910.000 dan tertinggi sebesar Rp. 2.910.000.

Mudah-mudahan saja apa yang terbaik bagi kita, bangsa, dan negara ini segera dapat kita capai, sehingga kita terlepas dari ancaman keterpurukkan. Tak lupa pula, kita sebagai SDM bangsa ini (di lembaga dan bidang apa pun), mari kita junjung tinggi semangat profesionalisme yang pada akhirnya kita akan menjadi bagian dari komponen pegawai yang profesional dan senantiasa menyadari atas segala kelemahan, serta berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi masing-masing.

Sumber bacaan:
Bambang Prajitno, SH., MM., Paparan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Negara, Deputi Mensesneg Bidang SDM, Jakarta : 2008
Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum., Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sektretariat Negara RI, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI, Jakarta : 2008
Sardan Marbun. Editor, Mengetahui dan Mematuhi Hak Rakyat Miskin; Merupakan Kewajiban Bersama Dalam Menyukseskan Program Pro Rakyat, SMS 9949 dan PO Box 9949 Jakarta 10000, Jakarta : 2008

Oleh: atep t hadiwa js | November 15, 2008

ATLAS KABUPATEN CIAMIS, SEBUAH KARYA BESAR

atlas ciamisSebulan yang lalu sekolah kami menerima sebuah atlas, yang di covernya tertulis judul “ ATLAS KABUPATEN CIAMIS”, lengkap dengan ilustrasi gambar bola dunia, disertai logo kabupaten Ciamis, serta keterangan substansi isi peta, meliputi: data dan lokasi sekolah, data dan lokasi wisata, data dan lokasi industri, data dan lokasi pertambangan, dll. Atlas Kabupaten Ciamis cetakan pertama November 2007 itu disusun oleh dua penyusun muda berbakat yakni Tohirin dan Dadi Ahmad Fauzi, dan diterbitkan oleh CV. Wahana Karya Grafika, terdiri dari 39 halaman.

Sungguh, atlas tersebut merupakan suatu karya yang sangat membanggakan dan cukup monumental bagi Kabupaten Ciamis dalam perjalanannya melakukan berbagai pembenahan dalam rangka membangun daerah sesuai dengan visi dan misi pemerintah Kabupaten Ciamis. Atas diterbitkannya atlas tersebut, saya sebagai warga tatar galuh Ciamis merasa sangat bangga dan sangat terkesan, karena paling tidak sebagai warga Ciamis akan memiliki panduan yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang geografi dan demografi Ciamis. Selain itu, atlas itu pun akan sangat membantu pembaca untuk menemukan petunjuk dan informasi sesuai dengan substansi isi yang disertakannya. Mewakili warga ciamis, saya igin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada tim penggagas, terutama pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis.

Namun di samping kebanggaan itu, tidak salah rasanya jika saya mencoba menyajikan tanggapan tentang atlas tersebut. Paparan tanggapan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kekurangan atau kesalahan, karena jujur saja, bahwa saya pun bukan seorang ahli atau orang yang mengetahui banyak tentang peratlasan atau perpetaan. Paparan ini hanya dimaksudkan sekedar menyampaikan harapan saja, agar pada suatu saat dapat ditemukan “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang benar-benar akurat dan tepat.

Paparan ini dilatarbelakangi oleh temuan-temuan setelah mencoba membaca dan mencermati atlas tersebut. Informasi utama yang dapat diperoleh dari atlas tersebut, merupakan temuan awal yang mudah dipahami yakni meliputi; (1) data dan lokasi sekolah, (2) data dan lokasi wisata, (3) data dan lokasi industri, serta (4) data dan lokasi pertambangan. Keempat substansi isi itu merupakan informasi umum dari sajian atlas tersebut. Temuan-temuan mengenai aspek isi/materi, penyajian, dan kegrafikaan merupakan hal yang sesungguhnya yang harus tersaji di dalamnya. Bertemali dengan hal itu, berikut ini merupakan hasil temuan yang didasarkan pada ketiga aspek tersebut.

Aspek isi/materi
Dari aspek isi/materi, didapat suatu temuan yang terus terang saja terkesan bahwa atlas tersebut terlihat belum lengkap. Satu contoh, misalnya mengenai informasi ‘data dan lokasi sekolah’. Barangkali yang dimaksud dengan ‘data dan lokasi sekolah’, dalam pandangan awam saya akan menyajikan data sekolah lengkap dengan nama sekolah atau alamat, mulai dari tingkat TK sampai dengan PT, juga dipetakan dalam atlas secara akurat (posisi yang sebenarnya). Namun, ternyata ada temuan yang menunjukkan kekuranglengkapan baik data, juga peta, antara lain:
(1) Data sekolah tingkat SD dan MI hanya ditulis dalam daftar sekolah saja pada bagian halaman/lembar peta tertentu per-kecamatan. Padahal, peta setiap kecamatan tersebut masih terlihat kosong dan masih mungkin untuk menyajikan berbagai informasi dan gambar lainnya. Jadi temuannya, bahwa sekolah tingkat SD/MI tidak dipetakan dalam atlas tersebut. Pemetaan hanya dibatasi mulai dari tingkat SMP/MTs, SMA/MA, dan PT saja. Sebaiknya pemetaan sekolah disajikan secara menyeluruh dari tingkat TK sampai dengan PT, dan dilengkapi dengan keterangan nama atau alamat sekolah. Kemudian secara keseluruhan, atlas tersebut sebenarnya hanya menyajikan pemetaan saja, informasi datanya terkesan sangat kurang. Bahkan ada hal yang sangat penting dan seharusnya disajikan dalam atlas tersebut, ternyata belum lengkap juga. Hal dimaksud adalah informasi data dan peta tentang kantor lembaga/instansi tertentu, misalnya Puskesmas, Polsek, Koramil, atau kantor-kantor layanan masyarakat lainnya, mengingat hal tersebut merupakan aspek penting dalam suatu peta wilayah dan pemerintahan.
(2) Secara keseluruhan, sajian substansi isi atlas sebagaimana tertulis pada halaman jilid (cover), tampaknya terkesan belum terpenuhi. Mengapa demikian? Karena substansi isi yang seharusnya disajikan, meliputi; data dan lokasi sekolah, data dan lokasi wisata, data dan lokasi industri, data dan lokasi pertambangan, masih belum memberikan informasi yang jelas dan lengkap. Padahal, pembaca akan benar-benar berharap memeroleh data tentang substansi isi atlas tersebut, dan menemukan pemetaan setiap lokasi dengan tepat.

Aspek penyajian
Terkait dengan aspek penyajian, mungkin dapat disampaikan bahwa hasil temuan pemetaan wilayah Kabupaten Ciamis tersebut, sebaiknya perlu diperbaiki dengan melibatkan berbagai unsur, lembaga, atau ahli yang berkompeten di bidangnya. Sekalipun pada dasarnya bahwa sebagian besar pembaca adalah kalangan yang awam dan buta tentang atlas, namun tidak ada salahnya apabila aspek penyajian atlas tersebut tetap berupaya untuk menyajikan atlas yang menarik dengan isi dan ilustrasi yang tepat. Alasannya, karena beberapa temuan berikut, antara lain:
(1) Atlas tersebut memetakan wilayah setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis. Dengan pemetaan setiap kecamatan itu, berarti wilayah yang dipetakan menjadi semakin sempit dan semakin khusus, sehingga ilustrasi peta kecamatan itu pun menjadi lebih luas karena dipetakan dalam satu halaman. Jadi, peta setiap kecamatan yang disajikan terkesan masih kosong dan masih memungkinkan untuk diisi dengan keterangan, gambar, pemetaan lainnya.
(2) Ada kesan yang benar-benar cukup menggangu ketika membaca atlas tersebut, yaitu adanya duplikasi atau penyertaan cetakan peta secara dua kali dengan cara ditempel pada beberapa halaman (peta kecamatan tertentu). Tidak jelas maksudnya, apakah merupakan ralat kesalahan atau dimaksudkan untuk hal lain. Yang jelas, dari aspek sajian hal ini cukup menggangu, dan terkesan menunjukkan bahwa atlas tersebut belum selesai proses editing.

Aspek kegrafikaan
Dari aspek kegrafikaan, tata letak dan ketepatan lokasi yang dipetakan menjadi hal yang sangat penting diperhatikan, karena jika terjadi kesalahan akan mengakibatkan informasi peta itu pun menjadi salah. Memerhatikan hal tersebut, ada beberapa temuan yang terkesan menunjukkan informasi yang salah, di antaranya:
(1) Di peta Kecamatan Cihaurbeuti misalnya, tidak ditemukan peta lokasi SMPN 1 Cihaurbeuti yang berada di wilayah Desa Sukamulya, yang ada adalah SMAN (tidak jelas SMAN apa?). SMAN 1 Cihaurbeuti dipetakan berada di wilayah Desa Cihaurbeuti, padahal SMAN 1 Cihaurbeuti tersebut sebenarnya berlokasi di Desa Pamokolan. Selain itu, ada beberapa penempatan gambar yang salah, misalnya gambar kantor Desa Pamokolan berada di sebelah kanan jalan propinsi, padahal yang sebenarnya kantor desa tersebut berada di sebelah kiri jalan provinsi.
(2) Di peta Kecamatan Panumbangan juga terjadi kesalahan yang sama, misalnya; di wilayah Desa Medanglayang dipetakan ada Pusat Kerajinan Ijuk, padahal selama ini Pusat Kerajinan Ijuk hanya ada di wilayah Desa Panumbangan dan Desa Sukakerta. Contoh lain; SMPN 1 Panumbangan dan SMK Bhakti dipetakan berada di sebelah kanan jalan propinsi, padahal posisi yang sebenarnya kedua sekolah tersebut berada di sebelah kiri jalan. Ditemukan pula kesalahan pemetaan gambar kantor Desa Tanjungmulya, seharusnya berada di sebelah kiri jalan propinsi sebelum SMK Bhakti. Di peta tersebut digambarnya keduanya berada di sebelah kanan jalan, padahal yang sebenarnya berada di sebelah kiri jalan. Lebih tidak dipahami lagi ketika ditemukan di peta, kantor Kecamatan Panumbangan berada jauh dari wilayah Desa Panumbangan. Kantor tersebut dipetakan berada di wilayah Desa Sukakerta, padahal kantor Kecamatan Panumbangan sebenarnya berlokasi di Desa Panumbangan. Di peta wilayah Kecamatan Panumbangan juga tidak ditemukan pemetaan SMPN 2 Panumbangan yang berlokasi di Desa Sindangherang.
(3) Temuan lainnya masih terdapat di peta Kecamatan Panumbangan, yakni pada penggambaran ruas jalan raya (jalan propinsi). Jalan raya propinsi di wilayah Kecamatan Panumbangan membentang dari perbatasan Kecamatan Cihaurbeuti sampai dengan perbatasan Kecamatan Panjalu. Sepanjang ruas jalan raya tersebut, sebenarnya berada di wilayah Kecamatan Panumbangan, namun di peta terkesan terputus di sekitar wilayah Desa Sindangherang, seolah-olah ada sebagian jalan raya tersebut berada di wilayah kecamatan lain.
(4) Di peta wilayah Kecamatan Panjalu, SMPN 1 Panjalu dipetakan berada sebelum kantor Kecamatan Panjalu, padahal seharusnya SMPN 1 Panjalu berlokasi setelah kantor kecamatan tersebut. Sedangkan di peta wilayah Kecamatan Sukamantri, tidak ditemukan pemetaan SMPN 2 Sukamantri yang berlokasi di Desa Sindanglaya.

Beberapa temuan tersebut adalah hasil mencermati dari peta wilayah sebagian kecamatan saja, namun tampaknya dapat dijadikan suatu dasar, dan akan menunjukkan suatu indikasi bahwa pemetaan pada wilayah kecamatan-kecamatan lainnya tidak akan jauh berbeda. Temuan-temuan itulah yang menjadi latar belakang paparan ini, dan sebagai warga tatar galuh Ciamis saya berharap akan terbit lagi “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang lebih jelas, akurat, dan lengkap. Oleh karena itu, dalam pandangan awam saya barangkali dalam hal menyusun dan menerbitkan sebuah atlas, harus benar-benar didasarkan pada informasi yang lengkap dan sangat perlu melibatkan lembaga/instansi, atau ahli yang berkompeten di bidang pemetaan. Terlepas dari hal itu, “ATLAS KABUPATEN CIAMIS” yang sudah terbit, tetap menjadi karya yang sangat besar.

Oleh: atep t hadiwa js | November 3, 2008

BAGASPATI GUGUR (cerita wayang)

Di kahayangan Jonggirisalaka ada tiga ksatria bersaudara yang sakti mandraguna. Mereka juga pelindung dan panglima perang yang tangguh. Tiga ksatria itu yang tertua bernama Angganapati, kedua Angganaputra dan yang ketiga Angganamurti. Ketiga bersaudara itu selalu berhasil mengamankan kahayangan Marcapada dan Suralaya dari gangguan para perusuh.

Bathara Guru sangat senang dan bangga dengan ketiga ksatria itu sehingga ingin memberikan hadiah kepada Angganaputra.
“Angganaputra, aku bangga atas kemampuanmu yang telah berhasil menjaga keamanan kahyangan Jonggirisalaka ini. Untuk itu aku akan memberikan hadiah kepadamu. Pilihlah salah satu bidadari yang sesuai dengan hatimu.”
Angganaputra memperhatikan semua bidadari yang hadir mengiringi Bathara Guru. Semuanya tampak cantik dan tanpa cacat, tetapi hanya satu bidadari yang menjadi pilihannya.
“Terima kasih, atas hadiah yang Bathara Guru berikan. Semua bidadari ini terlihat cantik, tetapi bidadari yang menjadi pilihan hamba adalah Dewi Uma.”
Mendengar jawaban Angganaputra, membuat Bathara Guru kaget karena yang menjadi pilihan Angganaputra adalah Dewi Uma, isteri Bathara Guru sendiri.
“Angganaputra, pilihlah bidadari lain karena Dewi Uma adalah isteriku sendiri.”
Namun, Angganaputra terlanjur memilih Dewi Uma. la tidak ingin bidadari lain.
“Bathara Guru harus menepati janji yang sudah diucapkan sendiri,” kata Angganaputra.
Bathara Guru menjadi murka melihat sikap Angganaputra yang keras kepala, maka dengan kesaktiannya, Bathara Guru bersabda;
“Hei… Angganaputra, engkau sekarang menjadi raksasa!”
Ucapan sakti itu seketika merubah ujud Angganaputra menjadi raksasa. Anggana¬murti menjadi marah melihat kakaknya berubah ujud menjadi raksasa. Dia segera menyerang Bathara Guru. Sabda Bathara Guru kini beralih kepada Angganamurti.
“Angganamurti, engkau berubah men¬jadi burung Cakakak!”
Setelah keduanya berubah ujud, mereka meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Keduanya minta supaya dikembalikan ke ujudnya semula.
“Baiklah, permintaanmu dapat terkabul, tetapi syaratnya kalian harus berkelakuan baik dan banyak amal.
“Namun, bagaimana dengan ujud saya yang menjadi raksasa ini?”
“Angganaputra, pergi dan bertapalah kamu ke gunung Argabelah! Namamu kini kuganti menjadi Begawan Bagaspati.”
“Angganamurti, sekarang kau menjadi burung penghias di kahyangan Suralaya.”

Beberapa puluh tahun kemudian, di pertapaan Argabelah Begawan Bagaspati tampak sedang bingung karena memikirkan permintaan puterinya, Dewi Pujawati yang cantik dan berwujud manusia biasa. Dewi Pujawati telah menceritakan mimpinya.
“Ayah, semalam Pujawati mimpi bertemu satria rupawan. Aku ingin kenal satria itu, Ayah,” kata Dewi Pujawati.
“Siapa nama satria itu, Pujawati?”
“Saya tidak tahu, Ayah.”
Begawan Bagaspati yang sakti itu mendapat firasat bahwa satria yang ada dalam mimpi putrinya itu saat ini tengah mengembara di gunung Argabelah.
Bagaspati kemudian menjelajahi hutan belantara untuk mencari satria bagus itu. Walaupun Begawan Bagaspati berujud raksasa, tetapi sikap dan tata kramanya sangat halus. Setelah bertemu dengan satria yang dimaksud putrinya, Begawan Bagaspati mempersilahkan satria yang, bernama Narasoma itu untuk singgah di Padepokan Argabelah.
“Raden, semoga Raden sudi singgah di Padepokan saya untuk beristirahat.”
“Terima kasih, Begawan Bagaspati. Saya menjadi heran dengan sikap Begawan yang sopan, tidak seperti lazimnya raksasa.”
Setelah Narasoma duduk di balai, dari dalam padepokan muncul puteri cantik yang andaluwes. Tingkah laku puteri itu sangat menarik hati Narasoma.
“Anakmas Narasoma, perkenalkan ini adalah puteriku yang bernama Pujawati.”
Melihat kehadiran Dewi Pujawati itu membuat mata Narasoma seakan tidak mau lepas untuk mengagumi. Dewi Pujawati ternyata sangat berbeda dengan Begawan Bagaspati yang berujud raksasa.
“Raden Narasoma, perkenalkan saya adalah Pujawati, puteri Begawan Bagaspati.”
“Pujawati, betulkah pria ini yang ada dalam impianmu?” ujar sang Begawan.
“Benar, Ayah. Satria inilah yang ada dalam mimpi Pujawati.”
Begawan Bagaspati orang yang sakti itu maklum dengan kedua remaja yang saling tertarik itu. Keduanya kemudian dinikahkannya.

Begawan Bagaspati sangat sayang pada menantunya. Semua ilmu kesaktian yang dimiliki diajarkan kepada Narasoma, mem¬buat Narasoma kini memiliki kesaktian yang hampir sebanding dengan Bagaspati sendiri. Bedanya, sang Begawan masih memiliki satu ilmu ampuh dan senjata yang bernama Aji Candabhirawa. Narasoma ingin memiliki senjata itu melalui akalnya yang licik.

Pada suatu hari, Narasoma dan Pujawati daiang menghadap Begawan Bagaspati dan menceritakan mimpinya semalam.
“Begawan, semalam saya mimpi melihat sekar pundak putih. Saya ingin memetik sekar itu, tetapi sekar itu dijaga harimau putih.”
“Apakah harimau itu bersikap galak atau malah bersikap bersahabat?”
“Harimau itu bersahabat dengan saya sehingga saya tidak tega untuk membunuhnya, tetapi saya menginginkan sekar itu.”
Begawan Bagaspati segera tanggap apa yang menjadi kemauan menantunya itu.
“Baiklah Narasoma, saya mengerti apa yang menjadi keinginanmu. Aku rela memberikannya, namun syaratnya, kamu tidak boleh kawin dengan wanita lain kecuali dengan Pujawati.”
“Aku sanggup dan berjanji.”
Setelah mendengar janji dari Narasoma, Bagaspati memberikan Aji Candabhirawa. Begawan Bagaspati juga memberi petunjuk di mana rahasia kematiannya.
Narasoma menarik Aji Candabhirawa dari ikat pinggang Bagaspati dan ditusukkan ke lambungnya. Bagaspati pun gugur dan ditangisi oleh Pujawati.

Narasoma kemudian mengajak isterinya ke kerajaan Manduru untuk ikut sayembara adu ilmu kesaktian. Ketika Narasoma memasuki gelanggang sayembara terlihat oleh Puteri Dewi Kunti. Puteri itu kemudian mengalungkan kembang ronce ke leher Narasoma. Narasoma kaget atas pilihan Dewi Kunti itu. la teringat sumpahnya pada Bagaspati, namun Narasoma telah melupakan sumpahnya itu. la segera membawa Dewi Kunti ke luar dari gelanggang pertandingan. Tindakan Narasona itu segera diingatkan oleh Pujawati isterinya.
“Kang mas, engkau lupa akan janjimu pada ayah Begawan Bagaspati.”
“Ini bukan kemauanku Pujawati, tetapi kemauan Dewi Kunti sendiri.”
“Sikap Kangmas kini berubah sombong, ingat janji Kangmas dahulu!”
Merasa dapat memenangkan sayembara menyebabkan Narasoma semakin pongah. Dia sering memamerkan kesaktiannya.

Pada suatu hari, datanglah satria dari Astina yang bernama Pandudewanata. Satria Astina itu menjadi muak melihat Narasoma yang sombong. Karena belum kenal, Narasoma sudah berani menantang berkelahi. Pandudewanata pun meladeni tantangan itu, maka terjadilah pertarungan. Narasoma kalah, Pandudewanata berhasil menekan Narasoma masuk ke bumi sampai sebatas dada.
“Aku mengaku kalah, Raden. Dewi Kunti dan Dewi Madrim, aku serahkan kepada Raden.”
“Baiklah, aku terima.”
Setelah persoalan dengan Pandudewanata selesai, Narasoma kemudian membawa Pujawati ke kerajaan Mandaraka untuk menghadap kepada ayahnya, yaitu Raja Mandarapati.
“Apakah ini isterimu yang bernama Dewi Pujawati itu, Anakku?” tanya sang ayah.
“Ya, Ayah. Inilah puteri dari Begawan Bagaspati.”
“Bagaimana kalau nama Pujawati Ayah ganti menjadi Dewi Setyawati?”
Sejak saat itu Narasoma diberi kepercayaan kepada Raja Mandarpati untuk mengendalikan kerajaan Mandaraka.
(oleh atep t. hadiwa, dari berbagai sumber)

Pada 16 September 2008, tanpa diduga saya mendapat kiriman sebuah buku kumcer berjudul ‘Perempuan Bergaun Putih’ yang ditulis oleh sahabat saya yang sama-sama berprofesi sebagai guru, Sawali Tuhusetya. Kumcer cetakan pertama itu, diterbitkan BUKUPOP bekerjasama dengan Maharini Press pada Mei 2008, terdiri atas 20 judul cerita, setebal 164 halaman. Pak Sawali membubuhkan tulisan tangan dan tandatangannya pada halaman judul kumcer itu. Tulisan tangan itu tiada lain, yakni “hanya sebuah kesaksian terhadap nasib rakyat kecil yang tersingkir dan disingkirkan”. Kalimat itu saya pandang sebagai kalimat kunci untuk membantu menafsirkan makna dan tema cerita dari setiap cerita di dalam kumcer itu. Paling tidak, pak Sawali telah berusaha menyampaikan pesan yang diilhami oleh berbagai peristiwa yang disaksikan dan dirasakannya sebagai suatu kesaksian. Saya memandang pula, adanya penggunaan kata-kata sebagai judul setiap cerita yang sangat khas. Itu pula yang menjadikan salah satu kekuatan sang pengarang untuk mewarnai kesan cerita, yang memang berawal dari kesaksian dalam berbagai peristiwa. Namun tak harus demikian, karena setiap pembaca akan memiliki tafsiran makna yang berbeda-beda. Tentunya setiap cerita bukan hanya untuk dinikmati saja, tetapi juga akan menimbulkan manfaat dan pengaruh lain kepada setiap pembacanya. Pembaca akan merasakan, memahami, menerima, atau memikirkan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita itu.

Paparan ini tidak saya maksudkan sebagai resensi terhadap kumcer ‘Perempuan Bergaun Putih’, atau mencoba-coba menilainya. Namun, hanya sebagai pengantar saja karena saya telah menggunakan kumcer ini sebagai materi pembelajaran sastra pada siswa di sekolah saya. Maka, dengan penuh hormat saya mohon pak Sawali mengizinkan dan tak merasa berat hati.

Dalam pembelajaran sastra di kelas 9 MTs As Sakinah, salah satu cerita dari kumcer ini, yakni ‘Perempuan Bergaun Putih’, saya jadikan sebagai materi sastra untuk diapresiasi siswa. Setelah mengapresiasi, selanjutnya para siswa diminta untuk mencoba berimajinasi dengan membuat lanjutan cerita. Tidak diberikan batasan apakah menambah atau mengakhiri cerita, namun saya hanya mencoba meminta mereka menyusun beberapa paragraf cerita yang disesuaikan dengan cerita yang telah dibacanya. Dari sejumlah cerita yang disusun para siswa itu, saya sengaja menentukan beberapa di antaranya untuk diposting dalam paparan ini. Hasil kreativitas mereka itu, seperti berikut ini.

1) Penulis : Mariam, kelas 9a MTs As Sakinah

Dengan penuh perasaan takut dan khawatir kini semua warga melewati hari-harinya di tempat penampungan. Mereka semua berharap, keadaan kampung mereka bisa kembali normal seperti semula. Namun, walaupun begitu, mereka selalu berusaha untuk tetap tegar dan semangat dalam menjalankan kehidupannya. Semua itu mereka lakukan demi kelangsungan hidup keluarga mereka, terutama anak-anak mereka yang masih mempunyai masa depan yang masih panjang.
Sekelompok perempuan bergaun putih mengajak warga untuk bersama-sama membasmi burung gagak yang telah memaksa warga utnuk meninggalkan kampung mereka. Pada awalnya warga kampung merasa ragu. Namun, setelah beberapa saat mereka memikirkan hal itu, pada akhirnya semua warga menyetujuinya dan sepakat akan melaksanakannya pada malam itu juga.
Ketika sore hari tiba, warga kampung terlihat sibuk mempersiapkan peralatan yang akan mereka gunakan untuk membasmi burung gagak. Ada yang membuat ketapel, ada yang membuat panah, ada yang menyiapkan jaring, dan ada pula yang memasang jebakan. Setelah selesai melaksanakan sholat isya, semua warga yang akan ikut membasmi burung gagak berkumpul dan bersiap-siap untuk bergegas pergi ke kampung mereka. Sebelum mereka berangkat, mereka berdoa bersama terlebih dahulu.
Pada akhirnya burung gagak pun bisa dibasmi sampai tak tersisa satu pun. Semua warga bisa kembali menempati rumah mereka masing-masing. Semua warga sangat berterima kasih kepada sekelompok perempuan bergaun putih. Di balik musibah yang telah terjadi, warga mendapatkan pelajaran selama tinggal di pengungsian, yaitu betapa indahnya arti kebersamaan, saling membantu, dan saling berbagi, walaupun mereka sedang berada dalam keadaan yang sulit. Warga kampung tak merasa menyesal sedikit pun atas musibah yang telah terjadi. Mereka menganggap bahwa semua itu merupakan sebuah teguran dari yang maha kuasa, supaya mereka lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dan kini, semua warga pun hidup bertetangga dengan rukun, damai, dan saling membantu satu sama lain.***

2) Penulis : Ela Ruslia, kelas 9b MTs As Sakinah

Di tempat itu, orang-orang kampung terlihat sedih karena mereka kehilangan harta bendanya, keluarganya, dan kehidupannya yang dulu. Tetapi di tempat itu juga, terlihat kebersamaan karena mereka menerimanya dengan penuh kesabaran dan tawakal. Tetesan air mata selalu mereka jatuhkan setiap harinya. Jeritan, tangisan, selalu hadir di setiap harinya dan menusuk hati setiap orang. Dan di tempat itu juga mereka merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka berkata, “kita harus sabar, sabar, dan sabar”.
Siang maupun malam, perempuan bergaun putih selalu menengadahkan tangannya dengan penuh keikhlasan, dan jeritan hati yang meminta pertolongan dengan kesabaran hati. Mereka yakin, bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan kepada manusia di luar kemampuannya. Hal itu membuat mereka menjadi terus bersemangat dan menjalankan kehidupannya dengan penuh senyuman, meskipun mereka berada di tengah-tengah kesengsaraan.
Siang berganti malam, malam berganti siang, hari demi hari pun telah dijalani. Musibah dan cobaan telah dilalui dengan penuh kesabaran dan berserah diri. Dibalik musibah itu, mereka mendapatkan hikmah dan mereka juga telah belajar sabar di tengah-tengah kesengsaraan. Dengan musibah itu, mereka semakin yakin bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan kepada manusia di luar kemampuannya, buktinya mereka bisa melewati semua musibah yang menimpa mereka, dan mereka merasa senang karena telah berhasil menghadapi ujian yang diberikan-Nya.
Setelah kampung halaman mereka membaik, mereka bergotong-royong memperbaiki tempat tinggalnya dan membuat kampung itu menjadi lebih hidup dengan dihiasi oleh senyuman dan kasih sayang, sehingga bisa tercipta kerukunan.***

3) Penulis : Irfan Tsani S., kelas 9a MTs As Sakinah

Warga mematuhi tetua kampung itu, dan setiap harinya warga beriring-iringan sambil membawa barang-barang dan piaraannya masing-masing menuju ke penampungan utnuk menghindari perempuan bergaun putih yang berada di kampung itu. Karena takutnya, salah seorang warga tak mau kembali ke kampungnya, takut sekelompok perempuan bergaun putih datang lagi, dan lembah kematian terus menguntit merenggut jiwa mereka.
Setelah sekian lama mereka tinggal di penampungan, merasakan tak memadai lagi tempat yang mereka gunakan, dan sudah mulai jenuh. Tetua kampung mengajak warga untuk kembali ke kampung mereka, karena merasa kasihan melihat banyaknya warga yang mulai jatuh sakit. Dengan merasa takut dan jiwa terganggu, mereka mencoba melangkah pulang. Lamban ceritanya, tak terasa sudah satu minggu perpindahan kembalinya dari penampungan, warga merasa tenang karena tidak munculnya lagi perempuan bergaun putih.
Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, telah mereka lewati dengan rasa tenang, tentram, dan damai. Tetapi sekelompok perempuan bergaun putih itu datang lagi ke kampung mereka. Warga mulai lari kocar-kacir, ke sana ke mari, untuk menyelematkan dirinya. Dengan rasa penasaran, tetua kampung mencoba menghampiri perempuan bergaun putih itu, ternyata tak disangka-sangka yang dilihat itu… itu… itu… itu?
Itu sekelompok ibu-ibu majlis ta’lim dari mesjid kampung tetangga yang mengelilingi kampung-kampung sekitarnya, yang bertujuan untuk berdoa supaya kampung-kampung sekitar terhindar dari bencana.***

Oleh: atep t hadiwa js | Oktober 1, 2008

MENYOAL ‘SIKAP’ PASCA IDUL FITRI

Sebulan penuh seluruh muslim dan muslimat melaksanakan ibadah dalam bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Ritual ibadah utamanya adalah berpuasa dengan mengatur pola dan waktu makan serta minum. Sementara aktivitas ibadah tambahan sepanjang siang sampai malam pada bulan itu, tetap menjanjikan pencapaian pahala ibadah yang tak terbandingkan dan selalu menjadi harapan setiap yang melaksanakannya. Sebagaimana ritual ibadah-ibadah manusia terhadap sang kholiq lainnya, berpuasa di bulan Ramadhan pun menggariskan dua fungsi yang saling bertemali. Pertama, secara horizontal setiap individu harus memahami nilai absolut yang tak dapat diukur dengan ketajaman logika, keluasan wawasan, kepandaian berpikir, atau ketinggian penguasaan ilmu. Namun, dalam tataran horizontal ini setiap manusia akan bertanggungjawab langsung kepada Alloh Subhanahuwataala. Jawaban terhadap nilai ibadahnya dengan sang Kholiq dalam konteks ini akan dirasakan sendiri oleh setiap pribadi,bahkan dalam kolbu yang paling dalamnya manusia tak akan pernah membohongi dirinya sendiri. Kualitas ibadah seperti apa yang telah dilakukannya? Sanggupkah menggapai titik maksimal sehingga mencapai fitrah dalam satu hari yang fitri? Dalam hal ini sesungguhnya manusia dalam keadaan diuntungkan, karena nilai absolut tadi telah diarahkan secara jelas dalam Agama Islam. Intinya tataran horizontal dalam menjalankan ibadah ini, manusia akan mengomunikasikannya langsung dengan sang Kholiq.

Kedua, secara vertikal setiap individu akan mendapat pembelajaran bagaimana agar hidup menjadi mudah. Mengapa demikian? Karena dalam hidup dan kehidupan, sedetik pun setiap individu tak akan terlepas dari individu lainnya. Artinya sebagai mahluk sosial, interaksi dengan sesama mahluk lainnya akan membentuk tiga aspek penting, yaitu moral, etika, dan ahlak. Yang pada akhirnya kualitas ketiga aspek itu akan sangat mewarnai keberhasilan hidup baik secara individu, maupun secara kolektif. Fungsi tataran vertikal inilah yang sebenarnya menjadi pelatihan selama Ramadhan, agar manusia memiliki kualitas moral, etika, dan ahlak sesuai dengan nilai-nilai agama pada pascaramadhan. Apa sebenarnya pembelajaran manusia dari pelaksanaan ibadah bulan Ramadhan itu? Yang paling utama adalah hati, pikiran, dan perasaanlah yang harus menguasai dan mengendalikan hawa nafsu. Betapa bukan, karena pembelajaran seperti mengatur pola dan waktu makan serta minum saja, jelas memerlukan keberhasilan setiap individu untuk mengendalikan hawa nafsu. Maka, sikap sabar dalam hal ini akan terlatih. Hal itu hanyalah contoh kecil saja, lebih mendalam lagi pembahasannya akan menyentuh setiap sendi kehidupan mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga /organisasi swasta atau pemerintah, berbagai kalangan; petani, buruh, karyawan, pegawai pemerintah, praktisi, birokarasi, politisi, seniman, budayawan, dsb. Mungkin selama Ramadhan kualitas moral, etika, dan ahlak setiap individu dalam berbagai sendi kehidupan itu akan sedikit mencerahkan.

Dalam setiap sendi kehidupan, akan terlihat keharmonisan yang begitu bersahaja. Tak ada marah di antara anggota keluarga, kebersamaan memikul tanggung jawab diperlihatkan oleh buruh, karyawan, dan pimpinan, saling memahami dan menghargai dikembangkan para birokrasi dan politisi, disiplin dalam berbagai kegiatan dilakukan para seniman dan budayawan. Mereka saling membatasi diri; tidak berani marah, tidak bertindak semena-mena, tidak otoriter, selalu menghargai bawahan, malu untuk saling menjilat, enggan melakukan KKN, dll. Begitu indah dan mencerahkan jika terjadi pula pada pascaramadhan. Barangkali harapan tetap ada, kesempatan itu telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal kita saja sebagai mahluk mampu membenamkan seluruh pembelajaran itu, dan melaksanakannya kembali dalam kehidupan pascaramadhan ini. Mudah-mudahan saja.

Hari Raya Idul fitri, menjadi penghujung yang membatasi kembali benang merah kualitas sikap; moral, etika, dan ahlak. Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi individu yang berhasil mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan terlewat. Idul Fitri menjadi hari kebebasan setiap individu dari ujian yang sangat berat itu. Namun, kita mesti hati-hati jangan sampai hari penghujung Ramadhan itu menjadi hari kemenangan dan kebebasan bagi syetan sehingga kembali menjiwai hawa nafsu setiap manusia, yang akhirnya manusia akan kembali terjerumus pada sikap; moral, etika, dan ahlak tidak terpuji yang berseberangan dengan nilai-nilai agama. Ya Rabb, ampunilah kami, tetapkanlah kami dalam sikap seperti pada bulan yang penuh rahmat itu, berikan petunjuk untuk kehidupan yang lebih baik pada masyarakat, bangsa, dan negara ini. Amin.

Oleh: atep t hadiwa js | September 30, 2008

MALAM LEBARAN

Yang terhormat teman dan rekan bloger di mana pun,
saya mengucapkan selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin

Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar
Laaillahailallohu Allohu Akbar
Allohu Akbar walillahilham

Gema takbir selimuti cakrawala
renungan dan pengakuan atas kebesaran dan keagunganNya
tak ada yang lebih pantas kecuali bersyukur dalam segenap nikmatNya
sebulan sudah menutup warsa dalam setahun
sebelas bulan telah kita tulisi lembar kehidupan
kodrat manusia sebagai mahluk tak bisa lepas dari salah, khilaf, alfa, dan dosa
bulan penuh berkah dan rahmat telah kita lewati
kita tak tahu,
kemampuan iman kita apakah menjadi pahala?
hanya setiap jiwa akan menjawab pada dirinya sendiri
sebulan sudah kejernihan jiwa sesungguhnya akan teruji
maha besar Alloh,
telah memberikan kesempatan untuk kembali mencapai fitrah
kami hanyalah mahluk kecil dan tak berdaya
ampunanMu terlalu agung bagi kami yang berlumuran dosa
dalam hari pengampunan yang fitri ini,
ya ibu dan ayahku,
ya kakak dan adikku,
ya saudara dan handai tolan,
ya sahabat dan kerabat,
ya teman dan rekan,
ya sejawat dan pimpinan,
ya segenap muslim dan muslimat,
ampunilah segala salah, khilaf, alfa, dan dosa ini
dalam rajutan kasih sayang bersama rahmat dan ridhoNya.
Amin.

Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar
Laaillahailallohu Allohu Akbar
Allohu Akbar walillahilham

Oleh: atep t hadiwa js | September 30, 2008

IDUL FITRI

Maha besar Allah
kau ciptakan hari yang agung,
hari bertabur kasih dan sayang,
kau izinkan kami untuk menggapai fitrah,

tak ada sekutu bagiMu ya Rabb
pengakuan setiap jiwa yang terdalam
setiap kami hanya mengumbar hawa nafsu
jiwa kami selalu berselimut dosa
badan kami selalu berhiaskan noda
mengapa kami selalu bangga dengan noda dan dosa

puji kami hanya padaMu ya Rabbi,
syukur kami hanya padaMu ya Ghofur,
izinkan kami untuk pandai menerima segalanya;
segala khilaf,
segala alfa,
segala salah,
segala dosa,
semuanya selalu kami perbuat
ampunan dalam belaianMu tak terhingga ya Rabb
dalam Idul Fitri ini,
kami serahkan segenap jiwa dan raga ini,
hanya milikMu,
Maha besar Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun.

Oleh: atep t hadiwa js | September 25, 2008

MAUNG PANJALU

Cerita Rakyat “Legenda Kerajaan Panjalu”
(Disunting oleh Atep T. Hadiwa Js. dari R. Hendar Suhendar, SH., Sejarah Panjalu, 2007)

Raja Majapahit ‘Prabu Brawijaya’ duduk termenung menyendiri dalam belaian malam yang sunyi-sepi, kerlipan ribuan bintang di angkasa membawa pikirannya menerawang mengagumi keindahan malam dan menyadari akan keagungan Sang Maha Pencipta. Bak cahaya emas, sang bulan pun menemani sang raja memanjakan perasaannnya pada malam itu. Sayup-sayup hembusan angin mendendangkan nyanyian begitu mendayunya.

“Ah… ya”, gumamnya.
“Betapa pentingnya persatuan demi keutuhan Negara, disertai dengan ikatan persahabatan dengan bangsa dan negara lain. Betapa tidak? Daripada menggantungkan diri pada negara lain, menaklukkan negara lain dengan penuh kebencian dan kekejaman”, lanjut sang raja dalam hatinya.

Pikiran itu terus menari-nari sepanjang malam dalam dirinya, sehingga akhirnya munculah keinginannya untuk menciptakan suatu ikatan hubungan dengan negara Padjadjaran di Pasundan dengan cara melaksanakan perkawinan. Malam pun semakin jauh tanpa terasa, udara semakin dingin menusuk menyelinap setiap pori. Sang raja masih memikirkan keinginannya itu. Tak terasa, malam pun akan segera berganti siang, sang raja menyempurnakan menunggu esok dengan secercah harapan.

Pagi hari yang cerah, kehangatan matahari pagi membelah embun yang menyelimuti jagat raya. Sang raja berseri-seri memanggil patih utuk menyampaikan segala rencananya semalam. Niatnya untuk menyampaikan pinangan kepada keturunan Negara Padjadjaran, disampaikannya kepada ki patih dengan harapan dapat menjalin ikatan antar negara. Serta-merta ki patih pun mengindahkan keinginan sang raja. Dikumpulkannya sejumlah prajurit untuk melaksanakan niat sang raja tersebut. Perjalanan menjuju Negara Padjadjaran bukan hal ringan, ki patih beserta rombongan harus menempuhnya dengan waktu yang bukan sebentar. Maka, segala persiapan dan perbekalan yang dibutuhkan dikumpulkannya dengan lengkap. Berangkatlah ki patih beserta rombongan disertai seorang mentri dari Majapahit menuju Padjadjaran. Sepanjang perjalanan begitu berat, hutan belantara, semak belukar, kali dan sungai harus mereka lewati. Pantang menyerah seluruh rombongan, keinginan sang raja harus dilaksanakan dan pantang dibantah. Akhirnya, sampailah rombongan patih Majapahit di Padjadjaran. Mereka disambut dengan ramah oleh raja Padjadjaran beserta pengisi istana lainnya.

Setelah rombongan patih Majapahit melepas lelah beberapa saat, pertemuan dengan raja Padjadjaran pun dimulai. Mentri dari Majapahit menyampaikan amanat rajanya, dikuatkan dengan sepucuk surat. Menurut raja Padjadjaran, surat lamaran itu diartikan sebagai ajakan raja Majapahit untuk bersaudara, menjalin silaturahmi, dan akan sangat menghormati kalau saja niatnya disetujui. Tak lama raja Padjadjaran berpikir, putri raja ternyata menyetujuinya dan raja pun menerimanya dengan senang hati, bahkan ditetapkan pula hari perkawinan pada pertemuan itu. Alangkah gembiranya ki patih Majapahit beserta rombongan mendengar keputusan itu, tak lama kemudian mereka berpamitan untuk kembali ke Majapahit dan menyampaikan hasil pertemuannya dengan raja Padjadjaran.

Sesampainya di Majapahit, mentri bersama ki patih segera menghadap sang raja. Disampaikannya segala keputusan hasil pertemuan dengan raja Padjadjaran. Raja Majapahit sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa niatnya untuk meminang putra raja Padjadjaran, telah diterimanya. Dengan hati yang sangat gembira, raja Majapahit tak menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera berangkat menuju Padjadjaran untuk menyampaikan ikatan tali kasih dengan putri Kencana Larang. Pernikahan antara keduanya pun berlangsung dengan sangat meriah. Kini sang putri Kencana Larang resmi diperistri oleh raja Majapahit.

Seminggu setelah perkawinan, diboyonglah sang putri ke Majapahit. Keduannya saling memadu kasih dan menikmati bulan madunya di Majapahit sampai pada beberapa bulan berlalu. Pada suatu ketika, putri Kencana Larang menyampaikan kepada suaminya bahwa ia sedang berbadan dua. Mendekati usia kandungan sembilan bulan, tersirat dalam hatinya ingin merencanakan dan menyatakan kepada Prabu Brawijaya untuk pergi ke Padjadjaran.

“Tuanku, raja buah hati izinkanlah hamba untuk pergi menemui ayahnda dan ibunda. Alangkah bahagianya hati jika pada waktu melahirkan disaksikan oleh ibunda, ayahanda, dan suami tercinta. Maka hamba mohon agar tuanku tidak keberatan”, pinta putri Kencana Larang kepada suami tercintanya.
“Tidak layak kanda melepas kepergian melati sanjunganku sendiri dalam keadaan begitu ke Padjadjaran, seharusnya tangan kanda sendiri yang harus meletakkan puspa hatiku pada putri aslinya. Namun kiranya dinda dapat memafkan kanda, bila karena kepentingan negara kanda mewakilkan pengantaran dinda ke Padjadjaran kepada salah seorang mentri saja”, kata Prabu Brawijaya setelah putri Kencana Larang tak dapat dihalangi dan dilarang lagi.

Alangkah bahagianya hati putri, lalu berangkatlah dengan diusung menuju ke Padjadjaran tanah Pasundan. Sementara sang raja Prabu Brawijaya merasa sangat sedih dan mencucurkan air mata.

Berpuluh-puluh hari rombongan putri Kencana Larang menempuh perjalanan menuju Padjadjaran. Suatu ketika sampailah rombongan putri di suatu tempat yaitu Ciamis. Mereka tak menyadari bahwa mereka telah sampai di wilayah Jawa Barat, yaitu di kaki gunung Syawal daerah Ciamis Barat. Di situlah sang putri merasakan bahwa kandungannya yang berusia sembilan bulan sudah terasa mual-mual seperti mau melahirkan. Maka ketua rombongan segera memerintahkan agar perjalanan dihentikan. Putri Kencana Larang meminta untuk dibuatkan tempat untuk berteduh dan melahirkan nanti. Anggota rombongan pun segera melaksanakannya, dibuatkannya sebuah bangunan sederhana di pinggir sungai citanduy. Dengan cepat bangunan itu diselesaikannya dan cukup untuk berlindung sang putri dan rombongan, terutama dari ancaman binatang buas.

Banginda putri berseru: “Kita menumbangkan kayu-kayu yang banyak untuk membuat bangunan ini, mari kita namakan tempat ini, Panumbangan”.

Di bangunan sederhana pinggir sungai citanduy itulah akhirnya sang putri melahirkan dua anak, yang satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Keduanya sangat tampan dan cantik, seperti Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Bali yang menyertai kelahiran kedua anak itu dimasukkannya ke dalam dandang tanah (pendil), kemudian dikuburkan di bawah pohon yang rindang. Selag beberapa lama, putri telah merasa sehat dan kuat kembali lalu melanjutkan perjalanannya, dan pada akhirnya tibalah di istana Padjadjaran. Ayahanda, ibunda, dan seisi istana menyambut kedatangan sang putri dengan kedua bayi dengan penuh haru, sedih, dan gembira. Diceritakanlah oleh sang putri segala pengalaman dalam perjalanannya, sampai-sampai sang putri melahirkan di perjalanan menuju Padjadjaran. Kedua bayinya belum sempat diberi nama, maka baginda raja Padjadjaran memberi nama pada bayi laki-laki “Bongbang Larang” dan bayi perempuan diberi nama “Bongbang Kencana”.

Sekian lamanya “Bongbang Larang” dan “Bongbang Kencana” diasuh oleh kakek dan neneknya. Kedua anak itu tumbuh dengan sehat, dan sampailah pada usia akhir baligh. Namun sampai itu pula kira-kira berusia 15 tahun, mereka belum mengetahui siapa ayahnya, karena seisi kerajaan merahasiakannya. Raja Padjadjaran sangat takut jika kedua cucunya meninggalkan istana untuk mencari ayahnya. Prabu Brawijaya belum juga datang menengok atau mengutus orang lain untuk datang ke Padjadjaran. Sementara tali bathin antara Majapahit dan Padjadjaran terus menghubung tak pernah putus. Kedua anak itu setiap malam menjelang tidur selalu memikirkan siapa ayah yang sebenarnya, bertanya kepada siapapun selalu dijawab bahwa ayahnya adalah raja Padjadjaran.

Sampai pada suatu saat, Bombang Larang mendesak seorang emban yang mengasuhnya. Dia sangat ketakutan dan kebingungan untuk mengatakan yang sebenarnya, karena akan terancam hukuman yang berat jika membocorkan rahasia itu, sementara ia pun sangat berat sekali untuk terus berdusta. Akhirnya si emban pun terpaksa karena didesak terus, mengatakan dengan terbata-bata bahwa ayah mereka adalah “Prabu Brawijaya” raja Majapahit.

Sejak saat itu Bongbang Larang telah mengetahui siapa ayah yang sebenarnya. Maka perasaan rindunya pun semakin tak dapat dibendungnya. Pada suatu malam Bombang Larang menghampiri kakenya raja Padjadjaran, untuk meminta izin menemui ayahnya di Majapahit. Kakenya sangat heran, darimana dia tahu semuanya itu. Namun, Bongbang Larang teringat akan janjinya dan tak memberitahukan siapa yang telah memberi tahu dirinya. Raja Padjadjaran tak rela melepas Bongbang Larang pergi dari istana, apalagi pergi ke Majapahit. Akhirnya dihampirilah ibunya untuk meminta do’a restu pergi ke Majapahit. Namun, sang ibu sedang terlelap tidur dan Bongbang Larang tak kuasa untuk mengganggunya. Dia hanya berlutut dan bersujud pada ibunya dalam keadaan tertidur. Akhirnya pergilah Bongbang Larang meninggalkan istana. Keesokan harinya sepengisi istana sibuk mencari Bongbang Larang yang telah pergi, namun tak ditemukan. Akhirnya raja Padjadjaran memberitahukan kepada putri Kencana Larang pergi ke Majapahit menemui ayahnya. Kini Bongbang Kencana menyusul kakanya dan bertemu, lalu diceritakanlah apa yang terjadi di istana, maka berangkatlah bersama-sama untuk menemui ayahnya di Majapahit.

Berbulan-bulan perjalanan, sampailah mereka di ‘Panumbangan’. Mereka sangat dahaga, hingga menemukan dangdang di bawah pohon yang rindang, yang tiada lain dangdang itu adalah tempat mengubur bali mereka ketika dilahirkan, yang tanah penimbunnya telah hanyut oleh air. Karena sangat dahaga Bongbang Larang segera mengangkat dangdang itu dan meminumnya langsung. Namun apa yang terjadi? Dangdang itu jatuh sampai mencakup kepalanya. Dia berusaha untuk mengeluarkan kepalanya dari dangdang, tetapi sia-sia belaka. Bongbang Kencana memukul dangdang itu, namun tak juga pecah. Akhirnya dibimbingnya Bongbang Larang oleh Bongbang Kencana untuk menemui seseorang bernama ‘Aki Garahang’. Kepada Aki Garahang diceritakannya tentang meraka, hingga kejadian dengan dangdang itu.

“Ini perjalanan dari anak berdua. Segala pekerjaan yang tidak direstui orang tua akan berakhir pada sesuatu yang tak diharapkan. Juga cara minum langsung dari dangdang itu, bukannya cara yang baik. Baiklah bapak akan berusaha menolong kalian”, kata Aki Garahang.

Aki Garahang bersemedi memohon petunjuk untuk melepaskan dangdang itu dari kepala Bongbang Larang. Hasilnya, bahwa dangdang itu bisa dipecahkan dengan menggunakan ‘Kujang Pusaka’. Setelah berhasil menemukan Kujang Pusaka, Aki Garahang memukulkannya pada dangdang yang mencakup kepala Bongbang Larang. Pecahlah berkeping-keping dangdang itu, dan kelana Padjadjaran pun terlepas dari marabahaya. Aki Garahang meminta kepada keduanya untuk tak meneruskan perjalanan, dan memintanya untuk menetap di dalam beberapa hari. Diterimanya dengan baik permintaan Aki Garahang itu oleh Bongbang Larang dan Bongbang Kencana. Esok harinya Aki Garahang akan pergi dan berpesan kepada kedua anak itu utnuk tak bermain-main di ‘Cipangbuangan’. Cipangbuangan adalah tempat yang airnya sangat tenang, jernih, dan menyegarkan. Kedua anak itu tak sadar dan tak ingat pesan Aki Garahang, lalu turun sekedar menyegarkan badan. Namun, ketika beranjak muncul mereka terperanjat kaget dan saling melihat, ternyata mereka telah berubah wujud menjadi harimau (maung). Dengan sangat menyesal keduanya pulang ke rumah Aki Garahang.

“Aki, tak bisa berbuat seuatu apa pun. Itu karena akibat kelalaian anak berdua, tidak mengindahkan petuah orang tua yang telah banyak makan asam-garam”.

Kedua hariamau itu menerima kesalahannya, kemudian tanpa bertanya apa-apa lagi mereka pamit meneruskan perjalanannya. Ketika mereka menyeberangi kali Cimuntur, mereka hampir-hampir mati terkena jeratan ‘Bole Akar Oyong’. Beruntunglah mereka terlepas dari bahaya itu, namun mereka dihanyutkan Cimuntur yang deras. Bongbang Larang tersedot air yang mengalir melalui selubung batang enau yang terbelah sehingga dia terjepit oleh ‘selubung gawul’ (penangkap ikan). Masih mujur karena seorang petani dapat menolongnya ke darat. Atas permintaan Bongbang Larang, bungbung yang menyelubunginya dibelah dengan kampak, tetapi tak berhasil. Setelah itu keduanya dibawa ke hadapan raja Panjalu di Dayeuh Luhur. Raja dengan mudah dapat melepaskan selubung bahaya itu, dan sebagai rasa terima kasih mengucapkan janji :

“Hamba turun-temurun tak akan mengganggu keturunan Panjalu, kecuali mereka yang minum langsung dari dangdang, membuat pembuluh tidak dibelah, dan menanam oyong”.

Janji itu dikuatkan oleh mantra panjalu. Setelah itu kedua harimau meneruskan perjalanan menuju Majapahit, yang akhirnya sampai juga mereka di sana. Penjaga pintu yang mulanya mengusir mereka, kedua harimau itu mengutarakan bahwa mereka ingin bertemu dengan Prabu Majapahit. Baginda berkenan menerima dan menemui tamu yang aneh itu. Sambil mencucurkan air mata, keduanya mengisahkan perjalannya sejak berangkat dari Padjadjaran sampai tibanya di Majapahit kepada baginda. Prabu Brawijaya memeluk kedua putra dan putrinya dengan penuh tangis seraya berkata: “Malang tak dapat disangkal, tapi sejak saat ini kuangkat nanda sebagai Raja Harimau di Pasundan”.

(Cerita rakyat “Maung Panjalu”, yang telah menjadi cerita turun-temurun. Dari cerita ini, terbentuklah satu bentuk seni di daerah sekitar Panumbangan yaitu tari “Bongbang”)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori